
Aku bukan rahim cadangan
Part 220
Kini hanya ada aku dan mas Aska yang saling memunggungi setelah mbak Lidia beserta teman-teman ku yang lain pergi. Kami saling berdiam dan berjauhan, dia lebih memilih untuk berdiri di dekat jendela setelah sebelumnya menerima telepon dari seseorang dan aku lebih memilih untuk tetap duduk di sofa. Yang aku fikirkan saat ini adalah mencoba untuk mengulang dan mengingat kembali tujuan dari merahasiakanya pernikahan ini, ku cari jawabanya satu per satu dan jawaban yang pertama adalah karena dia masih harus tinggal di USA pada saat itu. Dan setelah pulang? Kenapa masih juga merahasiakanya? Dan jawabanya karena aku, aku yang merasa masih kurang nyaman dengan setatus ku pada saat ini. "Jadi benar donk? Aku yang salah?" gumam ku
Ku lirik suami ku yang saat ini masih setia dengan posisinya yang memunggungi ku.
Aku beranjak untuk mendekatinya, ku rasa dia sedang marah besar saat ini "Mas..." panggil ku lembut
"Hemmm..." jawabnya yang tak menoleh sedikit pun
"Aku mau minta maaf, mungkin aku yang salah karena membiarkan masalah ini terlalu berlarut-larut, tapi kamu tau kan? Kalau Itu semua karena aku masih membutuhkan waktu untuk siap dengan semuanya?"
"Hem... Syukurlah kalau kamu menyadairi kesalahan mu."
"Jadi, kamu sudah nggak marah kan?" tanya ku kemudian
"Nggak" jawabnya singkat
__ADS_1
"Hemmm.... Kalau pengumumanya waktu resepsi kan lebih romantis." ucapku, ku peluk dia dari belakang, sedikit merayu tidak dilarang untuk mengembalikan mood pasangan kita bukan?
"Memangnya selama ini saya kurang romantis?" Tanyanya kemudian
"Tapi akan lebih mengesankan kalau pengumumanya pake gaun dan jas yang indah, bukan pake piyama gini." keluh ku dengan masih memeluknya
"Drama korea apa lagi yang memberi refrensi atas pengaguman romantis itu Debby?"
"Kok drama korea?" selah ku
"Ya, piyama juga romantis, bukanya itu juga berhubungan dengan ranjang?" jawabnya santai, namun tetap tidak beranjak dari posisinya yang membelakangi ku.
"Sayang, tak bisah kah berbicara menghada ke arah ku?" tanya ku kemudian
Ia bergeming sesaat
Aku berjinjit, mencoba melihat apa yang sedang dilakukan olehnya, karena dia terlihat sangat tenang, mataku membulat sempurna saat aku tau apa yang dia lakukan ditengah masalah peliknya rumah tangga kami "Apa? Apa yang sedang kamu lakukan mas?" tanyaku
"Mengirim pesan"
__ADS_1
"Jadi dari tadi? Itu yang kamu lakukan mas?"
"iya, Emang kamu fikir saya ngapain dari tadi?"
"Kamu nggak merenung?"
"Merenung? Memangnya apa yang harus saya renungi?" jawabnya santai
Oh may god, benarbenar diluar dugaan, begitu seriusnya aku merenungi dan mencari solusi, begitu mudahnya dia mematahkan dan mengabaikan aku dengan ber-chat ria.
"Bukankah kita ada masalah, mas? Kenapa malah bermain handpone?" tanyaku kemudian
"Saya fikir masalahnya sudah selesai. Bukankah kamu tadi sudah meminta maaf dan saya sudah memaafkan."
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..
__ADS_1