
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 92
"Nggak papa kok Bunda."
"Pasti Nak Teddy lelahkan?Ayo mari masuk dulu, biar Bunda buatin teh hangat."
"Nggak Bunda, saya senang bisa mengantar Debby." Jawabku, pandangan bunda beralih ke Arah Debby yang masih tidur pulas di pundakku.
"Debby... Bangun Deb..." bunda menggoncang tubuh Debby lebih kasar. Tapi bukan Debby namanya kalau di bangunkan langsung bangun. Ternyata sifatnya yang itu tetap saja tidak berubah. Aku hanya bisa tersenyum membayangkan satu tahun yang lalu saat Debby tinggal bersamaku dan betapa susahnya aku saat harus membangunkannya. Bunda tampak terlihat bingung.
"Debby! Bangun!" Sentak Bunda menepuk punggung Debby dengan kasar.
"Bundq..." Debby terperanjat dan turun dari motornya.
"Dikasih ijin keluar sekali saja malah jam segini baru pulang. Ndak akan Bunda biarkan lagi kamu keluyuran malam- malam!" Omel Bunda pada Debby, Debby hanya bisa menunduk dan meminta maaf pada bundanya."
__ADS_1
"Maaf Bun".
"Masuk!" Seru bunda. Aku hanya bisa tersenyum melihat Debby yang begitu cerewet di luar tapi begitu di kandangnya begitu tunduk dan patuh.
"Nak Teddy bawa aja motornya, Ndak papa daripada harus nunggu taksi lagi." Kata Bunda setelah Debby masuk ke dalam rumah.
"Nggak usah Bun, saya sudah pesan taksi. Sepertinya sudah ada di depan. Ini kuncinya, saya permisi. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, hati- hati ya nak..."
Aku mengistirahatkan tubuhku begitu sampai di hotel, ku regangkan semua otot- otot ku yang kaku. Aku sangat lelah setelah seharian aku berkutat dengan berbagai kegiatan dan tanpa istirahat sama sekali, aku tau aku termasuk pekerja keras tapi aku baru sadar kalau tubuhku ini bukan robot yang tidak bisa merasakan lelah. Ku pejamkan mataku.
Derrrrt... Pesan masuk di ponselku, ku buka dan ku baca.
Kakek [Kakek tunggu di rumah sakit besok]
"Ya Allah, ada apa lagi ini? Hari Minggu harus ke Rumah Sakit?" Ku letakkan ponselku di sisi ranjang tempat tidur sebelahku, ku pejamkan mataku, rasa kantukku sudah tak bisa di tahan lagi, berharap hari esok lebih baik dari hari ini.
__ADS_1
Keesokan harinya, Aku bangun lebih siang tak seperti biasanya. Ku sempatkan untuk tidur lagi setelah selesai menunaikan ibada subuh. Aku tinggal di hotel jadi tak perlu menyisihkan waktu untuk memasak. Aku bangun pukul 9 pagi, aku terperanjat saat mengingat pesan dari kakekku. Ku buka gawaiku. Panggilan tak terjawab dari kakekku sudah berbaris begitu panjang dan banyak dilayar ponselku. Aku segera pergi ke kamar mandi dan meluncur ke Rumah sakit.
Tok...tok...tok, ku ketuk ruangan kerja Kakekku setibanya aku dirumah sakit.
"Assalamualaikum profesor" Sapaku seraya membuka pintu.
"Waalaikumsalam. Masuk! Kenapa jadi tidak terlambat? Bukannya hari ini seminar free?" Tanya kakek begitu aku masuk keruangannya, bahkan sebelum aku duduk.
"Maaf, aku ketiduran kek. Kakek mau membicarakan apa? Sampai hari Minggu harus bertemu ke Rumah sakit?"
"Memangnya kamu mau? Ke rumah kakekmu?" Ku garuk-garuk tengkukku yang tidak gatal, mendengar jawaban yang begitu menusuk dari kakekku. Pasalnya aku memang selalu menolak saat kakek menyuruhku untuk berkunjung kerumahnya, bukan tanpa alasan, disana ada beberapa kerabat yang memandangku sebagai anak durhaka karena melawan saudaranya yaitu Papa.
"Apakah benar kamu melamar Debby, yang bertugas di bagian UGD itu?"
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1