Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Prov Debby


__ADS_3

Jujur saat ku buka membukakan mataku aku sangat terkejut, dan Aku masih bingung kenapa bisa ada di tempat dokter Tedi, yang ku ingat hanyalah malam itu aku membeli kopi dicafe dan kepala terasa pusing di depan cafe,seterusnya aku tak mengingat apa yang terjadi.


"Arrgh... Yang penting saat ini aku masih perawan" kataku mengacak rambutku, aku kesal karena tak mengat sedikit pun setelah aku membeli kopi.


Notifikasi pesan masuk di ponselku yang ku letakkan di atas nakas di samping tempat tidur.


062xxx : [sudah bisa buka pintu, jangan lupa dimakan supnya keburu dingin. Jangan lupa kunci pintu kalau berangkat kerja.


Tedi]


Ku baca pesan, yang ternyata dari dokter Tedi. Aku menghela nafas panjang dan tak berselang lama, Pesan kembali masuk di ponselku


Alex : [Deb, mana helm ku, bentar lagi mau pulang nih]


"Waduh, tadi dokter Tedi lupa bawa helmnya nggak ya?" Gumamku. Segera ku hubungi nomor dokter Tedi. Ia pun mengangkatnya.


"Halo dokter?" Sapaku


"Ya,"


"Dok, Alex cari helmnya, dokter bawa nggak helmnya?" Tanyaku panik.


"Oh iya saya lupa Deb, saya masih di luar ini, kamu kirim nomor Alex sama saya, nanti biar saya sendiri yang ngomong sama orangnya." Jawabnya, ku tutup telepon dan seperti perintah dokter Tedi, aku segera mengirimkan nomor ponsel Alex pada nya.


"Nggak biasanya dokter Tedi masih di luar jam segini? Atau tadi yang Dateng itu pacarnya ngajakin jalan? Makanya aku dilarang nggak boleh keluar? Ah sudah lah, bukan urusanku juga." Batinku menerka, segera ku sadarkan diriku dari pikirkan tentang dokter Tedi, yang terpenting bagiku saat ini adalah segera mencari tempat kos baru untuk sementara waktu, karena tak mungkin aku terus tinggal di sini.


Ku alihkan pandanganku pada meja di sebelahku, sup ayam dan bubur sudah tertata rapi di sana, membuat perutku semakin ingin diisi olehnya. Ku ambil dan ku makan satu suap bubur.

__ADS_1


"Bubur apa? Aneh rasanya? apa sup orang USA rasanya emang kayak gini?" Kali ini ku rasakan dengan penuh perasaan " tapi enak, nggak mungkin bikin, pasti beli" ucapku sambil menikmati sup dan bubur itu hingga tak tersisa.


Setelah makanan ku habiskan, tak lupa aku mencuci piring bekas makanku di dapur, karna aku tau diri uda dikasih tempat tinggal dan disiapkan makanan. Kulihat dapur yang minimalis dan sangat bersih, seperti tak pernah di gunakan."bersih kan dapurnya? Ku bilang juga apa, nggak mungkin masak sendiri." Ku buka kulkas mencari minum Karen tenggorokanku terasa sangat haus setelah sarapan tadi, tanganku pun terhenti, saat kulihat sebuah tulisan menempel di pintu kulkas, yang berbunyi DiLARANG MINUM MINUMAN DINGIN, KARENA MINUMAN DINGIN TIDAK BAIK UNTUK KESEHATAN.


"Apa maksudnya coba? Kenapa aku merasa tersindir?" Gumamku, ku urungkan niatku untuk mengambil air dingin. Ku ambil gelas dan mengambil air hangat dari dispenser lalu meminumnya.


Setelah semua bersih dan perutku kenyang, lalu aku segera mandi, hari ini aku harus secepatnya mencari tempat kos. Tak lupa pula, ku kunci pintu seperti apa yang diperintahkan oleh dokter Tedi padaku.


Aku hubungi teman- teman ku, mungkin mereka bisa membantu ku mencari informasi tempat kos yang harganya miring dan ku datangi satu per satu, namun belum ada yang cocok. Kebanyakan tempat kos tidak khusus putri aku pun enggan, sekalinya ada yang cocok dan khusus putri harganya wow selangit.


Aku pun segera pergi ke rumah sakit setelah jam sudah mendekati pergantian shift sore. Sampai di Rumah sakit, aku mencari dokter Tedi, aku harus menyerahkan kunci apartemen padanya sebelum dia pulang, ku cari di ruangannya, namun ruangan itu kosong. Ku putuskan untuk mengirim pesan padanya.


Debby : [Dokter dimana? Bisa kita ketemu, mau kasih kunci apartemen]


Tedi : [Saya lagi sibuk, nanti saya pulang sama kamu aja.]


Debby : [Maaf dokter, hari ini saya masih mau cari kos]


Tedi : [besok saja cari kost kalau pulang shift pagi]


"Shift pagi bukannya masih lusa?" Gumamku memasukkan ponsel ke dalam tas.


Aku pun berjalan menuju ruang ganti, baru aku sadari dari tadi banyak yang tersenyum padaku, ada pula yang memandangku dengan sinis. Aku membalas mereka dengan senyuman manis. Ku lihat penampilanku tak ada yang aneh. Lalu mengapa mereka bersikap tak biasa seperti itu?


"Deb..." Panggil Mbak Lidia, yang sudah aku hafal betul suaranya. Ia berlari kecil menghampiriku.


"Deb, apa bener kamu semalam pulang bersama dokter Tedi? Terus makan malam di warung sate depan gedung Adijaya itu?" Tanya Mbak Lidia sambil menatap mataku lekat- lekat. Ku palingkan wajahku dari mbak Lidia.

__ADS_1


"Kata siapa?" Jawabku sesantai mungkin, walau sebenarnya hatiku berdegup kencang.


"Kata Alex, bahkan dokter Tedi tadi transfer uang ke Alex buat ganti helmnya yang ketinggalan di warung sate itu. Alex bilang kamu yang minjem."


"Alexxxx...." Teriakku, sekarang aku tau penyebanya kenapa mereka semua memandangku seperti itu, ternyata inilah jawabannya, akhirnya apa yang ku khawatirkan semalam terjadi juga, salah paham.


"Eh, udah nggak usah teriak- teriak, lagian harusnya kamu seneng bisa makan bareng dokter Tedi yang gantengnya auto ful nggak ada duanya gitu. Sampai-sampai suamimu aja kalah deb." sindir mbak Lidia


Deg... Kata mbak Lidia mengingatkan ku pada kejadian semalam yang membuatku teringat akan kekejaman suami dan istri pertamanya itu.


"Eh kok kamu malah bengong sih Deb?" Kejut mbak Lidia membuyarkan semua lamunanku.


"Udah ah mbak aku mau kerja" pamitku, tak mungkin aku mengatakan atau menceritakan nasipku pada mbak Lia bahwa sekarang aku sudah menjadi Janda, selain belum siap, aku juga malu karena tak pernah mendengarkan kata- kata mbak Lidia selama ini. Aku hanya merasakan pernikahan dalam hitungan Minggu dan sukses membuatku menyandang status Janda bukan lah hal yang membanggakan untuk di publikasikan.


Notifikasi pesan kembali masuk di ponselku.


Mas Doni : [Deb, ku tunggu di cafe dekat rumah sakit.]


Jantungku serasa mau copot melihat pesan dari mantan suamiku itu. Suhu tubuh ku mulai memanas, mengingat perlakuan mereka semalam. Aku tak menghiraukannya dan segera mengganti pakaian ku dengan seragam.


Mas Doni : [Akan aku tunggu sampai kamu datang]


Pesan kembali masuk di ponselku.


"Memangnya aku peduli" gumamku dalam hati.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2