Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
makanan favorit


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 192


"Cobain ni makanan favorit Mama sama Teddy." Kata Tante Widya menyodorkan sebuah piring yang setahuku itu adalah udang saus Padang.


"Ma... Debby." Ku tarik ujung jas suamiku dan ku beri kode untuk diam, dia pasti akan mengatakan bahwa aku alergi udang. Ku rasa makan satu dua biji tidak akan menimbulkan alergi, daripada harus mengecewakan orang tua.


"Makan satu dua aja nggak papa, bukankah kamu dokter, bisa kan mengobati istri sendiri." Bisikku.


"Apa?" Sentaknya.


"Kenapa?" Tanya Mama menatap kami bergantian.


"Nggak Tante, Mas Aska mau diambilin acar." Kataku beralasan.


"Teddy nggak suka acar Deb." Sahut Vannia, jawaban Vannia membuat hatiku terasa panas, aku bahkan belum tau mana yang disukai dan tidak disukai oleh suamiku, dan dengan entengnya Vannia berkata seperti itu seolah dia lah yang paling dekat dan mengenal suamiku.


Aku bergeming, Mas Aska menatapku.

__ADS_1


"Siapa bilang saya nggak suka acar, saya suka kok, tolong ambilin sayang!" Perintahnya padaku.


"Tapi Mas..."


"Udah ambilin aja."


Aku pun menuruti permintaannya. Ku ambil beberapa dan ku taruh di piringnya.


"Ambil lagi." Serunya, saat melihat aku hanya memberinya satu sendok acar.


"Udah ini aja." Tolakku. Dia pun mengambil beberapa sendok lagi lalu menyantapnya dengan lahap, Sepertinya dia sangat merindukan masakan rumahnya, karena belum pernah aku melihatnya makan selahap ini selain saat kami makan sate di depan gedung Atmajaya Group malam itu.


"Udah... Udangnya!" Seru Mas Aska seraya mengambil sisa udang dipiringku lalu memakannya.


Hingga ku sadari Vannia sedari tadi memperhatikan kami berdua, menatap lekat pada suamiku yang sedang menikmati masakan mamanya.


Ku tarik ujung jas mas Aska, dia menoleh dan melihat ke bawah, melihat tanganku yang sedang memberi kode seperti yang dia lakukan saat aku menjadi bridesmaid mbak Lidia, Kode bahwa aku mengawasinya. Mengawasi dari ulat bulu didepannya. Dia pun tersenyum, dan menangkap tanganku lalu menggenggamnya.


Beberapa menit setelah kami menyelesaikan makan malam kami.

__ADS_1


"Saya ke toilet dulu." Pamit Mas Aska yang terlihat buru- buru meninggalkan meja makan.


"Kamu tau Debby, apa yang dilakukan suamimu saat ini? Dia pasti sedang memuntahkan semua isi perutnya karena acar. Lihatlah! dari sini kamu akan sadar, bahwa nggak ada yang Mengenal Teddy lebih baik dari Vannia" Lirih Vannia, aku benar- benar muak dan merasa sangat jijik dengan wanita ini, perempuan macam apa dia, bahkan saat di samping suaminya pun dia masih menginginkan suamiku, Astaghfirullah.


"Kamu tau Vannia, terlalu mudah bagi kami kalau hanya mengurusi muntah karena acar!" Balasku.


Aku beranjak dari tempat dudukku.


"Maaf saya lihat suami saya dulu." Pamitku lalu meninggalkan meja makan, mencari keberadaan Mas Aska.


"Toiletnya, kamu lurus belok kanan" kata Tante Widya.


Ku buka ruangan yang tidak tertutup sempurna dan benar saja, suamiku sedang sibuk menguras isi perutnya. Ku hampiri dan kuberi tissu untuknya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2