Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Menembakku


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 50


"Sebenernya maunya dokter itu apa sih? Dari awal saya kesini saya sudah bilang mau pergi, tapi dokter selalu mengancam saya. Dan sekarang dokter mengatakan pada orang lain selayaknya Saya anak panti dan dokter adalah donatur panti! Saya punya harga diri dokter." Jelasku yang mulai tersulut emosi atas tingkah dokter Teddy.


"Kamu mau tau jawabannya? Apa kamu siap untuk mendengarkan jawaban dari saya?"


"Silahkan jawab saya akan mendengarnya dan setelah itu biarkan saya pergi!" awabku Ketus.


"Karena saya cinta sama kamu Debby." apa yang dikatakan dokter Teddy sukses membuat mataku terbuka lebar sempurna.


"Saya mencintai istri orang lain, saya berusaha menekan rasa cinta saya dengan bersikap kasar sama kamu, karena saya tau mencintai istri orang adalah suatu kesalahan." Jelasnya yang aku tak tau itu kebenaran atau kebohongan.


"Dokter lagi bercanda ya?" Tanyaku menunduk.


"Berapa kali saya bilang untuk menikah sama kamu, berapa kali juga saya harus menekan rasa sakit saya saat melihat kamu begitu mencintai laki-laki berengsek yang telah melukai perasaanmu dan harus menangis karenanya. Bahkan saya harus pintar menyembunyikan semua perasaanku untukmu agar kamu tetap nyaman bersama saya. Saya pikir saya akan menunggu sampai hati kamu bisa melupakannya dan dapat membuka lembaran baru bersamaku, tapi takdir berkata lain dan mengharuskan saya mengatakan semua ini sekarang."

__ADS_1


"Istirahatlah Deb, saya tidak memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Udara malam nggak baik untukmu yang tidak tahan dingin." Katanya mengambil koper dari tanganku dan membawanya kembali ke kamar setelah mengunci pintu apartemen. Aku hanya bisa termangu mendengar ungkapan dokter Teddy yang sangat mengejutkan bagiku.


"Apa tadi dia sedang menembakku?" Gumamku bingung. "Dokter, dokter nembak saya?" Tanyaku mengikuti langkah dokter Teddy menuju kamar.


"Nembak? Nggak." Jawabnya dengan terus melenggang ke kamar.


"Terus?"


"Ya masak saya nembak kamu saat masa Iddah!"


"Kamu mau saya ketemu Bunda sekarang dan melamar kamu sebelum masa Iddah kamu selesai? Sebelum saya pergi ke USA? Saya nggak mau."


"Ih jangan GR dok... Dokter bilang nggak nembak saya, kok ngelamar?"


"Suka- suka saya mau ngapain." Katanya meletakkan koperku kembali ke lemari.


"Dokter kok selalu gitu? Nggak jelas."

__ADS_1


Ia berbalik ke arahku dan mendekatiku, semakin aku mundur semakin dia mendekat. Dengan susah payah aku menelan saliva ku, tatapan dokter Teddy seolah menghunusku. "Selesaikan dulu masa iddah mu Debby!" Lirihnya yang mendekati wajahku.


"Tidur... Udah malem." Katanya lalu pergi. Ku hembuskan napas panjang.


"Kirain mau ngapain." Gumamku saat dokter Teddy sudah memegang gagang pintu.


"Kamu mau diapain Deb?" Tanyanya menggodaku.


"Nggak... S_saya mau tidur." Jawabku, aku naik ke ranjang dan berbaring memakai selimutku sebelum semua tambah berantakan.


"Kunci pintu dari dalam, Saya takut khilaf." Pesannya sebelum menutup pintu. Membuatku semakin bergidik ketakutan. Segera ku kukunci pintu kamar setelah dokter Teddy menutupnya.


Ku pejamkan mataku, namun perkataan dokter Teddy terus mengganggu pikiranku. Aku tak mau berasumsi terlebih dahulu walau tak bisa ku pungkiri bersamanya memang terasa nyaman. Tapi bagiku dia adalah sosok yang tidak bisa ku mengerti, caranya berpikir pun aku tak bisa mengikutinya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2