
Aku bukan Rahim Cadangan
Part 120
"Mama, Bunda... Teddi mau pamit." Kataku menghampiri mereka. Mereka pun beranjak dari tempat duduknya.
"Hati- hati ya sayang..." Kata Mama sambil memelukku.
"Ma, Teddy titip Debby ya. Bunda, Teddy titip Debby. kalau Debby butuh sesuatu atau ada apa- apa, langsung saja hubungi saya." Kejadian di rooftop tempo hari membuatku sangat khawatir terhadap Debby, menitipkan Debby pada Mama adalah yang terbaik, aku tau Mama pasti akan selalu lebih waspada dan akan membantu Bunda dalam mengurus Debby.
"Kamu tenang aja, Mama pasti tidak akan membiarkan kejadian buruk terjadi lagi pada menantu Mama." Jawab Mama dengan serius.
"Mama, pelankan suara Mama, nanti ada yang denger." Jawabku, ku letakkan jari telunjukku di bibir.
"Haiiih... Masih harus main rahasia- rahasiaan?"
"Tunggu sampai Teddy kembali" jawabku.
"Jangan khawatir Nak, semua akan baik- baik saja." Sambung Bunda.
__ADS_1
Akhirnya aku pergi dengan cintaku, dengan status berbeda. Sekarang aku sudah bukan dokter tampan yang lajang, tapi aku sudah menyqndang status sebagai seorang suami.
Tak sengaja saat aku menuju parkiran, aku berpapasan dengan suster Lidia.
"Suster..." Panggilku.
"Dokter? Belum berangkat?"
"Ni saya mau berangkat, O ya, suster mau nikah kan akhir bulan ini? Maaf saya nggak bisa datang."
"Hah? Darimana dokter tau?"
"Mengundang? Saya ngundang orang USA hanya untuk hadir di pernikahan saya? biaya pesawat sama kondangannya berapa? kalau harus balikin mahal?" Tanyanya bingung sambil menghitung jari.
"Debby... Awas kamu ya," gerutuku, dari gelagat suster Lidia aku tau bahwa dia tidak tau apa- apa soal undangan itu.
"Udah nggak usah mikir suster, Selamat, saya pergi dulu. Titip Debby ya!" Kataku lalu segera pergi.
Pov Debby
__ADS_1
Akhirnya aku pun harus rela melepas kepergian dokter Teddy, aku tak tau akan seperti apa hubungan kami Kedepanya. Yang pasti kami hanya bisa berusaha untuk sama- sama menjaga hati kami, untuk selalu sama- sama berusaha menjaga ikatan pernikahan ini, selebihnya biarlah Tuhan yang bekerja.
Aku bergeming setelah bayangannya benar- benar menghilang di balik pintu. Ku hela napas panjangku. Ku lihat jam dinding dan terus menghitung waktu Mundur. Tak berselang lama, terdengar suara pintu dibuka, aku menoleh. Bunda datang dari balik pintu. "Bunda..." Kataku dengan nada bergetar menahan sesak.
"Debby sayang... Kenapa ndduk?" Kata Bunda yang menghampiriku. Dan akhirnya tangisku pun pecah di kala Bunda semakin dekat dengan ku, ku peluk dan ku tumpahkan segal emosiku. Usaha ku untuk kuat dan ikhlas nyatanya tak semudah yang ku bayangkan.
"Sayang... Kenapa kok nangis?" Tanya Bunda sembari mengusap punggungku dengan lembut, Bunda adalah tempat ternyaman saat aku benar- benar membutuhkan seorang penopang, hanya dengannya lah aku berbagi selama ini.
"Debby... Debby melepasnya, dan tak tau kapan dia akan kembali kesini lagi. Debby harus menunggunya lagi." Kataku dengan isakanku.
"Menunggu akan menyakitkan jika yang di tunggu bukan lah siapa- siapa kita. Tapi menunggu akan lebih indah bila yang ditunggu adalah suami atau istri. Akan berbeda rasanya." Jelas Bunda, ku lepaskan pelukan ku perlahan dari Bunda.
"Bunda sedang menghiburku atau sedang membohongiku?"
"Debby, percaya lah. Nak Teddy orang yang baik dan bertanggung jawab.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1