Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Rumah mewah dan mega


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 189


"Mau- maunya kamu, masih banyak perawat pria. Jangan kesempatan kamu." Sinisnya.


"Aku cuma bersikap profesional aja kok ngak lebih, lagi pula kan rumah sakit kita terkenal dengan pelayanannya yang bagus." Sambungku.


"Selanjutnya?" Selanya.


"Mereka meminta aku untuk menjenguk kalau sudah selesai shift dan aku lupa."


"Kamu masih ingin menjenguknya?"


"Menurutmu? Bukankah kamu sudah ada disini, jadi sudah waktunya mereka tau tentang suamiku sekarang, Agar mereka berhenti mengejar-ngejar istri orang." Jelasku.


"Kamu yakin mau menyampaikan itu? Nggak yang lainnya?" Sindirnya.


"Bener..."


"Baiklah, besok saya temenin kami, sekalian kasih undangan untuknya!" Putusnya, lalu menyalakan mesin mobil dan melajukanya kembali.

__ADS_1


"Apa?" Aku tersentak dengan jawaban yang ia berikan, itu artinya dia akan mengundang para mantan di acara kami.


"Kita lihat apa yang akan kamu lakukan besok." Ancamnya, dari apa yang ku lihat aku sangat yakin bahwa dia masih menaruh curiga padaku. Tak hanya itu, dia terlihat mengirim pesan pada mbak Linda.


"Nih, ponsel kamu! Simpen yang baik, jangan sampai ada yang mencurigakan kalau saya cek!" Katanya mengembalikan ponselku. Segera ku terima dan ku buka pesan apa yang di tulis suamiku untuk mbak Linda lalu kubaca "Besok siang saya kesana." Gumamku membaca pesan itu. Ada yang sedikit mengganjal.


"Mas, bukannya mau menggurui, tapi malam ini aku shift malam, jadi habis makan malam aku langsung kerja. Apa nggak sebaiknya jenguk pagi? Selesai shift, agar aku bisa langsung pulang?" Tanyaku penuh dengan kehati- hatian.


"Saya sudah minta ijin untuk kamu nggak masuk dulu malam ini." Jawabnya santai, aku bingung dengan jawaban itu. Apa itu artinya dia sudah mengungkap tentang pernikahan kami? Ku tatap lekat wajahnya.


"Nggak usah khawatir, saya ijinnya pake ponsel kamu."


"Apa?" Tanyaku semakin terkejut. Segera ku buka lagi pesan teks ku. Dan benar saja dia sudah mengirim pesan pada bagian UGD yang mengatakan aku akan pergi ke acara pernikahan saudaraku. "Pantas, mbak Lidia tadi bilang gitu." Gumamku.


"Kita sudah sampai, ayo turun." Ajak suamiku.


Aku masih bergeming,


"Hei, kenapa?" Tanya Mas Aska menepuk pundakku, seketika lamunanku buyar.


"Iya..."

__ADS_1


"Mikir apa?"


"Nggak papa."


"Kamu takut? Atau ragu?" Tanyanya lagi.


Ku gelengkan kepalaku samar. Dia menghela nafas.


"Kamu keringetan gini, kamu sakit? Hem?" Tanyanya memeriksa keningku.


"Nggak... Aku nggak papa." Ku tepis tangan mas Aska.


"Debby... Kami bukan keluarga Doni kami keluarga Atmajaya." Ucapnya sambil memegangi tanganku. Tangan yang saat ini dingin bagaikan es batu.


"Iya..." Jawabku tersenyum samar.


Aku turun dari mobil, Mas aska menggandengku tanganku dan menuju rumah megah itu. Terlihat sudah ada Bu Widia dan Pak Atmaja di depan kami, sepertinya mereka sudah menunggu kami.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2