Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Tersulut Emosi


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 115


"Lalu, kenapa melarang saya untuk masuk?"


"Maaf dokter ini perintah."


"Siapa? Doni?" Tanyaku dengan nada yang mulai meninggi.


"Bu Widia dok, Mamanya Dokter memerintahkan untuk dokter tidak masuk menemui mbak Debby!"


"Apa? Bu Widia? Omong kosong apa ini." Kataku menerobos, namun mereka tetap menahan ku. Aku semakin kesal, ingin sekali tanganku melayang kewajah mereka tapi aku tau ini rumah sakit, dan aku bisa mengganggu ketenangan pasien lain.


"Awas ya kalian!" Ancamku, ku ambil gawai dan ku hubungi Mama,


"Halo Ma!" Sapaku setelah Mama mengangkat panggilan teleponku.


"Iya Teddy, kenapa?"


"Bener? Mama yang nyuruh dua orang ini untuk melarang Teddy ketemu sama Debby?" Ku alihkan panggilan suaraku ke Video call dan menunjukan wajah kedua pria itu pada Mama.

__ADS_1


"Iya, memangnya kenapa?"


"Ya Allah Mama... apa maksudnya coba?" Tanyaku dengan kesal.


"Teddy, Mama itu orang Jawa tulen. Kamu itu nggak boleh ketemu Debby sampai akad nikah." Jelas mama yang membuatku semakin tak mengerti dengan jalan pikiranya.


"Maksud Mama apa, kenapa Teddy tidak boleh menemui Debby?"


"Pamali Teddy Pamali."


"Anggap Teddy orang USA Ma, dan sekarang Mama suruh kedua orang ini untuk minggir!" Kataku yang mulai tersulut emosi.


"Mama, di Rumah sakit Debby itu adalah pasien Teddy, dan Debby butuh Teddy! Teddy belum melihat keadaannya seharian ini Ma." Sentakku yang sudah tak tahan lagi dengan perilaku Mama kali ini.


"Di rumah sakit kan dokter nggak cuma kamu Teddy, mending kamu kesini, mama mau bahas pernikahanmu. Atau Mama yang ke hotel kamu? Ini penting lo Ted, menyangkut permintaan Debby." Kata Mama, mendengar kata Debby aku mulai gelisah, semoga tidak ada yang serius. Ku tutup telepon, kali ini aku mengalah.


"Awas ya besok!" Ancamku pada kedua laki- laki itu sebelum aku meninggalkan tempat itu.


Di perjalanan pulang, aku hanya bisa mencoba untuk menghubungi Debby dan mencari alasan yang tepat karena tidak bisa datang mengunjunginya malam ini.


Ku hubungi namun tak diangkat. Justru Debby mengirim pesan padaku. Ku buka dan ku baca dengan segera.

__ADS_1


"Ya ampun..." Pesan gambar screenshot sebuah unggahan di Instagram yang memperlihatkan fotoku dengan wanita- wanita itu, lagi- lagi di kirim Debby ke ponselku. Setelah ku perhatikan bukan wanita - wanita itu yang mengunggah, melainkan Pak Junai. "Haduh masalah lagi" gerutuku.


Teddy: [Itu acara penutupan seminar, semua ikut berfoto Deb, jangan salah paham gitu.] Ku kirim pesan untuk Debby supaya dia tidak salah paham lagi padaku.


Balasan dari Debby pun masuk


Debby : [ Ya ]


Teddy : [Cemburu apa Marah ni? ] Godaku


Debby : [ Idih GR banget, apa karena ini, jam kunjungan pasien juga dibatalkan? ] Balasnya, aku tersenyum, sepertinya dia sedang menyindirku karena pasienku hanya dia.


Teddy : [ Kamu merindukan saya Deb? ] Godaku lagi.


Debby : [ Jangan ke PD an ]


Teddy : [ Maaf, orang bilang pamali kalau calon mempelai bertemu sebelum ijab kabul. Nurut aja ya Sayang, demi kebaikan kita apa salahnya. Saya juga sangat merindukanmu. Istirahat lah, obat sudah saya diskusikan dengan dokter yang mengunjungimu dan perawat, besok setelah menyelesaikan ijab kabul saya akan segera kerumah sakit untuk bertemu denganmu sayang.] Tutupku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2