
"Oh ya, Kamu buat sarapan apa pagi ini yang?" Tanya Mas Doni yang sepertinya berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku membuatkan roti bakar untuk kamu dan juga Debby, oh ya Debby mana Mas?" Tanyaku yang penasaran akan jawaban yang diberikan suamiku ini, berbohongkah atau jujur.
"Debby sepertinya masih bersiap- siap, hari ini dia mendapatkan shift pagi." Jawabnya yang hendak memasukkan roti bakar kedalam mulutnya.
Dan benar saja, tak lama kemudian Debby tampak menuruni tangga, terlihat sudah rapi memakai setelan blous dan membawa serta tasnya. Ku amati rambutnya tak terlihat basah, tertanda semalam tidak terjadi apa- apa antara Mas Doni dan Debby, karena seingatku, aku tak menyiapkan hairdryer di kamar Debby, Ku hembuskan nafas panjangku mengatur hatiku yang tadinya merasa sakit dan bersikap seolah semua baik- baik saja, walaupun sesungguhnya perasaanku saat ini takut akan cinta yang terbagi menyelimuti hatiku saat ini. Jujur aku hanya menginginkan buah hati, dan munafik jika aku ingin Mas Doni membagikan cintanya untuk Debby.
"Sudah bangun deb?, ayo sarapan dulu Deb, mbak sudah buati roti bakar untukmu!" Seruku pada Debby, yang mendekati.
"Wah... Enak ni mbak!"
"Deb, nanti kamu berangkat bareng saya ya!" Tawar mas Doni yang membuatku semakin sakit dan luka.
"Emmm" Terlihat Debby sedang berfikir, dan mereka saling melirik satu sama lain.
"Mas, aku mau ke dokter hari ini, bisa kah kamu anter aku?" Selaku.
"Bukannya belum waktunya kamu kontrol y?"
"Tapi, aku merasa nggak enak badan ni mas." Jawabku.
"Anter mbak Linda aja mas, lagian aku shift pagi bisa bawa motor sendiri kok. Kalau gitu aku berangkat duluan ya, nanti aku sarapan di Rumah sakit aja, udah telat ni." Tolak Debby kemudian, ia memasukkan roti bakarnya kedalam kotak bekal. Debby memang anak yang baik aku tau dia selalu mencoba berbuat baik dan mengalah padaku, aku juga tak tau kenapa harus bersikap seperti ini pada Debby.
"Assalamualaikum" Pamit Debby kemudian
"Waalaikumsalam" jawab ku dan Mas Doni.
Hari ini aku gagal lagi pergi kerja bersama Mas Doni, aku tau memang mbak Linda lebih membutuhkannya, tapi kenapa aku merasa mbak Linda banyak berubah sekarang dari tujuan awalnya yang ingin membuat Mas Doni mencintaiku, sampai keinginan- keinginannya yang terlihat membuat aku dan Mas Doni tak boleh semakin dekat.
__ADS_1
"Ah sudah lah apa yang kamu pikirkan Debby, mbak Linda itu baik, bagaikan malaikat, masak sih punya niat kayak gitu?" Gumamku, aku pun teringat akan kehamilan mbak Linda " pasti itu semua karena pengaruh kehamilannya, kenapa aku bisa lupa bertemu dengan dokter Yudi?"
Dokter Yudi adalah dokter spesialis kanker di rumah sakit tempat ku bekerja, ia juga yang menangani mbak Linda.
Aku pun segera bergegas menuju rumah sakit, mengendarai motorku dengan kecepatan tinggi, aku harus menemui dokter Yudi, dan menanyakan tentang kehamilan Mbak Linda yang sempat tertunda karena kesibukanku kemarin.
tak lama aku sudah sampai diparkiran Ku parkirkan kendaraanku dan segera menuju ruang ganti.
"Mbak mbak..." Panggil seseorang mengagetkanku saat aku berlari menuju ruang ganti.
"Iya siapa ya?" Tanyaku sambil melihat pada seorang laki- laki yang sedang duduk di kursi roda dan seorang wanita yang sudah berumur mendorong kursi roda itu.
"Mbak yang bantu saya di bandara kemarin kan?" Katanya, ternyata dia adalah orang yang mengalami patah tulang dibandara kemarin.
"Kenalin mbak ini istri saya." Katanya sambil mengenalkan istrinya yang sekarang sudah berada di sampingnya.
"Kami ingin mengucapkan banyak terimakasih karena mbak sudah mau menolong suami saya saat itu" Kata wanita itu seraya tersenyum.
"Oh iya mbak, Ini mbak, saya mau mengembalikan bajunya yang kemarin dipakai buat balit luka saya, sudah di cuci dan di setrika kok sama istri saya." Kata laki- laki itu memberikan kemeja putih yang sudah tentu milik dokter Tedi.
"Eh...tapi, ini bukan milik saya pak, udah bapak ambil aja." Kataku menolak, aku tak mau lagi bertemu dengan dokter Tedi yang menurutku tengil + galak itu.
"Nggak bisa gitu mbak ini kelihatannya baju mahal, udah mbak bawa aja ya, kita mau masuk dulu!" Jawabnya sambil meninggalkan ku.
"T..tapi pak."
"ada aja"gerutu ku,
ku masukan kemeja mahal itu kedalam tas ku, masalah mau diapakkan pikirkan saja nanti.
__ADS_1
aku segera mengganti bajuku dengan seragam dinas, dan masih ada beberapa menit lagi untuk pergantian sift. kebetulan telpon masuk diponselku, nomor telpon panti tertera dilayar ponselku.
lalu segera aku mengangkatnya, khawatir kalau terjadi sesuatu disana.
"Assalammualaikum bunda!," sapa ku
"Walaikumsallam nak!, jawab bunda lembut disana
"Bunda..bunda tak apa-apakan disana?" tanyaku dengan penuh kekhawatiran.
"Bunda baik-baik saja nak, bagaimana keadaanmu disana? , dan hubungan mu dengan nak Doni baik-baik sajakan?". tanyanya lagi
"aku disini baik-baik saja kok bun, mas Doni dan mbak Linda juga baik-baik saja!, mereka sudah memperlakukan ku dengan baik, dan aku juga merasakan sangat bahagia." jawab ku menutupi, karna aku tak ingin membuat bunda jadi kepikiran soal masalah-masalah rumah tangga ku. beban bunda sudah cukup banyak, mengurus adik-adik di panti bukanlah hal yang mudah, belum lagi jika ada yang sakit atau berebut mainan, bunda harus kerja extra karena aku sekarang sudah tidak bisa membantu lagi.
"Alhamdulillah jika kamu bahagia nak, bunda pun ikut bahagia mendengarnya.
"Bunda, Debby kerja dulu ya, nanti debby telepon lagi jika suda selesai kerja, assalamualaikum!" pamit ku lalu menutup telepon.
"Bohong lagi?" selah mbak Lidia yang tanpa kusadari ia sudah berdiri menatapku dibelakang.
"Eh..mbak lidia, kok tiba-tiba dibelakang, uda kayak hantu aja datang tanpa dipermisi", jawabku sambil memasukan ponsel kedalam saku celanaku.
"Deb, kamu habis nabgis lagi kan?" tanyanya sambil mendekati wajahku
"Nangis?, enggak kok mbak ini cuma kelilipan aja tadi". jawabku menyelah
"Oh ya!, masak?" kata mbak lidia yang sedang menatap mataku seakan mencari kebohongan disudut mataku.
"Iya lah mbak, masa iya aku nangis seperti anak kecil aja pakek nangis-nangis aku kan uda gede mbak, udah ah ayo kerja!" seruku sambil berlari meninggalkan mbak Lidia
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π