
Aku bukan Rahim Cadangan
Part 137
Menjadi seorang ayah tidak lah mudah, aku harus menjaga hati kedua putraku, terlepas dari kedua sifat mereka yang sangat jauh berbeda, merek tetaplah putraku. Darah dagingku. sudah menjadi tanggung jawabku menjaga keluargaku agar tetap utuh.
Vannia adalah belahan jiwa putraku, Kevin. Sedangkan Debby juga sama, dia nyawa bagi Teddy. Tugasku adalah menjaga Debby agar tidak lagi celaka dan memastikan Vannia untuk tidak lagi berbuat nekat Terhadap Debby.
POV Debby
__ADS_1
Pagi- pagi sekali, kami sudah menyisir jalanan, menggunakan motor yang disewa oleh Mas Aska, akhirnya aku menemukan nama panggilan yang cocok untuknya setelah mengingat pertemuan pertama kami di bandara waktu itu. Embun pagi yang masih begitu ketara dan sedikit mengganggu penglihatan, tak menyurutkan niat kami untuk segera berangkat ke pantai. Ya, dia bilang mau mengajakku ke pantai. Jarak yang cukup jauh mengharuskan kami berangkat lebih pagi lagi.
"Dingin Deb?" Tanyanya di depan kemudi.
"Sedikit" Jawabku menutupi, kalau boleh jujur, yang ku rasakan saat ini bukan hanya dingin, tapi sangat dingin, menembus tulang-tulangku. Sekalipun jaket yang aku kenakan cukup tebal, namun perjalanan menuju pantai sangatlah jauh dan membuat udara masih terasa sangat dingin, lebih- lebih waktu yang masih sangat pagi, sehingga matahari pun belum bisa menghangatkan perjalanan kami.
"Sudah jangan banyak ngomong, perhatikan jalan, nanti jatuh." Kataku, kusandarkan kepalaku di bahunya, dia pun melajukan kendaraanya dengan lebih cepat lagi agar kami lebih cepat sampai. seperti berada dalam sirkuit balap. Dia begitu piawai menguasai motor besarnya. Berbeda jauh dengan dugaan ku selama ini, yang mengira bahwa di USA jarang ditemui sepeda motor dan mengira bahwa dia tidak begitu pandai dalam bermotor, tapi nyatanya aku salah besar. Dia sangat begitu lincah menyusuri Medan yang lumayan tajam dan sulit.
"Pelan- pelan, jangan ngebut. Nanti kalau jatuh motornya rusak loh mas, gantinya mahal Mas!" Teriakku agar di dengar olehnya. Laju motor yang begitu tinggi membuat pendengaran kami berkurang. Ku lihat dari kaca spion, dia hanya tersenyum tipis, tak menjawab ucapan ku. Pasti dia sedang menertawakan ku karena aku lagi-lagi memikirkan kerugian uang lagi.
__ADS_1
Perjalanan kami yang memakan waktu hampir 3 jam itu, membuatku sangat lelah. Punggungku juga terasa kaku. Sebelum masuk ke area Pantai, Mas Askq terlihat meminggirkan motornya di depan warung kecil tapi cukup bersih.
"Turun Deb, Kita sudah sampai. Sarapan dulu, baru kita masuk." Serunya yang sudah melepas helmnya terlebih dahulu. Aku pun turun, ku buka helm lalu ku regangkan semua otot- ototku.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..
__ADS_1