Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Reputasi


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 211


"Ya iya dong sus, iya walaupun saya juga terkadang kurang suka juga dengan sikap Debby yang terlalu bernafsu dengan saya" ucapnya sambil meliriku


"Apa kamu bilang mas? Bernafsu? Aku bernafsu?" Sentakku, aku tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suamiku barusan, menghina ku di depan ku.


"Debby! Itu suara Debby?" Kejut suster Desi, ku tutup mulutku seketika, rupanya aku tak dapat menahan emosiku.


Ku cubit kakinya.


"Bukan, itu penginggat saya, Kalau saya bicara buruk suka berbunyi." terlihat dia menunduk mengambis sesuatu di dalam laci bawah yang ada disebelahku. Cup, lagi-lagi dengan santainya ia melakukan itu saat aku terperangah


"Nih produk USA, dengan teknologi alih bahasa." jelasnya mengeluarkan sebuah benda seperti jam


"Aku merindukan mu sayang" aku terperangah mendengarsuara itu, ku tutup mulut dengan kedua tanganku setelah mendengar suaraku keluar dari alat itu, "dia merekamnya? Bahkan saat aku mengucapkan kata itu? Ya ampun Debby, suami macam apa yang kamu miliki ini?" batinku memelas.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Setelah kepergian suster Indah, aku sempat berdebat dengan mas Aska, dia beralasan merekam suaraku saat itu untuk mengobati rasa rindunya padaku saat ia masih harus tinggal di USA waktu itu. Aku memaafkanya, yang tak dapat aku maafkan adalah dia mengatakan kalau aku bernafsu denganya dihadapan suster Indah tadi.


Adzan subuh berkumandang,


Drrreeettt... Ponselku bergetar setelah aku kembali dari mushola rumah sakit. ada satu pesan masuk dari mas Aska, lalu segera ku buka dan ku baca.


Dokter cintaku : ( sayang, hari ini pulanglah lebih cepat, suamimu membutuhkan mu, kamu sudah membuat perut suamimu sakit.) pesanya


aku tak membalasnya, aku rasa dia hanya berpura-pura merayuku, Agar aku memaafkanya. "Akting" sinisku. Kumasukan kembali ponselku dan segera melanjutkan pperjalanan ku kembali menuju ruang UGD, menghabiskan waktu shift yang masih tersisah sekitar 3 jam lagi.


Lagi-lagi ponselku bergetar saat aku berada tepat didepan pintu ruang UGD. Kali ini bukan pesan yang masuk melainkan panggilan suara. "dia lagi" gumaku.


"Ya.." jawabku


"Waalaikumsalam" balasku


"Dimana?" tanyanya


"Ya, kerja lah"

__ADS_1


"Saya tadi bilang apa? Pulang perut saya sakit, kamu maksa saya makan pedes segitu banyak dan sekarang sekarang lari dari tanggung jawab." Omelnya dari sebrang telpon


"Aku ngak lari, ini aku masih kerja, nanti aku bawa obat kalau aku uda pulang."


"Kamu kira saya bisa tahan 3 jam lagi?"


"Minum apa dulu kek." Putusku


"Masih nggak ngerti juga? Pulang nggak debby, Kalau nggak saya telepon mama ni biar kesini ngurusi saya." ancamnya


Degg


Mendengar nama mama disebut membuat ku berubah fikiran, bagaimana tidak, bisa jatuh nanti repotasiku sebagai istri sholeha, belum juga resepsi, suami sakit nggak diurus? Malah mementingkan pekerjaan, mau ditaruh dimana mukaku.


"Iya...iya.. Aku pulang, aku ijin dulu. Jaga dirimu" putusku


"Ya udah, hati-hati, saya tunggu!" tutupnya, keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat sekarang, yang seharusnya marah aku tapi justru aku yang harus menurutinya dan menerima omelanya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2