Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Berfikir tidak-tidak


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 55


Part 55


"Apa? Apartemen? Kalian tinggal berdua? Bukan muhrim tinggal satu atap? Astaghfirullah..." Kata bunda yang mengelus dadanya. Aku tau semua pasti akan berpikir negatif mengenai hal itu.


"Malam itu Debby pingsan di depan Cafe, Seseorang karyawan cafe menghubungi saya dan saya tidak tau dimana alamat Debby, karena saya hanyalah seorang dokter tamu di rumah sakit tempat Debby bekerja, saya tidak tinggal di Indonesia. Terpaksa saya membawa debby ke apartemen demi keselamatan Debby." Jelasku agar Bunda tidak semakin salah paham pada ku.


"Pingsan? Diluar? Ya Allah Debby... Kenapa anak itu nggak ngabari Bunda?" Gumam Bunda Mira.


"Terimakasih banyak sudah menyelamatkan Anak Bunda, dan bunda minta maaf karena sudah berfikir dan menuduh dokter yang tidak-tidak." Sambungnya.


"Mungkin Debby masih belum siap mengatakannya pada Bunda, jangan salahkan Debby. Debby hanya tak ingin membuat Bunda merasa bersalah dan ikut bersedih. Dan maaf bunda saya lihat Debby punya masalah keuangan, jadi saya berikan apartemen yang saya sewa selama saya tinggal disini. Jadi jangan salahkan Debby juga mengenai hal ini." Jelasku, aku merasa ikut bertanggungjawab menjelaskan ini semua kepada bundanya Debby, karena aku lah yang memaksa Debby untuk tetap tinggal.


"Ya Allah dokter sudah baik sekali dengan Anak Bunda."

__ADS_1


Berhasil Menyampaikan hal ini pada Bunda serasa sebongka es yang mengganjal di dadaku sudah mencair sekarang.


"Ini alamat Apartemen saya jika sewaktu- waktu bunda ingin berkunjung, apartemen ini masih tersisa 3 Minggu. Semoga selama itu, Debby sudah siap kembali ke panti ini." Kataku pada bunda seraya memberikan alamat apartemenku pada bunda. bunda mengambilnya dan membacanya.


"Terima kasih banyak dok."


Hening.


"Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan pada bunda."


"Apa itu dok."


"Apa maksudnya?"


"Bunda Saya titip Debby pada bunda." Kataku. Bunda lalu tersenyum tipis.


"Bunda pasti akan menjaga anak Bunda baik- baik, itu sudah menjadi kewajiban bunda." Jawabnya yang membuatku sedikit lega. Awalnya aku ingin mengkhitbah Debby. Namun menyatakan perasaanku pada Debby saja sudah membuatku merasa sangat berdosa. Setahuku khitbah secara jelas atau sindiran tidak diperbolehkan dan haram hukumnya untuk wanita yang ditalak oleh suaminya sebelum masa Iddah nya selesai. Jadi satu- satunya yang harus aku lakukan hanyalah bersabar hingga masa Iddah Debby selesai. Walau disaat menunggu itu pasti akan ada kekhawatiran terhadap debby yang bisa saja rujuk kembali dengan mantan suaminya itu, melihat suaminya yang masih begitu mengharapkan Debby.

__ADS_1


Selesai menyampaikan semuanya aku pun segera pamit pada Bunda setelah ku lihat arlojiku sudah menunjukkan pukul setengah sembilan.


"bunda, saya harus ke bandara sekarang. saya mohon pamit."


"iya Nak, hati- hati. Dan sekali lagi, bunda ucapkan terimakasih karena sudah membantu anak bunda."


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Aku buru-buru kembali ke apartemen. Kubuka pintu yang tidak tertutup dengan sempurna itu.


"Assalamualaikum"


"Debby, buruan kita mau ke bandara nanti te..." Deg Ku hentikan ucapanku ketika aku berbalik dan kulihat Mama sudah duduk manis di sofa tamu bersama Debby.


"Waalaikumsalam" jawab mereka yang bersamaan.

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2