Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Cincin sebagai Tanda


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 147


"Berapa kali saya bilang, kalau saya ini Debby, bukan barang yang bisa main dibuang dan diambil kembali." Keteganganpun mulai terjadi antara aku dan mantan mertuaku.


"Kami tidak pernah menganggap kamu sebagai barang Deb, justru kami sangat menyayangimu, mencari - cari kamu. Jangan menilai kami seperti itu." Jelas Mama Mas Doni.


Ku hela napas panjang. "Oke, cukup semuanya. Mohon maaf, Tante Tante, dan Om. Saya tidak berminat untuk menerima pinangan dari kalian semua. Karena saya sudah mempunyai pasangan, sudah mempunyai seseorang yang saya cintai, dan kami sudah... Maksudnya akan segera menikah. Iya kan bunda?" Ucapku penuh percaya diri. Bagaiman tidak, bahkan aku sudah tidur dengan laki- laki itu, bagaimana mungkin mereka mau melamar istri orang. Ku senggol Kaki bunda yang tak berada jauh dariku.


"Iya." Jawab bunda singkat.


"Apa? Ini cuma akal- akalan kamu saja kan Debby?" Tanya Mama Mas Doni.


"Saya nggak bohong. Ini buktinya saya udah pake cincin kan?" Ku tunjukkan cincin pemberian suamiku pada mantan mertuaku dan Tante Widia bergantian.


"Apa kamu benar- benar mencintainya Deb?" Tanya Tante Widia.

__ADS_1


"Tentu saja, Saya sangat mencintainya, sangat sangat mencintainya." Jawabku dengan mantap.


"Kalau gitu selamat ya Deb." Jawabnya tersenyum tipis, berbeda dengan mantan mertuaku yang mencebikkan bibirnya.


"Saya baru akan percaya kalau kamu mempertemukan saya dengan laki- laki itu Debby. Saya yakin, dia tidak lebih baik dari Doni."


"Baik yang bagaimana? Jangan samakan dia dengan anak Tante yang nggak punya pendirian itu. Jelas mereka jauh berbeda. Dia memang hanya seorang dokter biasa, tapi insya Allah lebih baik dari Mas Doni. Saya permisi." Tutupku.


🌸🌸🌸


"Astaghfirullah... mimpi apa coba?" Gerutuku keluar dari pintu, segera ku ambil motor dan pergi dari panti.


"Debby..." Sapa Sinta begitu aku masuk ruang UGD.


"Hai Sin"


"Ih Debby.... Beautyful banget deh pake hijab. Jadi pengen peluk..." Kata Sinta membentangkan tangannya. Ku peluk dan ku cium pipinya, menghadapi Sinta memang harus ekstra sabar.

__ADS_1


"Eh Deb, ngomong- ngomong soal peluk, aku jadi inget sesuatu deh."


"Apa?" Kataku duduk di kursi ku, pagi ini UGD masih terlihat lengang, baru ada satu pasien yang sedang ditangani oleh Alex dan Febby.


"Eh Debby, kemarin aku ke pantai sama alex loh. Ketemu siapa coba tebak?" Tanya Sinta dengan polos, aku hanya bisa menelan ludah berharap mereka tidak curiga denganku.


"S_siapa? Mana ku tau." Jawabku gelagapan.


"Ih... Kok kamu tegang gitu sih Deb, udah jangan sedih ya, cowok diluar sana masih banyak, perwira itu juga tampan kok Deb."


"Ngaco."


"Eh tapi bener mending kamu cepet cari cowok baru deb, nggak usah nunggu dokter Teddy lagi. Dia itu terlalu tinggi untuk di gapai. Dia udah punya pacar."


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2