
Aku bukan rahim Cadangan
Part 161
"Debby, kemarilah." Seruku, Debby pun melangkah mendekati kami. Ku ulurkan tanganku dan membawanya untuk duduk di sebelahku.
"Apa maksudnya semua ini?" Tanya Laura menatap aku dan Debby bergantian dengan tatapan penuh selidik.
"Debby. Dialah istriku, Istri sah ku. Jadi, ku harap kamu mengerti." Dia menutup mulutnya rapat- rapat, tubuhnya bergetar, sepertinya dia benar- benar terpukul kali ini. Tapi inilah yang terbaik, menyadarkan Laura bahwa apa yang dilakukannya itu salah.
Debby yang bergeming di sampingku, memilih untuk tidak berkata, sepertinya dia juga sedang menyimpan sejuta kecewa.
"Laura, jangan berharap padaku lagi ya!" Lembutku, Sedingin dan sekerasnya apa pun aku, aku tetap harus menghormati seorang wanita.
Hening
"Mungkin dulu mbak Laura pernah ada di hati suami saya. Dulu, sebelum suami saya memutuskan untuk menikahi saya. Mbak wanita karir yang sukses, seorang dokter, cantik. Bukan hal yang sulit untuk mendapatkan pasangan hidup yang lebih baik dari hanya sekedar menunggu suami orang." Dan akhirnya kata- kata pembelaan itu keluar dari mulut Debby, ku sunggingkan senyumku, tandanya Debby mau mempertahankan keutuhan rumah tangga kami dengan duduk bersamaku dan menyelesaikan masalah kami bersama-sama dibandingkan mempertahankan egonya.
"Lalu kenapa kamu harus masuk dalam hubungan kami!" Tuduh Laura.
__ADS_1
"Laura..."
"Perkara saya yang masuk atau suami saya yang memilih keluar dari hubungan kalian. Silahkan anda tanyakan langsung pada suami saya." Pungkas Debby memotong perkataanku.
"Hubungan apa lagi... Laura, dari awal kita tidak punya kesepakatan apapun. Dan saya lah yang memilih Debby, tolong mengertilah." Jelasku.
"Kita lebih lama saling mengenal dibanding dia kan?"
"MBAK Laura, Saya rasa cukup, pintu keluar ada disana, silahkan keluar dan jangan lagi menginjakkan kaki mbak di rumah ini, karena saya tidak akan pernah meridhoinya. Semua sudah jelas, laki- laki yang mbak Laura harapkan itu adalah suami saya, menangis darah pun tidak akan mengubah kenyataan itu." Putus Debby masih dengan suara lembutnya tapi penuh penekanan.
Laura terperangah dengan Kata- kata Debby yang begitu lugas tapi tepat mengenai sasaran.
Usai Laura pergi dari Apartemenku, Debby masih terlihat kesal padaku, dia tak banyak bicara dan kembali ke kamarnya. Ku ikuti langkah Debby.
"Mau kemana?" Tanyanya berbalik saat kami sampai tepat di depan pintu kamar.
"Ya ke kamar kita lah sayang." Jawabku lembut dan tersenyum semanis mungkin.
"Jangan harap bisa masuk kamar, kalau pipimu itu belum bersih dari kuman!" Tegasnya menunjuk ke arah wajahku.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanyaku memegang kedua pipiku.
"Pipi kamu itu masih bau pelakor Mas, semakin melihatnya semakin aku ingin menamparnya!" Tegas Debby.
"Hah?"
Debby masuk dan menutup pintu dengan kasar lalu menguncinya.
Ku usap wajahku "Ya Allah Debby..."
Tok... Tok... Tok... "Sayang" ku coba mengetuk pintu, namun tak ada jawaban.
"Sayang..." Panggilku lagi, terdengar suara kunci dibuka "Alhamdulillah" aku tersenyum.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..
__ADS_1