Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
kebaikan tante widia


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 125


"Mbak Lidia, jangan keras- keras" kataku meletakkan jari telunjukku pada bibirku agar mbak Lidia diam. Aku memang sempat bercerita pada mbak Lidia tentang hal itu, jadi dia cukup tau tentang ku.


"Mau ya, please. Kalau nggak mau aku nggak jadi nikah ni." Ancamnya, seraya menangkupkan tangannya di dada tanda sangat berharap persetujuanku.


"Hah?" Teriakku tak percaya. "Gawat... Kalau mbak Lidia nggak jadi Nikah, bisa jadi saingan berat dong?" Batinku saat aku mengingat pesan dari dokter Teddy untuk mbak Lidia.


"Ya...ya ya... Buruan nikah, biara nggak ngerusak rumah tangga orang!" Sindirku.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Udah, aku mau pulang dulu." Pamitku, ku nyalakan mesin sepeda motor dan ku lajukan, meninggalkan Mbak Lidia yang terlihat masih bergeming memikirkan perkataan ku tadi.


"Eh Debby, besok Fitting gaun bridesmaidnya..." Teriak Mbak Lidia. Aku hanya menjawabnya dengan jari yang membentuk huruf O, yang artinya Oke tanpa menoleh padanya.


Aku tiba di panti tepat pukul setengah sembilan pagi, terlihat Bunda sedang bersama mbok Mar di dapur, sepertinya mereka baru mebereskan bekas sarapan adik- adikku tadi pagi. Semenjak Bu Widia menjadi donatur panti kami, kami tidak pernah merasa kekurangan apapun, Bu Widia sangat peduli dengan anak- anak disini, bahkan aku yang sudah tidak memerlukan perhatiannya pun masih diperhatikan olehnya. Contohnya, ketika aku dalam masa pemulihan kemarin, dia selalu datang, membawa makanan dengan protein tinggi, buah dan semua keperluanku. Bahkan apa yang ia bawa seperti sudah ada terkonsep. Minggu kemarin juga, dia menawarkan untuk memberi mobil pada panti agar lebih mudah kalau ada hal mendesak. Tapi, kami menolak, Bu Widia sudah terlalu baik pada kami, kami harus lebih tau diri dan sedikit menjaga harga diri. Ya memang Bu Widia sempat mengetahui waktu salah satu adek panti sakit di tengah malam dan kami masih harus menunggu taksi online sedangkan kondisi disaat itu sudah sangat darurat. Yang aku bingung adalah, darimana Bu Widia tau? Setahuku, aku hanya mengeluh pada Dokter cintaku itu. Entahlah, mungkin orang kaya banyak mempunyai mata- mata.


"Sarapan dulu Deb!" Kata Bunda saat aku melewati dapur.


"Ya sudah, jangan lupa mandi, jangan bawa penyakit dari rumah sakit."


"Iya."


"Bunganya sudah Buda letakkan di Vas"

__ADS_1


"Ada kiriman bunga lagi?" Tanyaku, Bunda mengangguk Pelan. Sejak aku pulang dari rumah sakit, hampir setiap hari aku mendapat kiriman bunga tanpa nama dari dokter Teddy, pernah sekali ada nama dan puisi cinta darinya, tapi selebihnya hanya ucapan maaf dan tanpa Nama.


Aku masuk ke dalam kamar lalu mandi membersihkan badanku. Ponselku kembali bergetar saat aku sudah siap untuk mengistirahatkan badanku. Dokter cintaku kembali menelepon ku, ku tolak panggilannya, ku abaikan panggilannya, dan ku matikan ponselku lalu istirahat.


🌸🌸🌸


Sudah beberapa hari aku dan suami dadakanku itu tidak berhubungan, rasa kesalku rasanya masih mengganjal didalam hati. Hingga tiba waktunya pernikahan mbak Lidia di selenggarakan di sebuah gedung besar. Seperti janjiku, aku bersama Sinta, Desi dan Febby sudah berjejer rapi dengan dress warna pich, dan sanggul modern mengurus tamu undangan. Banyak sekali tamu yang hadir dari berbagai kalangan baik dari kalangan perwira maupun rekan- rekan kami dari Atmajaya hospital dari kalangan perawat hingga dari kalangan staf, bahkan ku lihat dokter Firman dan Profesor Atmajaya turut hadir memberikan selamat kepada mbak Lidia.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2