Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Sibuk


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 105


Ku baringkan tubuhku di sofa setelah selesai menyuapi Debby dan memberinya obat. Aku tak bernafsu untuk bicara dengan Debby saat ini, karena aku tau, dia pasti akan membahas masalah Doni dengan ku. Kututup kedua tanganku dengan lengan lalu ku pejamkan mataku perlahan.


POV Debby.


Pagi pun tiba setelah aku meminum obat yang diberikan oleh dokter Teddy padaku, rasanya aku sangat mengantuk. Kubuka mata, ku lihat sekelilingku, Bunda sudah duduk di sofa tempat dokter Teddy tidur semalam.


"Bunda?"


"Debby? Kamu sudah bangun Ndok? Gimana? Udah enakan badannya?"


"Alhamdulillah Bun."


"Dokter Teddy Mana Bun?" Tanyaku ragu setelah ku lihat disekelilingku dan tak ku temukan sosoknya.


"Dokter Teddy sudah pergi pagi- pagi sekali, ada seminar pagi katanya " jawab Bunda.

__ADS_1


"Yah..." Ucapku kecewa.


"Kenapa?"


"Sepertinya dia marah pada Debby bun."


"Kenapa? Kalian ribut?"


"Kemarin Mas Doni dan Mbak Linda kesini, dan aku mengusir dokter Teddy? Tapi bukan itu juga Maksud Debby, Debby hanya tidak mau melibatkan dokter Tesdy kedalam masalah Debby!" Jelasku.


"Hah? Apa Deb Doni? Ya Allah Debby..." Kata Bunda yang terlihat begitu kaget dan panik membuatku merasa bahwa aku memang benar- benar sudah melakukan kesalahan besar.


"Iya, Debby tau, dokter Teddy itu yang menyelamatkan Debby dan banyak membantu Debby dulu."


"Bukan hanya itu Debby, dokter Teddy itu adalah..."


"Adalah apa Bun? Kenapa nggak diterusin?"


"Sudah lah bukan apa-apa lupakan, yang pasti, kamu sudah melakukan kesalahan besar terhada dokter Teddy!"

__ADS_1


Bunda terlihat begitu sibuk dengan ponselnya, tak jarang pula Bunda harus keluar dari kamar rawat ku hanya untuk mengangkat telepon "Apa Bunda menyembunyikan sesuatu dariku?" Batinku bertanya. Tidak seperti Bunda yang biasa dengan mudah mengangkat telepon di depanku, namun rasa curiga tak sepatutnya hadir di dalam benakku. Segera ku tepis dan ku hilangkan pikiran- pikiran negatif dari otakku.


"Bunda? Teleponan sama siapa?" Tanyaku setelah Bunda kembali ke dalam kamar.


"Bunda lagi ada urusan penting." Jawabnya masih sibuk dengan ponselnya.


"Urusan apa?"


"Urusan orang tua Debby?"


"Tapi bukan karena biaya rumah sakit Debby kan Bun?" Tanyaku ragu. Terus terang aku masih belum merasa lega kalau belum keluar dari rumah sakit ini, walaupun dokter Teddy sudah menyampaikan bahwa profesor sendiri yang menempatkan aku di ruangan ini, ruangan yang hanya orang kaya lah yang mampu menempatinya.


"Bukan." Jawab Bunda singkat dan tanpa beban membuatku sedikit lega.


Waktu sudah hampir Maghrib, hari ini dokter Teddy belum juga terlihat batang hidungnya, padahal dari sepengetahuanku seminar selalu ditutup pukul 3 sore. Kemana dokter Teddy? Bahkan hari ini kunjungan kepadaku sudah di wakilkan pada dokter piket. Apa itu artinya dia tidak akan datang hari ini? Saat aku bertanya pada dokter Ferdi yang mengunjungi ku sore tadi, kemana dokter Teddy? Dia hanya menjawab bahwa dokter Teddy sedang ada urusan penting dan meminta dokter Ferdi untuk mengambil alih tugasnya. Sangat disayangkan padahal begitu banyak yang harus ku bicarakan dengannya.


Tok... Tok... Tok pintu di ketuk. Bunda pun menoleh dan berkata "Masuk!"


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2