Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Nikmati penderitaan


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 219


"Namanya juga kan emosi mas, gimana bisa menahan diri." ceplos ku, entah kenapa mulut ku tak bisa menahan apa yang ada di dalam hati ku saat ini.


"Kamu bisa diam nggak Debby!" sentaknya


Ku hentikan bicara ku, bagi ku hari ini dia lebih menyeramkan dari pada singa yang meraung-raung karena kelaparan.


"Sebagai perawat kami pernah diajari yang namanya caring, empati, altruisme dan lain sebagainya yang harus kalian miliki sebagai seorang perawat. Dan tau kah kalian apa itu empati? Bisa kalian menjawabnya?" tanyanya


"Kemampuan untuk melakukan komunikasi secara sabar terhadap pasien, agar dapat memahami suasana hati pasien, mampu melihat suatu masalah dari sudut pandang pasien dan tidak bersikap menghakimi." jawab mereka


"Nah itu, Menghakimi, lalu di depan ruang operasi tadi apa yang kalian lakukan sama saya? Terutama kamu suster Lidia?" Potong mas Aska sebelum Alex menyelesaikan jawabanya.


Hati nurani ku mulai terpanggil lagi.

__ADS_1


"Pak tapi ini tak ada hubunganya dengan pasien, bapak sadar kan pak? Ini malasah pribadi!" tegas ku yang tak tahan lagi dengan ocehanya, lalu segera beranjak dari tempat duduk ku.


"Setidaknya mereka dapat mengendalikan diri dan dapat belajar dari situ." sanggah mas Aska


"Tetap saja pak, mereka tak dapat id salahkan, menyelamatkan teman dari penjahat wanita itu juga penting." celetuk ku


"Apa? Kamu bilang apa tadi? Kamu bilang saya penjahat wanita, suami kamu, kamu bilang penjahat wanita?" tanyanya dengan wajah tak percaya. Dia beranjak dari tempat duduknya lalu mendekati ku


"Iya kan mana mereka tahu kalau baak itu suami saya!" sambung ku


"Ya semua ini karena salah kamu."


"Ya karena kamu suka main petak umpet Debby."


"Bapak juga kan merahasiakanya karena bapak takut ketahuan siapa bapak sebenarnya waktu itu."


"Iya tapi kan cuma sebentar, sebelum saya pulang ke Indonesia."

__ADS_1


Ketegangan mulai terjadi di antara kami, sekarang bukan lagi area karyawan dan pimpinan melainkan area rumah tangga. Hingga kami tak sadar ada tiga pasang mata yang menyaksikanya.


A"Apa seperti ini rumah tangga mereka? Menyeramkan." samar-samar aku mendengar Sinta dan yang lain membicarakan kami dan aku yakin mas Aska juga mendengarnya.


"Kalian bertiga kali ini kalian masih selamat larena saya masih harus mengurusi rumah tangga saya. Tapi jika lain kali kalian membuat gaduh lagi, jangan berharap kalian bisa selamat! Kalian boleh pergi, dan kamu Debby duduk urusan kita belum selesai."


"Jadi kita nggak jadi di pecat pak?" tanya mbak Lidia dengan antusias


"Memangnya siapa yang mau memecat kalian? Bukanya kalian sendiri yang mau keluar?" jawab mas Aska, walaupun terlanjur berpacu jantung, setidaknya semua baik-baik saja.


"Ya ampun pak, makasih ya pak. Bapak baik banget deh. Kalau gitu kami permisi dulu ya pak."


"Ayo lex, Sin buruan kita pergi sebelum Dokter Teddy berubah pikiran." seru mbak Lidia pada Alex dan Sinta


"Debby, nikmati penderitaan mu, semoga selamat." Bisik mbak Lidia sebelum meninggalkan kami


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2