
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 98
POV Teddy
Ku hapus air mataku setelah Mama mengikuti Papa ke ruangan kerja kakek. Aku tak tau, apa yang akan dibicarakan kakek dengan Papa dan Mama disana.
Saat aku beranjak dari tempatku "Dokter, Bunda Mira harus pulang. Karena ada salah satu anak panti yang juga sedang sakit dan mencari Bunda. Tidak ada yang menunggu Debby. Saya harus kembali ke UGD." Kata Alex yang menghampiriku.
"Ya, nanti saya kesana. Saya ganti baju dulu."
"Tapi bukannya baju dokter sudah kotor karena penuh darah tadi? Dokter pake baju ini aja nggak papa dok." Kata Alex,
__ADS_1
"Astaga... Saya lupa Lex, Alex terimakasih sudah banyak membantu ku tadi. Kerja kamu bagus."
"Sama- sama dok, Debby adalah sahabat saya. Jadi sudah menjadi kewajiban saya membantu dan menjaga Debby." Jawabnya.
"Tapi Debby adalah tunangan saya Alex, dan Dia sangat berarti bagi saya." Batinku berkata. Aku akui persahabatan mereka termasuk persahabatan yang tulus, Alex dan yang lain terlihat sangat kompak dan saling menyayangi. Teman- teman Debby memang sudah sangat ingin menjenguk Debby, namun aku melarangnya dengan alasan tunggu kondisi Debby stabil dan kesadarannya kembali. Mereka mematuhi perintahku dan mau bersabar untuk menunggu, walau mereka berada di rumah sakit yang sama tak ada salahnya kan melarang. Aku butuh waktu untuk bersama Debby juga kan?
"Kembalilah ke UGD, nanti saya ke ruangan Debby." Kataku menepuk pundak Alex dan kami berpisah Alex menuju ke UGD dan aku keruangan Debby.
"Nak, Bunda titip Debby dulu ya, Bunda harus pulang sebentar." Kata Bunda menghampiriku setelah melihat aku membuka pintu.
"Iya Bunda, Bunda nggak usah khawatir. Debby biar saya yang urus. Bunda tenang aja." Jawabku.
"Bunda tinggal." Pamit Bubda menepuk pundakku lalu pergi meninggalkan ku, sepertinya Bunda sangat terburu- buru.
__ADS_1
Aku masih dengan seragam biru ku perlahan mendekati Debby, duduk di samping Debby yang masih dalam pengaruh obat bius. Aku memang sengaja melarang mereka membawa Debby menunggu di ruang pemulihan setelah operasi dan selama pengaruh obat belum habis, karena aku sendiri lah yang akan memantaunya.
Ku hela nafas panjang, memandang wajah Debby yang begitu pucat. Ku pegang erat tangannya "Hampir... Saja saya kehilangan kamu Deb" lirihku.
Aku kembali mengingat peristiwa di rooftop, pertanyaan kembali muncul di benakku. Bagaimana bisa pasien Rumah sakit jiwa masuk ke Rumah sakit ini? dengan baju yang cukup rapi, seolah-olah sedang menyamar? Siapa yang memberi pisau dan baju Serapi itu? Dan kenapa Debby yang menjadi sasaranya?
Tiba- tiba terdengar suara pintu di buka kasar saat pikiran ku berkelana mencari jawaban. Dokter Firman datang dengan kepanikannya.
"Teddy... Apa yang terjadi? Maaf saya lagi nganter anak istri liburan tadi, nggak bisa langsung datang kesini." Kata dokter Firman menghampiriku.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1