Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Kecelakaan


__ADS_3

Alarm debby memecah heningnya waktu subuh, Debby sengaja membuat catatan di ponselnya agar ia tak lupa dengan tugas negaranya untuk menjemput Dokter Tedi sebelum ia berangkat kerja. Debby segera menyiapkan diri untuk sholat subuh, dan setelahnya ia hendak menengok keadaan Linda, pintu kamar Linda masih tertutup itu tandanya mereka masih tidur. Di urungkanya niat Debby untuk menengok Linda, ia tak ingin mengganggu waktu istirahat Linda dan Doni. Debby memutuskan untuk membantu Bi ija di dapur menyiapkan sarapan, karena ia tau Linda sedang tidak sehat. Kali ini ia tak mau gegabah membuat masakan, ia hanya membantu Bi ija memotong bahan dan selebihnya Bi ija yang memasaknya.


Tak terasa waktu sudah pukul 07.00 pagi, hari ini Bi ija membuat menu sarapan nasi uduk kesukaan mbak Linda. Terlihat mbak Linda yang masih pucat turun dari tangga bersama Mas Doni.


"Sini mbak sarapan dulu!" Ajak Debby menarik kursi untuk Lind duduki.


"Makasih Deb," ucap Linda tersenyum pada Debby, sedangkan Doni memandang aneh pada Debby dan nasi uduk yang sudah siap di atas meja.


"Bukan aku yang masak, Bi ija yang masak, jadi aman kok!" Kata debby yang menjelaskan, dan merasa bahwa Doni sedang mencurigainya.


"Bagus lah" jawab Doni lalu duduk di samping Linda.


"Ayo sayang Makan dulu, aku ambilin ya" tawar Doni pada Linda.


"Aduh mas aku enek banget lihat nasi uduk ini, nggak mau makan ini!" Keluh Linda. Debby semakin yakin bahwa Linda sekarang sedang hamil.


"Bukannya ini nasi uduk kesukaanmu Sayang?" Tanya Doni lagi.


"Tapi aku lagi nggak mau makan itu mas!" Kata Linda manja. Debby yang melihat itu hanya bisa menghela nafas, lagi- lagi dia harus melihat kemesraan suami dan istri pertamanya yang terpampang nyata.


"Nggak hamil aja manja, apa lagi hamil..." dalam Batin Debby.


"Terus mbak mau makan apa? Biar aku suruh Bi ija buatin" Tanya Debby lembut.


"Nasi tim"


"Hah?" Sentak Debby dan Doni bersamaan, mereka terkejut pasalnya Linda sangat tidak menyukai Nasi Tim sebelumnya.

__ADS_1


🥀🥀🥀


Setelah melayani drama Linda, Debby pun segera pergi ke bandara untuk menjemput Tedi. Tak lupa ia membawa tulisan besar yang ia buat sendiri semalaman. Debby segera memesan Taksi online, dan segera meluncur ke bandara.


Karena drama Linda yang mau makan nasi tim tadi pagi, Debby harus pergi ke pasar dulu untuk membeli bahan-bahan yang tak ada, ia pun menyuruh sopir taksi untuk melaju dengan kecepatan tinggi karena waktu kedatangan pesawat sudah sangat mepet.


Begitu ia turun dari taksi, terlihat banyak orang berkerumun di depan pintu masuk bandara, sepertinya ada kecelakaan. Jiwa perawat Debby pun muncul, ia membelah kerumunan itu, dan benar saja, seorang laki- laki sudah terbaring tak berdaya kesakitan berlumuran darah.


"Pak, pak, jangan di angkat, saya tenaga medis biar saya periksa sebentar." Kata Debby yang melihat seseorang hendak memindahkan laki- laki itu seraya menunjukkan kartu identitas Rumah sakit yang ia miliki.


Debby pun segera memeriksa kondisi laki- laki itu, dan ternyata benar dia mengalami patah tulang di bagian kaki. debby segera melakukan pertolongan, ia segera menggunting celana bagian betis korban yang dicurigainya sebagai area patah tulang. Ia sempat kebingungan saat hendak merekatkan area patah tulang itu, ia segera meminta orang yang ada di sekitar nya untuk mencari penggaris atau tongkat kayu sebagai bidai, setelah ia merekatkan dan hendak meminta kertas koran untuk melilit bidai itu, tiba- tiba seorang lelaki tampan dengan tinggi sekitar 188 cm, memakai baju Hoodie putih lengan panjang dan celana jeans merk ternama memberikan sepotong pakaian pada Debby, debby pun terkejut, ia terpana akan paras laki- laki itu, Debby hanya bisa bergeming "Malaikat Izroil apa malaikat Yusuf yang datang?" batin Debby tak berkedip, imajinasinya pun melayang, jika memang malaikat yang mau mencabut nyawa orang yang dia rawat saat ini kenapa wajahnya setampan ini? Alisnya juga, kenapa laki- laki bisa punya alis seindah itu?


"Buruan dililitkan, kenapa bengong!" Kata pria itu membuyarkan imajinasi Debby.


"I...iya!" debby pun segera menyelesaikan pekerjaannya.


Ambulans datang setelah aku menyelesaikan pekerjaanku, terlihat pria tampan itu menuliskan sesuatu dan memberikannya pada seseorang yang kelihatannya akan menemani korban ke rumah sakit, entah apa yang ia katakan pada laki- laki itu, jarak kami cukup jauh. "Astaga" tiba- tiba aku teringat tugasku untuk menjemput dokter Tedi, ku tinggalkan kerumunan orang disana dan segera berlari masuk ke bandara, aku harap Dokter Tedi masih menunggu. Segera ku bentangkan tanda pengenal yang ku buat semalam. Namun aku tak kunjung menemukan orang yang sudah mbak Lidia sebutkan ciri- cirinya. Tinggi, pake kacamata hitam itu yang ku ingat.


Drrrt .... ponsel ku pun bergetar, telepon dari Dokter Firman masuk, sontak membuatku deg deg an, karena aku dan dokter Firman tidak pernah berhubungan sebelumnya.


"prisilia! Kamu dimana?" Teriak Dokter Firman.


"S_saya di Bandara Dok!" Jawab ku tebata.


"Kamu telat, Dokter Tedi sudah naik taksi, dia marah karena kamu sudah telat. Cepat kembali dan temui saya!" Perintahnya.


"Tapi pak, saya bisa jelasin."

__ADS_1


Tut...Tut ..Tut.. sambungan diputus secara sepihak oleh Dokter Firman tanpa mendengarkan penjelasan dariku, pertanda dia sedang marah besar.


"Mati mati mati...!" Gerutu ku, lalu berlari keluar bandara. Aku harus secepatnya sampai di rumah sakit sebelum Dokter Firman semakin marah padaku, aku harus menjelaskan pokok permasalahannya, bagaimanapun juga sebagai tenaga kesehatan harus mengutamakan keselamatan orang lain kan?


Kebetulan ada taksi yang terlihat baru saja menurunkan penumpang, aku segera menghadang nya tepat di depannya, hingga bunyi gesekan rem taksi itu membuat orang di sekitar sana menoleh ke arahku.


"Mbak! Mbak mau cari mati mbak?" Bentak supir taksi padaku.


"Pak pak pak pak, tunggu pak tolongin saya pak saya buru- buru, antar saya ke rumah sakit mutiara pak!" Kataku setengah memaksa.


"Mbak nggak lihat saya sudah bawa penumpang?" Jawab supir itu lagi.


"Hah?" Aku pun melongo setelah melihat di bangku belakang sudah duduk pria tampan yang tadi memberiku pakian untuk menolong korban kecelakaan itu, malu nya setengah mati ternyata taksi ini baru saja menerima penumpang bukan menurunkan penumpang.


"M_maaf Pak maaf" Kataku sambil menangkupkan tanganku pada penumpang taksi dan sopir taksi itu bergantian.


"Tujuan kita sama, ayo Masuk!" Kata pria tampan itu tiba- tiba.


"Serius mas? Alhamdulillah." Aku pun segera masuk ke dalam taksi, masa bodo dengan malu, ketakutan ku akan dipecat mengalahkan rasa Maluku saat ini.


"Makasih ya Mas!" Ucapku setelah menutup pintu mobil.


"ayo Jalan pak cepetan!" Pintahku.


🥀🥀🥀


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kata🙏🏻😊

__ADS_1


__ADS_2