
Hari ini Mas Doni tidak pergi bekerja, ia menemani mbak Linda di rumah karena tidak mungkin menyuruhku untuk tetap tinggal, dia tau, jika aku baru saja bekerja dan pastinya tidak baik kalau harus meminta ijin. Aku pun mulai kepikiran tentang kondisi mbak Libda yang hari ini mendadak pingsan. Aku putuskan untuk segera berangkat ke rumah sakit dan menemui dokter Tedi sebelum pergantian shift sore dimulai.
Ku kendarai motorku dengan kecepatan tinggi, berharap dokter Tedi masih ada di rumah sakit. Setibanya aku di rumah sakit, aku tak langsung mengganti pakaian ku dengan seragam dinasku, karena waktu masih pukul dua siang, masih ada waktu satu jam untuk pergantian shift. Aku segera mengambil kemeja dokter Tedi yang ku simpan di dalam loker ku kemarin, setidaknya aku punya alasan untuk menemuinya sebelum mengutarakan keinginanku untuk berkonsultasi mengenai penyakit dan kehamilan mbak Linda.
Tok... tok ... tok ku ketuk pintu ruangan Dokter Tedi, mumpung jam istirahat dan pasien tampak sudah tidak mengantri.
"Masuk!" Perintahnya.
Ku tarik handle pintu dan membukanya. Begitu pintu terbuka ternyata disana sudah ada profesor Adijaya dan dokter Firman sedang berbincang dengan dokter Tedi, sepertinya mereka sedang makan siang bersama, karena tak sengaja ku lihat ada beberapa paper bag beserta kotak makanan yang berjejer di atas meja. Betapa malunya dan gemetarnya aku, saat melihat mereka menatap ke arahku bersamaan, Aku tak bisa membayangkan sudah semerah apa wajahku saat ini karena wajahku sekarang terasa memanas.
"Debby?" Kata dokter Firman, menatapku penuh tanda tanya.
"M..aaf dok, sepertinya saya salah ruangan. Permisi, maaf mengganggu profesor dan Dokter-fokter!" Kataku seraya merundukkan badanku, lalu meninggalkan ruangan itu.
"Eh...Tunggu -tunggu, itu ditangan kamu apa?" Cegah dokter Tedi menghampiriku, ia melihat sesuatu yang aku bawa ditanganku, sepertinya dia cukup jeli mengenali barangnya yang saat ini ku bawa.
"Oh... Iya, ini kemeja dokter yang waktu itu." Lirihku.
"Tedi..." Sentak Dokter Firman dan profesor Adijaya mendengar perkataan ku yang mengagetkan dan membuat fikiran mereka berkelama kemana-mana, sepertinya mereka salah paham.
"Loh...Kenapa, teriak?" Tanah dokter Tedi melihat ke arah profesor Adijaya dan dokter Firman yang memelototinya sedari tadi
Ku berikan kemeja itu pada Dokter Tedi secepatnya dan aku segera meninggalkan ruangan itu sebelum rasa maluku berubah menjadi rasa tidak tau malu bagi meraka dan membuatku akan dapat masalah dipecat untuk yang kedua kalinya.
Bruuk... Ku tutup pintu ruangan itu secepatnya, lalu aku segera berlari menjauh dari ruangan itu.
"Debby... Sial banget sih kamu, mau ditaruh mana coba mukaku sekarang, apa lagi kalau ketemu sama dokter Firman dan profesor Adijaya." Gerutuku, memijat kepalaku yang seakan mulai pusing.
"Debby cantik... Mau kemana kamu buru- buru amat sih." Sela Mbak Lidia yang kelihatanya sudah mau pulang.
"Ya mau kerja lah mbak, emang mau kemana lagi coba?"
"Ih... Kenapa muka kamu kayak kepiting rebus, merah gitu, kayak baru di tembak cowok ganteng aja?"
"Masak? Bisa aja mbak, mana ada cowok ganteng yang mau sama istri orang mbak!" Candaku.
__ADS_1
"Istri kan di rumah, kalau di luar mah single." Candanya mencubit pipiku.
"Udah deh mbak nggak usah mulai, mau mbak ngomong berapa kali pun biar aku sama mas Doni pisah, aku tetep nggak akan terpengaruh. Aku setia hanya sama satu pasangan." Jawabku mantap.
"Kemakan omongan sendiri nanti baru tau lo ."
"Ih amit- amit, nggak akan. Udah aku mau kerja, da... mbak Lidia sexsy + gemoy!" Kataku sambil meninggalkan Mbak Lidia.
Ku putuskan untuk segera mengganti pakaianku dan pergi ke ruang UGD tempatku bekerja, walaupun hatiku tetap tak tenang karena terus memikirkan mbak Linda yang sedang menurun kondisinya dirumah.
🥀🥀🥀
Waktu sudah menunjukkan Pukul 8 malam aku menyudahi pekerjaanku, saat aku berjalan pulang menuju parkiran, tak sengaja ku lihat ruangan dokter Tedi masih menyala.
"Mbak, apa dokter Tedi masih ada di rumah sakit?" Tanyaku pada perawat yang baru saja berpapasan denganku.
"Oh iya Deb, dokter Tedi memang sering pulang malam." Jawabnya.
"Hemmm, oke makasih mbak."
Aku pun segera mengetuk pintu itu, tak ada pilihan lain lagi, mbak Linda lebih penting. Hatiku berdoa semoga di dalam tidak ada siapa- siapa seperti kejadian tadi siang.
Kubuka pintu setelah mengetuknya perlahan dan tak ada jawaban, terlihat ruangan tampak sepi, aku pun merasa lega. Netra ku tertuju pada dokter Tedi yang terlihat asik membaca buku di kursi kebesarannya.
"Kamu lagi," Kata dokter Tedi yang masih setia dengan buku bacaannya.
"Bagaimana dia tau aku yang datang?" Batinku bertanya.
"Maaf dokter, saya ganggu." Kataku, ia pun meletakkan bukunya dan melepas kacamatanya lalu melihat ke arahku.
"Saya tau, kemeja saya cuma alasan sajakan, duduk!" Katanya yang sudah seperti dukun, selalu saja tau jalan fikiranku.
"Mau ngapain?" Tanyanya.
"Konsultasi" Bisikku.
__ADS_1
"Konsultasi? Ke dokter Firman aja, Saya bukan dokter kandungan." Jawabnya sambil mengamati perutku sejenak, tertanda dia sudah tau kalau aku sudah menikah.
"Bukan, bukan saya bukan mau konsultasi masalah itu." Jawabku menegaskan.
"Terus?"
"Tentang kanker."
"Maksudnya kamu?"
"Bukan juga, bukan saya. Emmm... anggap saja dia kakak saya."
"Kakak kamu sakit kanker?" Tanyanya menyelidik.
"Jadi, kalau kena kanker rahim hamil gimana dok? Setau saya itu tidak dianjurkan?"
"Kamu..."
"Saya mohon dokter, ini sangat penting untuk saya." Mohonku memelas, sembari menangkupkan tanganku padanya. Ia pun menghela nafas panjang.
"Sudah hamil tadi kamu bilang?" Tanyanya, ku anggukkan kepalaku cepat, karena aku yakin mbak Linda memang benar hamil.
"Stadium?"
"Satu dok."
"Bukannya kamu tau kalau kesembuhan kanker pada stadium satu peluangnya sangat tinggi."
"Iya, saya tau dokter, tapi saya akan lebih tenang kalau orang yang lebih ahli yang menjelaskannya, saya nggak mau gegabah." Jelasku padanya, aku cukup tau diri dengan pengalamanku, bertanya pada yang lebih ahli adalah cara yang aman menurutku.
"Dengar ini baik-baik, aku tak akan mengulanginya," jelasnya, lalu kupasang telingaku baik-baik tak dan ingin melewati setiap informsi yang kudapat.
🥀🥀🥀
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kata🙏🏻😊
__ADS_1