
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 117
POV Debby
Bunda pergi ke hotel pagi- pagi sekali, Bunda berpesan bahwa Ijab kabul akan dilaksanakan pada puku 9 pagi ini. Bunda memintaku untuk berdoa agar tidak ada halangan apapun dan semua berjalan dengab lancar. Sebelum Bunda pergi, Bunda sudah mempersiapkan kebutuhan-kebutuhanku, seperti mengantarku ke kamar mandi dan lainnya. Karena hari ini tak ada yang menjagaku. Hanya ada dua orang yang katanya dari kepolisian yang menjaga di depan kamar sejak tadi malam. Mungkin ini ada hubungannya dengan insiden penusukan itu.
Tepat pukul 9, hatiku terasa berdegup sangat kencang memikirkan jalannya ijab kabul, meskipun aku tidak ada disana, tetap saja aku merasa tegang dan sedikit tidak tenang. Ini adalah perkara hidupku dan masa depanku.
Saat ini aku sendiri menanti dengan perasaan gundah, berbeda dengan pernikahanku sebelumnya dengan Mas Doni, kali ini aku benar- benar merasa ada sesuatu yang bergejolak, apa lagi jika harus mengingat setelah ini, setelah ini dia justru harus pergi di hari pertama setelah pernikahan kami, terbesit rasa ingin menjalani sebuah pernikahan yang wajar, tapi mungkin itu hanyalah mimpi. Ku lihat jendela kamar yang terhubung langsung dengan taman rumah sakit untuk mengurangi kegundahanku. Hingga suara seseorang dari arah pintu memanggilku "Debby" aku menoleh. Ternyata itu Dokter Teddy, yang sudah berdiri di depan pintu dengan wajah penuh haru, perlahan dia mendekatiku. Aku sempat khawatir saat melihat mendung di wajahnya. Takut terjadi sesuatu di acara ijab kabul tadi.
Dia tak menjawab saat aku bertanya ada apa kepadanya? Dia hanya memelukku, dan berbisik padaku bahwa dia berterimakasih karena aku sudah bersedia menjadi istrinya. Hingga kudukku pun merinding saat ia menyampaikannya tepat di telingaku. Ada rasa lega karena artinya ijab kabul berjalan dengan lancar dan ternyata mendung itu, mendung yang mengartikan kebahagiaan yang membawa hujan di musim kering.
__ADS_1
"Dokter, jangan kenceng- kenceng meluknya, nanti ada yang lihat. Perutku bisa sakit." Kataku yang merasa sedikit sakit pada bagian bekas operasiku karena harus menahan tubuh dokter Teddy.
"Hah, sakit? Yang mana?" Tanyanya melepaskan pelukannya.
"Tidur... Saya sudah kasih obat yang bagus, kenapa masih sakit? apa sakit sekali?" Tanyanya sambil memeriksa lukaku.
"Jam berapa pesawatnya?" Celetuk ku. Dia menghentikan aktivitasnya.
"Sepuluh" jawabnya singkat. Lalu kembali memeriksaku, kali ini yang aku lihat hanya dia yang enggan menatapku.
"Dokter Simon, dokter spesialis bedah di rumah sakit ini. Saya sudah berdiskusi denganya kemarin." Jawabnya begitu ringan, bahkan dia sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk meninggalkanku. Aku hanya bisa menunduk dan menghela napas pasrahku.
"O... Dokter sudah siap sekali, sampai sudah mendiskusikan segala sesuatunya." Sindirku.
__ADS_1
"Apa kamu sedang marah pada saya Debby?" Tanyanya yang menatapku.
"Tidak dok, "
"Jangan panggil dokter Debby." Terangnya lalu duduk di kursi sebelahku.
"Ini di rumah sakit, dan saya adalah pasien dokter." Jawabku.
"Kalau gitu, jangan pake 'saya' lagi. Sekarang hanya ada kata Aku dan kamu." Pintanya.
"Di rumah sakit nggak ada aku dan kamu, adanya saya dan kamu. Saya perawat dan dokter adalah dokternya, atasan saya." Jawabku, dia terlihat menghela napas panjang.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π