Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Debby pulang


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 167


"Ya, tentu saja, bagaimana aku bisa berjauhan darimu setelah apa yang kamu lakukan padaku?" Bisikku lagi, dia terkekeh.


"Tenanglah, Saya akan bertanggung jawab." Jawabnya, kamipun tertawa bersama.


"O ya Debby, ini untukmu, bawalah." Katanya membuka paperbag yang berisi boneka Teddy bear yang dia beli saat kami keluar waktu itu.


"Ini untukku ternyata?"


"Hemmm, peluk ini kalau takut di pesawat, jangan pegang- pegang tangan dokter Firman lagi!" Terangnya.


"Kamu cemburu sama dokter Firman?" Tanyaku tak percaya.


"Kalau iya memang kenapa?"

__ADS_1


"Berlebihan."


"Lebih baik mencegah daripada mengobati." Tutupnya, kata- kata yang sama dengan pemikiran ku saat ku usir bibit Pelakor dari rumah suamiku.


Suara panggilan untuk penerbangan kami pun akhirnya tiba, dokter Firman menghampiri kami.


"Debby, kita pulang. Teddy, kami tunggu kamu di Indonesia. Jaga kesehatan." Pamit dokter Firman.


"Mas, aku pulang, jaga diri dan hatimu, sampai ketemu."


"Jangan melow gitu, nggak pantes." Tutupku.


Ku ikuti langkah dokter Firman yang berjalan lebih dulu,


Hari ini kami pun harus berpisah, ku lambaikan tangan tanda perpisahan, begitu juga dokter Firman. Tak lupa ku ukir senyum kebahagiaan di wajahku, ku harap senyumku bisa mengurangi beban kesedihannya.


bulan berikutnya.

__ADS_1


POV Linda


Pagi ini kami duduk di meja makan, Aku, Mama, dan Papa, itu lah kebiasaan kami selama satu bulan terakhir. Lalu bagaimana dengan suamiku?


Dia selalu berangkat lebih pagi dari hari- hari sebelumnya. Sejak Mama dan Papa mengatakan bahwa Debby sudah memiliki pria lain, sejak itu pula mas Doni mengikuti dan mencari tau siapa laki- laki itu, bahkan rela menunggu di depan panti setiap hari hanya untuk mengetahui siapa yang menjemput atau mengantar Debby.


Sejak perpisahannya dengan Debby hidupnya semakin tidak terurus, lebih- lebih setelah satu bulan yang lalu, Debby mengembalikan semua bunga yang ia kirim dan menolak kedatangan Papa dan Mama, menolak untuk kembali pada kami. Ya, aku tau, apa yang dilakukan Mas Doni, dan aku mengijinkan, tapi semua itu sudah terlambat. Penyesalan selalu datang dibelakang, itulah yang ku alami saat ini. Apa yang ku lakukan pada Debby sangatlah tidak pantas, aku yang memaksanya dan aku pula yang membuanngnya. Bagai barang yang sudah tak ku butuhkan lagi aku memperlakukannya. Wajar saja jika dia sangat begitu membenci kami.


Beberapa waktu lalu aku mengalami kecelakaan tunggal yang menyebabkan aku kehilangan bayiku, dan yang lebih menyedihkan lagi adalah rahim yang selama ini aku jaga dan ku rawat harus ikut diangkat. Sekarang sudah tak ada lagi yang bisa ku harapkan. Kebahagiaan Mas Doni hanya Debby, dan aku? Aku hanya istri yang ada dalam status untuknya bukan yang ada di dalam hatinya lagi. Sejak kepergian Anak kami, Mas Doni sama sekali tak pernah menyentuhku.


Bukan, bukan sejak kepergian Anak kami, lebih tepatnya sejak kepergian Debby dari rumah kami malam itu. Dia lebih sering menghabiskan malam di kamar mantan madu kecilku. Dia hanya menemuiku saat anak kami membutuhkannya. Sakit? Jangan di tanya lagi, tapi rasa sakit ku tak sebanding dengan rasa sakit yang ku goreskan pada maduku saat itu.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2