
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 235
Tapi bu saya sungguh benar-benar malu, saya akan mengundurkan diri. Saya sudah salah melarang istri seorang direktur untuk tidak dekat denan suaminya sendiri." Ucapnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Oh, gitu ya sus, kalau itu keputusan yang sudah suster buat, saya tunggu surat pengunduran dirinya. Ucap mas Aska tiba-tiba
Kata-kata mas Aska membuat kami membulatkan mata sempurna, ku tepuk pundaknya dan berkata " kamu apa-apaan mas?"
Prov Teddy
Usai menyelesaikan drama suster Indah pagi ini dan setelah mama pergi bersama Debby, aku kembali kekamar Aldo untuk mengambil tas ku, dari pada Debby yang akan mengambilnya dan pastinya akan bertemu dengan Doni, akan lebih baik aku sendiri yang mengambilnya.
Dalam perjalanan ku menuju ke kamar Aldo aku terus saja memikirkan Debby, akhirnya aku mengerti sekarang mengapa Debby sangat begitu membenci orang-orang kaya, betapa sakitnya menjadi Debby dan diperlakukan seperti barang yang jika diperlukan akan di ambil dak jika tidak diperlukan maka akan dibuang.
tok...tok...tok.. Sebelum masuk ku ketuk pintu kamar Aldo, seberapa marah pun aku tetap saja tidak bisa meninggalkan norma sopan santun untuk mengetuk pintu ruangan seseorang sebelum memasukinya.
Aku masuk dan aku melihat Aldo sedang terlelap beristirahat, anak itu lagi-lagi membuatku menyunggingkan senyuman saat sedang melihatnya.
"Nak Teddy" panggilan bunda telah menyadarkan ku
"Bunda" balas ku seraya tersenyum, aku hanya melihat bunda saat ini tanpa adanya pasangan itu.
"Mana Debby?" tanya bunda
"Saat ini Debby sedang pergi Fitting gaun pengantin sama mama bun." jawabku
"Teddy kesini mau ambil tas mi." kataku
"Mari duduk lah sebentar, bunda mau bicara dengan mu."
Segera ku ikuti perintah bunda, lalu duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Mau bicara apa bunda? Silakan bunda."
"Pertama bunda ucapkan banyak terima kasih. Atas apa yang nak Teddy lakukan untuk Debby dan Aldo."
"Apa Aldo mau di adopsi oleh pak Doni?" pertanyaan itu akhirnya muncul, pertanyaan yang ku harapi jawabanya adalah (Tidak)."
"Semua itu butuh proses nak, tapi Aldo juga sangat dekat sama nak Doni mungkin akan lebih mudah bagi Aldo untuk menerima mereka dalam hidupnya."
"Jika saya dan Debby juga mengajukan adopsi pada Aldo. Apa Bunda akan mempertimbankan ulang untuk memberikan Aldo pada pak Doni dan Bu Linda. Saya rasa Debbylah yang lebih dekat dengan Aldo." jelas ku seraya tersenyum
"Nak mungkin kamu membenci mereka karena Debby, tapi mereka lebih membutuhkan Aldo dari pada kalian. Debby masih sangat muda, dan sahimnya pun sangat sehat kalian bisa mendapatkan anak berapapun yang kalian inginkan."
Ku hela nafas, sepertinya apa yang Bunda fikirkan sama seperti apa yang Debby fikirkan.
"Lagi pula nak teddy kan seorang dokter, pasti lebih tau caranya untuk menjaga rahim Debby, merawat agar cepat mendapatkan momongan." canda bunda dan menyenggol lengan ku.
"hmm, bunda bisa saja, semua kehendak allah bun, kita hanya bisa berusaha saja." jawab ku tersenyum
"Tapi bunda, jika Aldo berkeberatan dengan hal ini atau barang kali pak doni bersikap kurang baik pada Aldo seperti sikapnya pada Debby, kami siap menerima Aldo." Putus ku
Aku mengalah, keputusan bunda bagiku adalah mutlak, aku tak bisa membantahnya.
Ku hampiri tempat tidur Aldo, ku kecup puncak kepalanya lalu berpamitan padanya ''Om pergi dulu ya nak." lirih ku, entah kenapa walau hanya sebentar, anak ini mampu mencuri perhatian dan hati ku.
"Bunda, saya pergi dulu, Assalamualaikum." pamit ku pada bunda
"Walaikumsalam."
Ku tinggalkan Aldo saat ia masih dalam buaian mimpi indahnya. Karna jika meninggalkanya saat masih terjaga akan lebih memberatkan langkah ku.
πΈπΈ
Prov Debby
__ADS_1
Mama dan aku pergi menuju tempat dimana gaun pengantin dipesan dan dua laki-laki yang menjemput ku diruang rawat mas Doni waktu itu. Mereka sebenarnya adalah pengawal pribadi mama jika dibutuhkan, atas perinta suamiku mereka mengikuti kami. Aku tak tahu apa yang ada di dalam fikirannya saat ini, yang hanya aku tau hal ini terlalu berlebihan saja untuk ku.
Kami telah sampai di sebuah butik besar yang di dalamanya terdapat banyak sekali gau-gaun indah yang terpajang . Jujur saja dari pertama aku di beritahu akan fiting gaun, batin ku selalu bertanya-tanya, bagaimana aku bisa langsung fitting baju? Apa ukuranya akan pas di tubuh ku? Jika aku tak pernah kesini sekalipun untuk mengukur ukuran tubuhku sebelumnya, namun sebagai orang awam aku hanya mengikuti tanpa banyak kata.
Mama membawaku masuk ke dalam dan beberapa orang terlihat menyambut kami dengan hangat, sepertinya mama sudah membuat janji sebelumnya.
"Jadi ini calon menantunya?" tanya seorang wanita paruh baya namun masih terlihat sangat begitu cantik dan sangat modis dengan gaya rambut pendek sebahu.
Dari penampilan dan bagaimana para pegawai memperlakukanya, bisa dipastikan dia adalah pemilik tempat ini.
"Iya jeng, inilah menantu saya yang saya ceritakan, ayo kenalkan!" ucap mama
"Kenalkan saya Marlina, temanya mama mertua kamu." katanya seraya mengulurkan tanganya ke arah ku.
"Saya Debby tante." ku sambut uluran tangan tante Marlina.
"Wah, cantiknya." katanya yang memegangi pipiku dengan lembut, aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Diam akan lebih baik bagiku saat aku harus berkumpul dengan kaum-kaum sosialita seperti mereka.
"Ya udah, mari ikut tante sini, kita coba gaunya yuk!" seru tante marlina
Aku menoleh ke arah mama, dan mama mengangguk tanda setuju. Dan aku pun mengikuti langkah tante Marlina. Bersama dengan dua orang pegawai yang berjalan dibelakang ku. Ada rasa canggung karena aku sama sekali belum pernah masuk ke tempat seperti ini sebelumnya.
Mereka membawaku ke tempat dimana sebuah gaun berwarna putih gading terpajang begitu indah bersisihan dengan jas yang warna senada.
"Ini gaun kamu dan Teddy." ucapnya memegang gaun tersebut dan menunjukanya pada ku.
Dari caranya memanggil suamiku, sepertinya mereka sudah sangat dekat.
"Gaun ini Teddy sendiri yang memilih dan meminta tante untuk membuatkan gaun seperti ini, dari model, akses-aksesnya semua dia sendiri yang memintanya pilihanya memang sangat tepat dan terbaik. Dia sangat romantis ya?" tanyanya kemudian
Ku sunggingkan senyum ku, karena romantis sangat jauh dari sosok suami ku. Tapi, tetap bagiku dia adalah laki-laki yang terbaik, tak ada yang memperlakukan ku lebih baik dibandingkan dengan suami ku. Jika dia kurang romantis mungkin itu karena pekerjaan yang cukup padat dan sangat menguras tenaga dan juga fikiran selalu menantinya setiap saat.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..