Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Bersabar


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


"Sayang kamu kenapa?" gagal, pertanyaan mama semakin membuatku ingin meluapkan segala emosi ku, aku pun langsung menangis di pelukan mama, jika mas Aska lebih memilih untuk marah dibandingkan menemaniku disaat dia tau jika aku benar-benar terluka atau memeluk ku di saat aku dalam keadaan seperti ini. Maka apa lagi yang harus aku harapkan?


"Debby kenapa kamu nak?" Tanya mama mengusap punggungku dengan lembut.


Debby...Debby...Debby sedang sakit ma, sakit...sekali." ucap ku dalam dekapan mama.


"Ya allah Debby sayang, kenapa kamu sayang. Ayo sini duduk dulu ceritakan lah pada mama apa yang sebenarnya terjadi?" ucap mama seraya mengurai pelukan ku lalu mengajak ku untuk duduk di sofa tamu. Kami duduk bersisihan dengan mama yang masih terus mengusap punggung ku, untuk menguatkan ku.


"Kenapa? Ada apa, siapa yang telah menyakiti kamu Deb? Apa anak mama yang sudah melakukanya?" Tanya mama dengan lembut seraya menenangkan ku lalu memegang tangan ku.


"Jadi, mas Aska marah ma sama Debby, karena Debby sudah nggak jujur tentang hati Debby dan juga kejadian tentang tante meri, surat kabar yang beredar hari ini juga. Debby hanya berusaha untuk tidak berlebihan saja, lagi pula semua yang di katakan mereka juga memang adanya kan." jelas ku di tengah tangisan ku.


"Debby sayang, kamu nggak salah jika kamu mau bersikap untuk tidak berlebihan, namun setidaknya bercerita pada pasangan dan bersikap saling terbuka itu jauh lebih baik, supaya pasangan kamu juga merasa di butuhkan." jelas mama


"Tapi mas Aska bilang nggak suka bahas masalah status ma, katanya itu akan melukai hatinya saja, dan aku tak ingin melukai hatinya ma. Namun aku sendiri tidak bisa memungkiri bahwa perasaan ku sakit sekali saat mendengar hinaan dan hujatan itu walaupun kenyataanya semua itu ada benarnya. Terlebih aku tidak memiliki siapa-siapa untuk berbagi."

__ADS_1


"Aduh... Manisnya menantu mama ini, baik sekali sudah mau menjaga hati anak mama biar nggak sakit." katanya tersenyum rama.


"Iya, mama mengerti sayang, tapi masalah surat kabar itu seharusnya di bicarakan, karena itu menyangkut masalah yang sangat serius, harga diri kamu dan nama baik Teddy bahkan nama baik keluarga besar dipertaruhkan." jelas mama panjang lebar membuat ku semakin diliputi bersalah, karena ke egoisan ku aku tak sempat berfikir sejau itu.


"Oh... Gitu ya ma." sebagai pasangan baru aku harus lebih banyak belajar dari mereka yang sudah lama makan garam tentunya lebih berpengalaman.


"Iya dan jangan sekali-kali merasa sendiri ya Debby, mama adalah mama kamu kalau kamu merasa membutuhkan seseorang untuk berbagi mama akan selalu ada untuk mu." Terang mama membuat hatiku merasa hangat. Ku anggukan pelan kepala ku.


"Ya udah nggak usah sedih, mama yakin jika mas mu itu kecapean aja karena kesibukanya, nggak bener-bener marah. Ya udah kita makan dulu yuk keburu dingin nanti makanya." kata mama yang menghibur ku lalu membukakan paper bag pemberian mas Aska tadi.


🌸🌸🌸


Setelah makan malam ku dan mama berakhir, aku segera menuju ke kamar mdengan membawa koper yang di tinggalkan di ruang tamu begitu saja oleh suami ku.


"Huf.. Akhirnya sampai juga." ucap ku, seraya membuka pintu. Membawa koper dan menaiki tangga yang begitu tinggi, membuat nafas ku sedikit ngos-ngosan.


Ku bawa koper ke arah lemari, sesekali ku lirik mas Aska yang sudah mengenakan piyama dan tidur di ranjang memiringkan tubuhnya membelakangi sisi yang akan ku tempati, sepertinya dia sengaja ingin menghindari ku.

__ADS_1


"Mas bangun, ayo makan lah dulu." seru ku menggoncang-goncang tubuhnya. Aku membawa satu kotak ayam bakar balado kesukaanya, karena ayamnya cukup besar jadi aku dan mama cukup memakan satu saja.


Dia tetap pada posisinya dan hanya diam ku letakan kotak makan itu di atas meja yang ada di samping ranjangnya, lalu meninggalkanya.


"Hmmm... Bagai mana bisa membiarkan istri yang sedang bersedih menanggung kesedihanya sendiri? Egois sekali." gerutu ku sembari mengambil piyama dari dalam koper lalu memakainya.


Hati ku terasa panas saat melihat dia sangat begitu pulas saat masalah masih sangat memanas. Ku hempaska. Tubuhku ke ranjang dengan sekasar mungkin berharap dia akan terbangun saat merasakan goncangan yang sudah ku buat.


Namun semuanya sia-sia saja, nampaknya dia sangat lelap. Ku mainkan handpone ku, untuk sekedar mengisi penat ku, karena aku tak akan bisa tidur. Jika perasaan ku masih sangat kesal dang mengganjal. Ku buka sosial media, ternyata masih begitu banyak gosip yang beredar tentang keluarga atmajaya, sepertinya aku harus lebih kebal untuk menghadapi semua ini.


Ku hela nafas panjang, lalu ku tutup sosial media ku, percuma juga jika aku menjelaskan semuanya bahwa aku adalah menantu keluarga Atmajaya, mereka pasti tidak akan pempercayainya menganggap aku tidak waras dan terlalu berharap. Aku bukan lah siapa-siapa bagi mereka, aku hanya dapat bersabar hingga acara resepsi ku di gelar.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2