Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Buah tangan


__ADS_3

Aku bukan rahim Cadangan


Part 165


Seperti rencana kami, usai makan malam kami mencari buah tangan untuk profesor di sebuah pusat perbelanjaan yang sangat besar di kota London.


"Jangan mengintiliku terus!" Kataku, saat aku tau dari tadi Mas Aska mengikutiku sedangkan Dokter Firman sibuk mencari barang.


Dokter Firman meminta kami untuk berpencar agar lebih cepat mendapat barang-barang yang di pesan oleh Profesor.


"Nanti kamu ilang sayang. Tempat ini sangat besar dan ramai." Jawabnya.


"Emangnya aku anak kecil? Kamu modus kan Mas?" Tuduh ku.


"Sayang... Udahan dong marahnya, jangan marah- marah terus. Mending kamu milih pengen apa, tinggal pilih!" Ucapnya menunjuk pada barang- barang yang ada di depanku.


"Memangnya kamu bisa tuker sakit hati dengan barang?"

__ADS_1


"Kan saya udah meminta maaf, saya juga udah cuci muka berkali- kali sama sabun cuci muka kamu, biar wanginya sama dan kumannya pada hilang semua."


🌸🌸🌸


Kami segera pulang setelah mendapatkan semua barang pesanan dari profesor. Ku lihat Mas Aska membeli sebuah boneka Teddy bear berukuran sedang. Entah untuk apa dia membelinya aku juga tidak tau dan tidak peduli.


Aku dan dokter Firman masuk ke kamar masing- masing setelah sampai di Apartemen. Sedangkan Mas Aska masih harus memarkir mobil.


"Selamat istirahat Debby" kata dokter Firman sebelum masuk ke kamar.


Ku letakkan tas belanjaku di atas ranjang, ku beli sedikit oleh- oleh untuk Bunda dan adik- adikku yang sangat aku sayangi itu. Lalu aku bergegas ke kamar mandi. Udara dingin membuatku lebih sering pergi ke kamar mandi dari biasanya.


Ku hembuskan nafas kasar saat keluar dari kamar mandi dan ku lihat Mas Aska yang sudah duduk manis di sebuah kursi empuk yang menghadap ke arah jendela kaca besar di kamar kami, sambil memandang langit malam kota London.


Aku berdecih dengan kesal "Pake lupa kunci pintu segala lagi!" Gerutuku, Ku hampiri pintu, kunci sudah tak ada disana.


"Cari ini sayang...?" Tanyanya memperlihatkan kunci kamar yang ada di tangannya, ku hampiri dan ku raih, tapi gagal. Dia memasukkan ke dalam baju lapis tiganya dengan cepat. "Nih Ambil sendiri kalau mau." Katanya mengangkat tangan.

__ADS_1


Bagai senjata makan tuan, aku yang harusnya mengunci pintu namun justru aku sendiri yang dikunci.


Aku berdecih dan berbalik meninggalkannya, dia menarik tanganku hingga aku jatuh kepangkuannya "Mau kemana?" Tanyanya dengan tatapan yang mengerikan.


"Mau apa?" Tegasku


"Jangan macam- macam." Sambungku berusaha melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku.


"Udah marahnya, jangan marah- marah terus. Jangan mengisi kebersamaan yang cuma sebentar ini dengan amarah. Marah, boleh, tapi jangan membiarkan kemarahan itu berlarut, atau bahkan menginap sampai hari esok Debby." Ucapnya penuh kelembutan, lagi- lagi dia membuatku malu dengan caranya menyelesaikan masalah tanpa amarah, yang terlihat di wajahnya saat ini hanya raut ketenangan dan senyum penuh kelembutan, jauh dari kata kaku.


"Kamu, istri saya, kamu, satu- satunya yang ada di hati saya. Jujur, banyak wanita di luar sana yang mengharapkan saya menjadi suami mereka. Tapi yang harus kamu ingat adalah bahwa Istri Dokter Teddy adalah kamu Debby, nggak ada yang lain." Sambungnya, apa yang dikatakan olehnya tak lantas membuatku luluh.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2