
Aku bukan rahim cadangan
Patr 245
"Cukup, stop. Aku mandi dulu." jawab ku terbata-bata. Alih-alih mengerjai orang namun tanggapan serius lah yang aku terima sekarang.
Dan akhirnya aku melakukan saran dari mas Aska, untuk memakai kimono mandi seadanya. Kimono yang cukup panjang membuatku tak lagi cemas dan repot. Ku buka pintu kamar mandi. Ku lihat mas Aska yang sedang duduk di sofa dan sedang asik nonton Tv yang sedang menyala, namun setelah ku perhatikan lagi pandanganya kosong. Apa yang sedang dia fikirkan, aku tak tau karena dia tak pernah membahas masalah diluar masalah pribadi saat sedang bersama ku. Aku menghargainya dan sebagai seorang istri aku hanya bisa berusaha menghibur. Ku dekap lalu ku rangkul dari belakang. "Kamu melamun mas?" bisik ku
"Hei, kamu sudah selesai?" tanyanya seraya mengusap tanganku. "Ayo sini." seru nya lagi, membawaku ke pangkuanya. Kebiasaan yang biasa dia lakukan di saat lelah karena berkutat dengan banyaknya pekerjaan.
"Bukanya sekarang sedang tidak ada pekerjaan?" tanya ku
"Ada."
"Hah?, jadi kamu lagi sibuk mas? Zoom meeting apa gimana? Tanyaku seraya mencari kamera yang mungkin saja menyala saat ini.
"Pekerjaan yng lain, pekerjaan yang lebih penting."
"Apa itu?"
"Ya bekerja sebagai suami lah, biar kita bisa cepet dapet seperti Aldo kan."
Aku tekejut mendengar perkataan mas Aska, fikiran ku mulai takut, takut tak bisa memberikanya.
"Kenapa diam gitu? Apa kata-kata saya ada yang menyinggung kamu?"
"Enggak mas, hanya saja aku teringat dengan mbak Linda. Apa kamu juga akan menikah lagi jika aku tidak bisa memberikan momongan seperti mbak Linda?"
"Husss... Kamu itu ngomong apa sih Deb, nggak boleh ngomong gitu.nggak baik, kata itu adalah doa."
__ADS_1
"Lalu"
Mas Aska membuang nafasnya pelan lalu berkata "Menikah itu saling menerima kekurangan atau kelebihan pasangan, saling melengkapi, saya tau anak penting dalah pernikahan tapi menjaga hati wanita juga lebih penting. Apa pun ke adaan kamu, apa pun yang terjadi saya akan menerima. Karena saat saya mengucapkan janji , saya terima nikahnya Pricilia Debby permata di waktu itulah saya pun berjanji akan selalu mencintai dan membersamai kamu sampai tua nanti tak akan ada yang lain. Masalah anak kita hanya bisa berusaha dan saya yakin disetiap usaha itu tak akan ada sia-sia." penjelasan yang sangat begitu lembut di berikanya padaku.
"Lalu apa yang akan kamu katakan jika statusku akan jadi bahan gunjingan?" selama ini aku memang tak pernah membicarakan maslah hinaan-hinaan dari orang lain yang menyangkut perbedaan status kami. Aku lebih memilih untuk memendamnya, karena apa yang mereka katakan bukanlah kebohongan melainkan nyata. Terlalu naif bila aku membantanya, jadi diam itu lah yang lebih baik.
"Status? Saya nggak pernah berfikir status sama sekali, bukan kah yang lebih berkewajiban menafkahi kamu itu saya? Jadi lebih baik kamu yang sekarang aja, biar pahala saya bisa bertambah banyak. Memuliakan istri." jawabnya
"Idih gombal."
Hening
"Deb"
"Ya?"
"Jangan membicarakan status lagi ya, itu sangat melukai hati saya sangat...saya nggak suka sekali membahas masalah status itu.
"Cantik" gumamnya seraya membelai rambut ku yang baru saja ku gerai bebas.
Dan kami pun mengakhiri perbincangan malam sesuai dengan rencana sebelumnya. Ku habiskan malam ini dengan penuh cinta bersamanya dengan harapan bahwa malam ini akan membuahkan hasil seperti yang kmi harapkan, yaitu tumbuhnya benih cinta kami di dalam rahim rahim ku.
Prov Teddy
Aku mengeliat saat ku dengar handone ku berdering, ku ambil handpone ku yang ku letakan di atas meja nakas, dengan mata yang masih belum terbuka sempirna.
"Halo." jawab ku dengan nada masih malas.
"Kamu nge-band lagi?" aku sontak terkejut seraya duduk di atas ranjang, itu suara papa yang terdengar begitu jelas dan tegas dari sebrang sana.
__ADS_1
"Enggak kok pa." jawab ku
"Sudah jangan membohongi papa Teddy, kamu lihat di surat kabar hari ini! Wanita murahan mana yangnkamu bawa ke hotel? Ingat Teddy kamu sudah memiliki istri! Jaga sikap kamu sebagai anak papa, jangan menciptakan banyak masalah dan banyak gosip disana sini." jelas papa dengan nada yang begitu tingginya. Aku tersentak, ku buka mata lebar-lebar.
"Maksud papa apa? Aku nggak ngerti pa?."
"Coba kamu baca surat kabar hari ini. setelah itu kamu yang ke kantor apa papa yang ke rumah sakit?" tutupnya.
Ku hembuskan nafas lelah ku "Ya allah apa aku tak bisa santai sehari saja? Surat kabar apa lagi itu." gumam ku, ku lihat Debby yang masih tertidur pulasnya, jam dinding sudah menunjukan hampir pukul tujuh. "Aduh telat lagi, pantes saja papa suda mendapatkan surat kabar." ku usap wajah dan ku ambil pakaian ku yang semalam ku letakan tak beraturan lalu menuju ke kamar mandi.
"Debby... Ayo bangun. ini sedah pagi sayang." seru ku sebelum menuju ke kamar mandi, seraya menggoncang pelan tubuh Debby yang masih bersembunyi di dalam selimut.
Ku hampiri Debby yang terlihat suda berada di sofa saat aku kembali, "mandi lah setelah itu saya akan antarkan kamu ke apartemen."
"Debby" sentak ku seraya mendekatinya, saat ku sadari Debby tak menyahut saat aku mengajaknya untuk berbicara.
"Kamu kenapa?" tanya ku seraya duduk di sebelahnya.
"Nggak, ya udah aku mandi dulu, setelah itu antar aku ke tempat bunda dulu." pintanya seraya beranjak dari sofa.
"Bunda? Maksudnya kekamar Aldo?"
"oh iya, aku lupa , bunda pasti ada dirumah sakit kalau pagi ya? Ya udah ke apartemen aja. Atau ambil motor ku aja dulu ke bengkel." putusnya
Ada yang mengganjal dari prilaku Debby kali ini, jika bisa ku rasakan saat ini hanya tubunya saja yang ada di sini saat ini sedangkan fikiranya entah berkelana kemana. Ku biarkan Debby menuju ke kamar mandi biarlah setelah nanti dia membersihkan diri baru aku tanyakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Mataku tertuju pada menu sarapan yang ternyata sudah di antarkan, terdapat pula sebuah surat kabar harian yang tergeletak diatas meja, aku pun teringat dengan perkataan papa tadi pagi.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..