
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 133
"Lili? Ya nanti akan saya kirim bunga Lili."
Deg...
Nanti? Bukankah selama ini dia selalu mengirimiku bunga Lili? Dan bunga mawar itu hanya sekali? Apa aku salah mengira? Perasaan ku mulai tak tenang, tapi tak mungkin membahas lebih dalam tentang bunga, lebih baik aku mencari tau terlebih dahulu, yang pasti aku tak mau merusak hubunganku dan merusak malam ini hanya karena perkara bunga.
"Kenapa? Kok jadi Bengong? Kamu mikir apa?" Tanyanya, membuyarkan lamunanku yang sedang menerka siapa pengirim bunga Lili itu yang sebenarnya.
"Nggak dok"
"Dok lagi,"
"Dokter cinta" Godaku, ku letakkan daguku di atas pundaknya.
Kami berbincang cukup lama,
"Perut kamu sudah sembuh Deb? Coba saya lihat!"
"Sudah."
__ADS_1
"Mana?" Tanyanya dengan tangan yang sudah berpindah di perutku.
"Udah, ngga usah di lihat" ku jauhkan tangannya dari ku.
"Kenapa? Saya dokter kamu katanya." Katanya membuka kancing bajuku.
"Udah sembuh, nggak usah dilihat." Tolakku. Senyum kembali tersungging di bibirnya, dan tiba- tiba dia mengunci bibirku dengan bubirnya. Ku pejamkan mataku untuk sejenak. Walau hanya sekedar bercumbu dan berakhir dengan tidur bersama dalam dekapannya, namun bagiku itu sudah lebih dari cukup.
πΈπΈπΈ
Aku mengerjap saat mendengar adzan subuh berkumandang, kali ini aku harus bangun lebih awal darinya. Aku berbalik hendak membangunkan suamiku untuk beribadah subuh. Alih- alih ingin membangunkan justru aku yang dibangunkan dengan aroma wangi dan parfum dengan wangi maskulin yang sudah menyebar di ruangan kamar hotel. Suamiku sudah duduk bersila menghadap kiblat "kalah lagi" gumamku, ku hempaskan tubuhku kembali.
Dia tersenyum menoleh padaku, lalu menghampiriku masih dengan Koko dan sarung kesayangannya.
"Selamat pagi sayang... Mau sarapan apa?" Tanyanya membelaiku dan membungkukkan badannya ke arahku.
"Kenapa tidak membiarkan ku bangun lebih pagi, sekali... saja?"
"Hahaha, karena saya suka kalau lihat kamu lagi tidur, melongo. Jadi saya harus bangun lebih dulu." Ujarnya,
"Hah?" Kututup mulutku dengan tanganku saat mendengar alasannya. "Masak iya aku melongo?" Gumamku.
"Hahaha, udah buruan mandi, saya sudah beli baju. Pake! Setelah itu kita berkencan." Serunya, memeberikan sebuah paperbag warna coklat padaku.
__ADS_1
"Bohong ah, masak iya aku melongo? Mengada- ada!" Jawabku membawa paperbag yang dia berikan dan menuju kamar mandi.
πΈπΈπΈ
Ku buka dan segera ku pakai, di sana sudah ada celana jeans, kaos, lengkap dengan jaket dan masker hitam.
"Jaket? Masker?" Ku masukkan lagi ke dalam paperbag, ku kira hari ini akan panas, tak perlu memakai jaket.
Saat aku keluar dari kamar mandi, ku lihat dokter cintaku sudah merubah penampilannya dari Koko dan sarung dengan celana jeans dan jaket kulit, lengkap dengan sepatunya.
"Kenapa dandan seperti ABG?" Tanyaku yang menghampirinya.
"Kita akan jalan- jalan, seharian, pake motor kemarin?" Jawabnya masih sibuk dengan tali sepatunya.
"Kemana?"
"Kamu mau kemana?" Tanyanya menghampiriku, mengambil jaket dari tanganku dan memakaikannya ke padaku.
Aku hanya bisa mengikutinya tanpa bisa menolaknya.
"Kita pikirkan nanti, kita cari sarapan dulu. Pake maskernya! Katanya nggak mau kelihatan orang." Perintahnya seraya memberikan masker hitam padaku.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..