Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Menjenguk


__ADS_3

Aku bukan rahim Cadangan


Part 188


"Mbak pikir aja sendiri." Tutupku lalu meninggalkan Mbak Lidia yang masih terlihat sangat shock.


Ku kenakan Gamis pemberian suamiku, lalu menuju ke tempat yang sudah di katakannya tadi, gerbang belakang. Bagaikan pasangan muda yang sedang menjalani backstreet. Pilihan yang tepat. Ya, gerbang belakang memang lebih sepi dan memang jarang ada orang lewat di sana.


Aku berdiri di sebelah kanan gerbang, menunggu sambil sesekali memainkan tas ku. Ku lihat sebuah mobil yang tak asing lagi bagiku berhenti di depanku. Kaca mobil dibuka,"Masuk" seru suamiku yang berada di depan kemudi namun dengan pandangan lurus ke depan tak menoleh sedikit pun. Sepertinya dia masih marah padaku.


Aku pun bergegas masuk ke dalam mobil. Tanpa basa- basi dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Dia bahkan tidak memuji penampilanku sama sekali? Sungguh keterlaluan, rugi dong dandan maksimal, boro- boro dipuji dilirik aja nggak." Batinku mengeluh.


Ke dekati wajahnya "Apa ada yang salah?" Tanyaku. Dia tak menjawab, aku pun kembali pada posisiku, dia bahkan tak menganggap ku "dikacangin" batinku. Aku pun tau diri dan tak lagi banyak bicara.

__ADS_1


Drrrrrt... ponselku bergetar, panggilan masuk dari nomor baru yang tak ku kenal, aku tak mengangkatnya. Tapi, panggilan itu terus masuk. Ku putuskan untuk memasukkan ponselku ke dalam tas saat ku sadari orang di sebelahku melirik ke arah ponselku. Tapi ponsel itu masih bergetar.


Ciiiiiitt... Mobil di rem mendadak, kalau saja seat bealt tidak terpasang mungkin sudah terjadi benturan "Apa- apaan sih Mas?" Sentakku.


"Sini in ponsel kamu!" Serunya dengan wajah merah membara. Aku terkejut, namun tetap menurutinya dan mengambil ponsel dari dalam tasku, harusnya aku mematikan ponselku, tapi karena aku buru- buru, aku lupa melakukannya.


"Sini!" Serunya seraya mengulurkan tangannya. Ku berikan ponsel ku padanya. Baru kali ini aku melihat kemarahan yang begitu menakutkan di wajah tampan itu.


"Halo Debby, kapan kamu menjenguk Mas Doni? Bukankah kamu sudah berjanji?" Suara yang tidak lain adalah Mbak Linda itu terdengar begitu jelas oleh suamiku. Aku terperangah, saat ini pasti dia akan salah paham ke pada ku.


Dia tak menjawab pertanyaan mbak Linda. Tak seperti dugaan ku sebelumnya yang ku kira dia akan memarahi mbak Linda. Dia justru mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Meremas ponsel ditangannya. Dia terlihat menghembuskan nafas panjang, sepertinya dia mencoba untuk menahan amarahnya, memijat kepalanya dan mengusap wajahnya "Bisa jelaskan sama saya Debby? Apa maksudnya barusan?" Tanyanya dengan lembut namun menyiratkan kekecewaan.


"Mas, ini nggak seperti apa yang kamu pikirkan."

__ADS_1


"Iya, terus maksudnya apa Debby? Jangan berbelit!" Tegasnya.


"Jadi, semalam Mas Doni..."


"Nggak usah panggil Mas!" Potongnya, ku telan salivaku.


"Iya... Jadi Pak Doni semalam masuk rumah sakit, kebetulan aku yang tangani sama Alex. Terus aku antar sampai ke kamar rawat karena pihak keluarga juga maunya aku yang mengantarkan."


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2