
Aku bukan Rahim Cadangan
"Hemmm"
Hening
"Gimana saya bisa tega ninggalin Debby ditengah peliknya masalah, sendiri. Belum juga Vannai, yang semakin berani." Batin Teddy dipenuhi kegalauan.
"Dok! Kenapa dokter baik sama saya?" Tanya Debby memecah keheningan.
"Kenapa? Bukanya kita harus baik sama sesama?"
"Dokter kasihan sama saya?"
"Apa? Nggak."
"Iba?" Lanjut Debby.
"Apa sih Deb, kamu tau sendiri disini cuma kamu yang saya kenal pertama kali, dan saat saya bertemu kamu pertama kali saya ..."
"Apa? Kenapa?" Sela Debby.
"Lupakan."
"Nggak seru ihh."
"Kamu tau Deb, saya punya cita- cita."
"Apa?"
"Nanti kalau kamu sudah gede, saya mau ajakin kamu."
"Kemana?"
"Nikah "
"Ngaco! Saya udah gede juga. udah janda malah!"
"Jadi mau nikah sekarang?"
"Bukan gitu maksudnya."
"O ya dok, kita pulang pake apa? Dokter sudah pesen taksi?"
"Sewa mobil di depan tu." Kata Teddy, menunjuk mobil Toyota Pajerosport milik Bu Widia.
"Bagus banget, nggak mahal?" Tanya Debby lugu.
"Nggak,"
"tapi sepertinya saya pernah lihat mobil itu dok?"
"dalem mimpi kali!" Jawab Teddy santai
POV Teddy
Ponselku berbunyi saat aku menuju keluar gedung. Mama mengirim pesan untuk memakai mobil dan sopirnya.
Aku segera membawa Debby masuk ke dalam mobil.
"Ke apartemen pak." Perintahku pada sopir Mama.
__ADS_1
"Iya Tuan Muda."
"Siapa yang nyuruh bapak panggil saya tuan muda? Saya bukan tuan mudamu."
"Nyonya, tuan."
"Panggil Mas aja."
"Oh iya Mas."
Aku masuk mengikuti Debby. Kami menuju apartemen karena kaki Debby harus segera diobati.
Di dalam mobil Debby terlihat lebih banyak diam. Kami duduk di bangku belakang, bersisian.
"Mikirin mantan Deb?" Tanyaku mencairkan suasana.
"Nggak dok, Bunda, saya memikirkan Bunda." Jawab Debby.
"Kenapa nggak jujur? bukan kah lambat laun juga akan tau."
"Belum siap membuat orang yang paling berjasa dalam hidup saya bersedih." Jawab Debby yang membuatku tersentuh.
"Orang kaya selalu bertindak semau dan seenak mereka, rasanya sangat malas berhubungan dengan orang kaya. Sedikit bercerai sedikit minta rujuk. Apa hati orang miskin serendah itu?"
"Nggak semua orang kaya seperti itu Deb." Jawabku.
"Suamimu minta rujuk? Kenapa nggak mau? Bukankah kamu sangat mencintainya?" Tanyaku.
"Berhubungan dengannya sama saja menambah masalahku, dimadu itu rasanya nggak enak dok dan nggak menutup kemungkinan kalau saya bakal di cerai lagi kan nantinya?" Jawab Debby, ku pikir Debby hanya gadis lugu dan ke kanak- Kanakan tapi ternyata pikirannya jauh lebih dewasa.
Hening
"Debby!"
"Ikut saya ke USA!" Ku berikan tawaran pada Debby, meninggalkan Debby sendiri bukan pilihanku. Apalagi masalah sudah siap menghadangnya.
"USA? Mau ngapain disana?"
"Ya, disana, sama saya. Jakarta terlalu kejam untuk orang- orang seperti kita, orang yang nggak punya siapa- siapa."
"Dokter juga yatim piatu seperti saya?"
"Lebih tepatnya, hubungan saya dengan keluarga saya tidak harmonis dan saya memutuskan untuk pindah ke USA, dan memutuskan hubungan dengan keluarga saya." Jelasku pada Debby.
"Saya aja pengen... Punya keluarga. Dokter malah memutuskan hubungan dengan keluarga."
"Gimana? Mau nggak?"
"Bukan muhrim."
"Maksud kamu, kamu mau di halalin dulu sebelum kesana?" Tanyaku mendekati wajah Debby yang saat ini mulai memerah.
"Ih... Dokter jangan menghalu terus deh."
POV Teddy
"Dok, itu tempat sewa bajunya. Kita mampir dulu aja, kalau nggak dibalikin saya nggak bisa tidur nantinya. Ini kan baju mahal." Kata Debby yang membuatku benar- benar ingin tertawa melihat tingkah polosnya. Debby bisa dalam sekejap bersikap dewasa dan dalam sekejap pula berubah seperti anak kecil yang tak punya pegangan.
"Ya, terserah kamu aja lah. Pak, berhenti di depan." Perintahku pada supir Mama.
Kami pun turun dari mobil. Ku bantu Debby untuk turun mengingat kaki Debby yang masih belum tersentuh obat.
__ADS_1
"Nggak usah di gendong dok, saya mau jalan sendiri." Kata Debby saat aku mengulurkan tanganku dan bersiap untuk menggendongnya.
"Bisa?" Tanyaku, Debby mengangguk Pelan. Ku biarkan Debby berdiri sendiri, aku tak mau memaksanya. Mungkin Debby kurang nyaman denganku.
"Pak, bapak pulang aja. Saya sudah pesan taksi." Bujukku pada supir Mama. Setelah ku pikirkan masak- masak. Aku tak mau kalau sampai Mama tau aku dan Debby tinggal satu apartemen.
"Tapi Mas, saya bisa dimarahi sama..."
"Udah nggak papa, biar saya nanti yang bilang sendiri sama orangnya." Selaku sebelum dia menyebut nama Mama di depan Debby.
"Baik Mas, kalau gitu saya permisi." Ku anggukkan kepalaku pelan.
Ku papah Debby masuk ke dalam tempat penyewaan baju. Terlihat ada beberapa pegawai yang masih sibuk melayani pelanggan. "Mbak..." Ku panggil salah satu dari mereka seraya ku lambaikan tanganku dan salah seorang dari mereka menghampiri kami.
"Mbak, tolong dibantu karena kakinya lagi sakit." Kataku.
"Oh iya Mas." Jawab pegawai itu tersenyum yang ramah.
"Mari mbak saya bantu." Kata pegawai itu dan sudah bersiap memegang tangan Debby.
"Iya mbak makasih. Ini dok blazzernya." Kata Debby memberikan blazzerku sebelum ia pergi.
Debby dengan kaki pincangnya dibantu oleh pegawai itu menuju ruang ganti. Dan aku duduk di sofa yang mereka sediakan sebagai tempat untuk menunggu.
"Mbak, kalau sepatunya patah saya harus ganti rugi berapa?" Sayup- sayup terdengar Debby bertanya pada pegawai butik itu saat berjalan menuju ruang ganti. Mereka memang lebih lambat menuju ruang ganti karena kaki Debby yang tak bisa berjalan normal.
"Kalau sepatunya nggak mahal kok mbak, tadi mbak ambil yang lumayan biasa. Paling cuma ganti 1,3juta mbak"
"Apa? Satu juta?" Pekik Debby, memecah suasana, hingga semua pengunjung menoleh padanya.
"M_aaf" kata Debby pada pelanggan lain yang terlihat terganggu.
"Satu juta tiga ratus mbak?" Tanya Debby memastikan kembali dengan nada pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya.
"Ya ampun Debby, jiwa bayinya keluar." Ku usap wajahku dan Ku hampiri Debby.
"Deb, buruan udah malem!" Ku gendong debby menuju ruang ganti.
"Eh dokter ngapain?"
"Kelamaan, mbak buruan ikut!" Perintahku.
"oh..iya mas."
Setelah Debby dan pegawai itu masuk ke ruang ganti, aku segera pergi ke kasir. Kubayar tagihan Debby, bukan menghina, tapi melihat wajah Debby sudah bisa dipastikan kalau Debby keberatan dengan jumlah uang yang harus ia keluarkan.
"Mbak tagihan atas nama Debby, dress coklat selutut dan sepatunya patah." Kataku pada kasir.
"Oh iya Mas sebentar ya." Jawabnya, kasir itu terlihat memeriksa data sambil sesekali melempar senyuman padaku. Ku lihat tak ada yang salah dengan penampilanku.
"Mbak sehat?" Tanyaku
"Sehat kok Mas."
"Terus, kenapa keringetan sampe gemeteran gitu?" Tanyaku mengamati setiap gerakan wanita yang terlihat seumuran dengan Debby itu.
"Nggak Mas, saya memang suka grogi kalau berhadapan sama cowok tampan." Jawaban yang lagi- lagi membuatku tak habis fikir dengan para wanita.
"Mbak... Mbak ada - ada aja. Mana tagihannya. Saya buru- buru!"
"Ini Mas semuanya." Ku berikan kartu kredit padanya dan tak lama kemudian, Debby datang bersama pegawai butik, yang membantu Debby berjalan menuju kasir.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π