Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Maaf


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 102


"Maaf, Debby masih butuh banyak istirahat. Lebih baik kalian berdua keluar dulu." Dokter Teddy menghampiri mereka dan bersiap untuk menutup pintu.


"Dok, saya mohon, beri saya waktu untuk bicara dengan Debby." Pinta mbak Linda yang semakin membuatku muak.


"Dokter!" Sentak ku yang tak berharap dokter Teddy mengabulkan permintaan mbak Linda.


"Debby adalah pasien saya. Ketenangan Debby adalah tanggung jawab saya. Silahkan keluar sebelum saya memanggil security untuk membawa kalian." Kata Dokter Teddy lebih keras lagi.


"Anda hanya dokternya, kami ada urusan pribadi. Anda tidak punya hak sama sekali. Dan apa anda mau saya laporkan ke polisi lagi karena melakukan tindakan, mengoperasi Debby tanpa SIP?" Ancam Mas Doni.


"Apa? Apa maksud anda? Maksud anda, Anda yang melaporkan saya satu tahun yang lalu? Dasar kurang ajar... "


Buuugh... Pukulan mendarat di bibir Mas Doni yang menimbulkan bibir bagian bawahnya mengalami luka. Saat Mas Doni bersiap untuk membalas dokter Teddy, mbak Linda mencoba untung melerai mereka. Aku yang masih sedikit lemah hanya bisa menyaksikan itu dari ranjang ku.

__ADS_1


"Cukup... Hentikan atau aku akan mengusir kalian dari sini! Termasuk kamu dokter Teddy." Teriakku.


"Apa Deb, coba kamu ulangi kata- kata kamu!" Tanya dokter Teddy menatapku penuh amarah. Dia pantas marah atas apa yang dilakukan oleh Mas Doni padanya. Tapi aku tidak mau dia mengotori tangannya.


"Dokter, tinggalkan kami. Saya perlu bicara dengan mereka." Kataku, bukan tanpa alasan aku memutuskan hal itu. Diterima atau tidak, aku yakin mereka akan kembali menemuiku sampai keinginannya tercapai. Aku harus mengakhiri semua ini sebelum mereka melewati batasannya.


"Apa Debby? Kamu mengusir saya?" Tanya dokter Teddy tak percaya.


"Tinggalkan kami dokter!" Ulangku lebih keras lagi. Dokter Teddy terlihat menghela napas dan pergi dengan wajah merah padamnya.


Pintu pun ditutup kasa oleh dokter Teddy.


Sekarang hanya ada aku, Mas Doni dan Mbak Linda.


Mereka mulai mendekat ke arahku.


"Tinggalkan kami mas!" Kata mbak Linda pada Mas Doni saat mbak Linda sudah berada tepat di sampingku.

__ADS_1


"Kamu yakin? Nanti kalau sudah selesai, kamu panggil aku. Aku tunggu di depan." Kata Mas Doni lembut dan tak berubah, selalu terlihat penuh kasih sayang saat menghadapi mbak Linda, masih sama persis seperti satu tahun yang lalu.


"Bagaimana keadaanmu Deb? Mbak sudah dengar insiden yang menimpamu." Tanya Mbak Linda kepadaku yang hanya bisa berbaring di tempat tidurku setelah Mas Doni meninggalkan kami berdua.


"Nggak usah basa- basi mbak, to the point aja, apa tujuan mbak datang menemuiku?" Tanyaku tegas.


"Debby, mbak tau kamu masih marah sama mbak. Mbak minta maaf... sekali sama kamu." Ucapnya yang kembali bersikap bak malaikat itu.


"Sejak kapan aku membutuhkan maaf dari mbak?"


"Debby, sejak mbak kehilangan anak mbak, Mbak selalu memikirkan kamu dan merasa sangat bersalah padamu." Jawabnya yang sempat mengagetkanku. Apa itu maksudnya, mbak Linda keguguran? Atau anaknya meninggal setelah dilahirkan, aku pun tak tau dan tak mau tau.


"Apa hubungannya denganku? Apa mbak pikir aku akan bahagia dengan kabar itu karena mbak mengira aku ingin menyakiti anak mbak waktu itu?" Sindirku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2