
Aku masuk ke dalam kamarku, menenggelamkan wajahku pada bantal. Aku merasa begitu tidak berharganya aku sebagai wanita dihadapan suamiku, hingga suamiku sendiri memperlakukan aku serendah itu. Airmataku pun tak dapat ku bendung lagi.
"Debby" suara mbak Linda tiba- tiba muncul tanpa aku sadari, ku usap airmata ku yang masih bercucuran dan berbalik untuk menatapnya.
"Deb, ada apa? apa Mas Doni menyakitimu?" Tanya Mbak Linda mendekatiku dan duduk di bibir ranjang, menatapku penuh selidik.
"Nggak kok mbak, aku hanya sedih karena merindukan bunda dan adik-adik dipanti". jawabku menutupi.
"Kamu jangan membohongi mbak Deb!" Tanyanya lagi, aku terdiam sesaat. Ku kumpulkan seluruh keberanianku, hari ini aku yang akan menyelesaikan masalah ini sendiri.
"Mbak, aku." Deg... deg...Tiba- tiba aku teringat atas nasehat bunda waktu itu, bahwa pernikahan maupun perceraian bukan lah hal yang bisa dibuat mainan. Jika kamu sudah memilih menjadi seorang istri, maka, sebaik- baiknya seorang istri adalah yang taat pada suami ya itu Mas Doni? Dia tidak menginginkan perceraian, namun juga tidak menginginkan ku. Ku urungkan niatku untuk membahas perceraian sementara waktu.
"Maafkan mbak, Mbak mohon bertahanlah, kita akan membuat Mas Doni mencintaimu!" Ucap Mbak Linda yang semakin membuatku tak percaya, wanita macam apa yang ada di depanku ini, bagaimana mungkin dia menginginkan suaminya untuk mencintai wanita lain?
"Mbak, itu terlalu berlebihan." Jawabku.
"Nggak Deb, Mas Doni juga harus memperlakukanmu seperti selayaknya seorang istri." Kata Mbak Linda lalu pergi meninggalkan ku, entah apa yang akan dilakukannya saat ini, aku hanya bisa diam dan melihat nanarnya yang semakin menghilang dibalik pintu.
Aku menemui mas Doni yang terlihat masih bergeming di balkon.
"Mas, apa yang sudah kamu lakukan hingga Debby menangis?" Tanyaku tanpa basa- basi, lukaku masih menganga setelah bentakan dari mas Doni malam tadi. Sehingga aku belum bisa bermanis- manis lagi padanya.
"Meminta hak ku sebagai suaminya. Apa itu salah? Lagian Itu kan yang kamu mau?"
Deg... Jantungku seolah berpacu mendengar kata- kata suamiku yang seolah tanpa beban, aku merasakan sesuatu yang aneh telah menggores hatiku, apa Mas Doni masih marah padaku?
"Maksud kamu?" Tanyaku penuh selidik.
"Mulai besok, aku akan membagi waktuku utuk kalian, satu Minggu aku akan tidur di kamar kamu dan satu Minggunya lagi di kamar Debby." Jelas Mas Doni kepadaku
"Apa?" aku Seakan tak percaya mendengar perkataannya kali ini, bahkan dia mau melakukannya tanpa aku suruh. Apa mungkin Mas Doni mulai mencintai Debby? Kenapa hatiku merasa ngilu? Harusnya aku bahagia, dengan begitu, Mas Doni dan Debby akan mewujudkan keinginan ku untuk mempunyai buah hati dari darah daging mas Doni.
__ADS_1
"Itu yang seharusnya kan!" Tegas mas Doni, kupeluk ia dari belakang yang saat ini memunggungi ku, sebelum ia semakin menjauh dariku, entah mengapa ada rasa takut yang menghantui ku.
"Mas, Maafkan Aku, apa hatimu juga akan terbagi?" Tanyaku hati-hati.
"Aku hanya berusaha untuk bersikap adil, Debby tidak bersalah, debby hanyalah korban dari kekurangan kita, tidak mudah di usianya yang masih muda harus menjadi istri kedua, sudah seharusnya aku memperlakukan Debby lebih baik lagi. Masalah hati, bukankah keadilan dalam berpoligami harus mencakup semuanya? Aku akan berusaha adil seadil- adilnya walau aku tau itu tak akan sempurna karena aku bukan malaikat" Jawabnya, seraya melepaskan tanganku dan meninggalkanku, sontak membuatku semakin takut, berbagai macam pikiran saat ini melayang di benakku, entah apa yang ada dalam pikiran laki- laki yang selama ini bersamaiku itu. apakah tadi mas Doni sedang menyalahkan atas kekurangan ku? Apakah dia akan menghukumku atas permintaanku padanya dengan cara membagi hatinya pada Debby?
Pagi ini aku dan Mbak Linda mulai melakukan aktivitas kami di dapur, namun mbak Linda terlihat lebih banyak diam tak seperti biasanya.
"Masak apa Mbak?" Tanyaku membuka percakapan.
"Omlet Deb, kesukaan Mas Doni."
"Sini mbak aku bantuin!"
"Nggak usah Deb. Bukannya kamu harus kerja?" Jawabnya, rasanya ada yang berbeda hari ini, bukannya baru tadi malam mbak Linda mengatakan akan membuat Mas Doni mencintaiku? Harusnyakan dia mengajariku memasak makanan kesukaannya mas Doni, karna cinta kan bisa saja datang dari kepedulian kita terhadam makananya.
"Oh, ya udah mbak, kalau gitu aku buatin kopinya aja ya." Tawarku lagi
"Udah dibuatin Bi ija Deb!" Jawab mbak Linda.
"Kenapa masih di situ? Sini!" Panggilnya lagi, aku pun pamit pada Mbak Linda dan mengikutinya, aku pikir pasti dia mau minta maaf karena kejadian semalam.
Kami duduk di meja makan berhadapan, jantungku mulai tak karuan melihat tatapan Mas Doni yang seolah mengisyaratkan sesuatu yang begitu penting akan ia sampaikan padaku.
"Mulai sekarang saya akan mengantar kamu kerja!"
"Hah?" Aku membelalak tak percaya.
"Kenapa?"
"Nggak usah mas, motor ku kan udah Dateng." Jawabku.
__ADS_1
"Saya nggak ngasih pilihan." Jawabnya tegas, semakin membuat hatiku berdebar- debar, ditambah wajahnya yang semakin hari semakin tampan membuatku berbunga- bunga.
Aku tertunduk, terlihat mbak Linda menghampiri kami dan membawa masakan yang sudah dia siapkan tadi.
"Ini sarapannya." Kata mbak Linda meletakkan Nasi goreng dan omlet, tak lupa susu juga untuk kami. Aku segera mengambil nasi goreng dan omlet dan menyantapnya. Sedangkan mbak Linda mengambil nasi goreng untuk mas Doni.
"Biar Debby yang melayaniku!" Kata Mas Doni yang membuatku tersedak begitu mendengarnya.
"Uhuk... Uhuk..."
"Pelan- pelan Deb" kata Mas Doni sembari menuangkan segelas air dan memberikannya padaku. Sedangkan mbak Linda tiba- tiba berlari meninggalkan kami. Aku rasa saat ini mereka sedang bertengkar, dan Mas Doni sengaja membuat mbak Linda marah, ku hembuskan nafas kasarku.
"Kalau lagi marahan, nggak usah bawa- bawa aku Mas!" Kataku pada mas Doni, entah darimana datangnya keberanianku, sampai aku mampu mengatakan kalimat itu pada Mas Doni. Dia melirikku tajam. Aku segera mengambilkan nasi goreng serta lauk untuknya. Lalu kuraih tangannya dan berpamitan.
"Assalamualaikum"
"Mau kemana? Kan saya yang mau anter kamu?"
"Nggak usah Mas, mending selesaikan masalah sama Mbak Linda dulu, stress nggak baik buat kesehatannya. Nganter aku kalau shift malam aja!" Jawabku lalu pergi.
"Waalaikumsalam" gumamnya lirih.
Segera ku ambil helm dan ku starter motor matic kesayanganku, ku lajukan dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Jakarta yang cukup padat pagi ini. Dengan sepeda motor, tak perlu waktu lama, aku pun sampai di parkiran rumah sakit lebih cepat, terlihat mbak Lidia baru turun dari mobil dan menghampiriku.
"Deb, serius kamu naik ini?" Tanyanya sambil mengitari motor ku.
"Iya, emang kenapa? Bukannya dulu pas kuliah aku ke sini juga pake ini?" Jawabku seraya melepas helm pink kesayanganku dari kepalaku dan merapikan rambutku yang sedikit berantakan.
"Bukannya suami kamu orang kaya?"
"Kaya atau nggak, nggak ada hubungannya mbak." jawabku sambil tersenyum.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π