Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
USA


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 132


"Kenapa tegang sih Deb, pucat gitu?" Katanya saat kedua hidung mancung kami kami Salang bertautan, kebetulan hidung kami memang memiliki kesamaan, lebih unggul dari yang lain. Dan saat ini kami benar- benar dekat, bahkan hembusan nafasnya pun begitu terasa hangat. Segera ku palingkan wajahku dan ku ambil gawaiku sebelum semua bubrah.


"Nih lihat!" Kuberikan ponselku ku tunjukkan kalender yang bertanda merah dan ku beri catatan Masa Menstruasi. Dia melihatnya sekilas tapi kurasa cukup paham.


"Apa? 16 jam saya bela- belain datang kesini, dan kamu? Astaga Debby..." Ucapannya beranjak dari tidurnya lalu duduk dan mengusap wajahnya.


"Ya kamu nggak bilang kalau mau pulang, kalau bilang kan aku bisa kasih tau. Setidaknya kamu nggak terlalu kecewa dan lebih siap menerima Kanyataan." Jelasku.


Hening


"Sayang... Jangan marah, sabar." Rayuku, dia tampak menghembuskan napas panjangnya, memperbaiki kesabarannya.


Dia bergeming


"Dokter..." Rayuku bergelayut di lengannya.


"Dokter, Mas!" Serunya


"Mas Dokter..." Rayuku.


Dia tersenyum.

__ADS_1


"Ya apa aja lah Deb... Sini!" Serunya mengulurkan tangannya, aku menyambutnya dan dia membawaku kedalam dekapannya. "Jangan bilang kalau saya harus beli p*mbalut buat ganti malam ini ya Deb!" Katanya, aku terkekeh.


"Sudah bawa ganti Mas dokterku sayang." Jawabku.


"Kamu kecewa?" Tanyaku, kumainkan jariku di dadanya.


"Nggak, kalau saya bisa nunggu kamu satu tahun. Kenapa nggak bisa nunggu kamu beberapa bulan lagi?"


"Maksudnya?" Tanyaku, yang tidak mengerti dengan kata- kata beberapa bulan lagi.


"Saya sudah mengundurkan diri dan akan pindah ke Jakarta. Mereka bilang menunggu sampai ada dokter pengganti didapatkan." Jelasnya serayang membelai rambutku yang ku sandarkan di atas dada bidangnya.


Mendengar penuturannya aku merasa sangat bersalah.


"Maaf."


"Semua pasti karena aku kan? Bukannya kamu sangat ingin tinggal di USA?"


"Saya sangat ingin tinggal sama kamu Debby. Bisa tidur sama kamu setiap hari, melihat wajahmu saat bangun tidur, makan sama kamu."


"Tapi, aku nggak bisa masak."


"Bisa cuci piring kan. Saya yang masak kamu yang cuci piring. Gampang kan? Hidup jangan dibuat susah Deb."


"Tapi USA adalah impianmu."

__ADS_1


"Ada impian yang lebih besar dari USA yaitu menua bersamamu, memiliki anak-anak, dan mengurus anak-anak kita bersama. Jangan mikir aneh- aneh Mungkin karena sudah waktunya saya kembali saja Deb,"


"Bagaimana kalau aku mau ikut ke USA? Apa dokter tetap akan mengundurkan diri?" Tanyaku, aku mendongak saat ku sadari tak ada jawaban. Ku lihat dia hanya mengukir senyum. Aku beranjak dari posisi ku.


"Kenapa? Kenapa malah tersenyum?"


"Rupanya kamu mau jadi pahlawan dengan mengorbankan kebahagiaanmu ya Deb?"


"Jangan, tugas saya itu membahagiakan kamu." Sambungnya.


"Tapi istri harus ikut kemana suaminya pergi."


"Pinter."


"Dan Saya mau kembali ke Jakarta." Sambungnya tapi aku masih tidak begitu yakin bahwa itu adalah keinginannya.


"Mulai besok nggak usah kirim bunga ke Panti lagi, buang- buang duit aja." Kataku saat ku lihat setangkai bunga mawar yang ku bawa dari meja makan malam tadi.


"Bunga? Bunga mawar itu? Apa kamu suka?"


"Suka. Tapi lebih suka Lili, lebih tahan lama." Jawabku


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2