
Kediaman Adijaya
Kepergian Tedi yang membuat Bu windi merasakan kehilangan untuk kedua kalinya membuatnya tak henti- hentinya menangis.
"Sampai kapan Mama akan terus menangis seperti ini?" Tanya Adijaya pada istrinya, saat ini mereka masih duduk di meja makan. Dan ada juga Vannia yang ikut duduk disana.
"Harusnya Mama yang bertanya sama Papa, sampai kapan akan bermusuhan sama Anak sendiri? Darah daging papa sendiri?" Tanya Bu Windi dengan penuh amara dan penekanan.
Adijaya terlihat hanya bisa diam tak bisa berkata-kata, Tedi adalah anak kesayangannya dulu, sebelum dia mulai menentang dirinya. Bahkan, Kevin kerap merasa iri dengan adiknya Tedi, karena menurut Kevin, Papanya hanya lebih condong menyayangi Tedi yang hanya anak kedua dibandinkan dia anak sulung.
"Sampai Tedi sadar dan minta maaf pada Papa, kembali ke Indonesia dan kerumah, ikut mengurus perusahaan bersama Papa!" Jawab Adijaya mantap.
"Udah lah Pa, Tedi juga sudah jadi dokter spesialis, itu cukup membanggakan bagi Mama, selain itu juga dia berhak menentukan pilihanya bukan hanya dalam kekangan keluarga, berprofesi sebagai dokter juga tidak lah buruk bahkan lebih bermanfaat bagi semua orang."
"Tidak Ma, perusahaan lebih membutuhkan dia."
"Bukan kah sudah ada Kevin Pa."
"Kevin itu..."
"Apa maksud papa?" Tanya Kevin yang tiba- tiba datang tanpa permisi.
"Kevin! Apa kamu tidak pernah diajari sopan santun? Dateng main nyelonong tanpa permisi, nggak salam." Kata Adijaya.
"Oh iya maaf Pa! Kevin tertarik dengan topik pembicaraan papa dan mama tadi. Hingga Kevin lupa akan salam."
"Mama, kenapa mama nangis?" Tanya Kevin yang mendekati mamanya.
"Mama nggak apa-apa sayang." Kata Bu windi seraya menghapus airmatanya, ia tak mau ada pertengkaran lagi, ia tau benar bahwa, Kevin sangat tidak suka kalau ada yang membahas Tedi di rumah nya.
"Pa, ayo kita istirahat." Kata Bu windi. Meraka pun beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar pa, tadi papa bilang papa mau Tedi pulang dan bergabung di perusahaan? Apa papa belum benar- benar mencoret dia dari ahli waris?" Tanya Kevin yang menyelidik.
"Bukan urusan kamu kevin. Lebih baik perbaiki cara kerja kamu yang menghabiskan banyak uang perusahaan, sebelum Papa bangkrut karena mu!" Sindir Adijaya lalu melanjutkan langkahnya pergi menuju kamar.
Sekarang hanya ada Vannia dan juga Kevin di meja makan.
"Vannia? Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Kevin pada istrinya.
"Adik kamu Tedi tadi kesini Mas, dia ada di Indonesia sekarang. Di Rumah sakit Kakek." Jawab Vannia.
"Apa?"
"Tapi kamu tenang aja mas, sebentar lagi juga dia bakal balik ke USA."
"Kamu! Jangan sampai kamu berani-berani menemui Tedi! Kalau Sampai kamu lakukan..."
"Apa? Kenapa? Aku bahkan sudah nggak butuh uang kamu lagi, aku sudah terkenal, apa pun yang aku lakukan sekarang, bukanlah urusanmu!" Ancaman tak berpengaruh bagi seorang Vannia, Krvin dan Vannia adalah dua orang yang memiliki sifat yang sama, sama- sama ambisius dan sombong.
🥀🥀🥀
Setelah kepergian Debby, rumah ini tampak serasa sepi, Aku dan Linda tak saling bertegur sapa. Malam ini aku menghuni kamar Debby, aku merasa begitu kacau, apalagi setelah pertemuanku dengan Debby tadi siang, pikiranku semakin tak karuan. Dia begitu sangat membenciku, aku tak menyalahkannya tapi, entah kenapa aku belum rela kehilangan dirinya.
Ku pandangi foto pernikahan sederhana kami yang terpajang di dinding kamar Debby, Foto yang diabadikan oleh suster waktu itu dan Debby yang mencetaknya, walau tanpa kemewahan, tanpa mengenakan Make Up, Debby tetap terlihat tampak cantik, dan Debby juga tak pernah meminta resepsi yang mewah, harusnya anak seumuran dia akan menuntut pernikahan yang mewah apalagi menikah dengan orang yang terbilang kaya seperti keluarga Atmajaya, tapi tidak dengan Debby, begitu sederhananya dia, hingga foto yang di cetak saja hanya dari ponsel.
Ku ambil foto berukuran 5R itu, kupeluk erat dan aku bersandar di bahu ranjang, ingatanku terhadap Debby pun mulai berdatangan, dari pertama kali kami bertemu hingga kami tidur satu ranjang, dan saat dia dengan lembut mengobati luka di tanganku. "Maaf kan Aku Deb..." Lirihku dengan nada bergetar. Tak terasa air mataku menetes tanpa dipinta.
Cekrek... tiba-tiba Linda masuk dan menghampiriku, ku hapus airmata ku kasar, lalu ku sembunyikan foto pernikahanku dengan Debby di bawah bantal.
"Mas, sampai kapan kamu akan mendiam ku seperti ini?" Tanya Linda yang menyilang kan tangannya, dengan menatapku tajam. Entah sejak kapan Linda, seorang istri yang sangat kucintai karena kelembutan hatinya yang bahkan tak tega membunuh seekor semut pun, berubah menjadi istri yang begitu arogan dan egois, bahkan ia tega melihat wanita lain menjadi seorang janda.
"Linda, sudah lah, aku hanya sedikit butuh waktu. Aku sudah turuti semua keinginanmu, lalu kamu mau apa lagi?" Jawabku beranjak dari tempat tidur.
__ADS_1
"Kamu Linda yang berubah, kamu dengan mudah dan tanpa rasa bersalah membuat Debby yang masih muda, memaksanya menjadi madumu, dan dengan sangat mudah pula menjadikannya seorang janda. Seolah kamu lah yang berhak mengatur hidup Debby!" Jawabku yang sudah mulai tersulut emosi, aku suami Linda, jika Linda terus saja melakukan tindakan sesuai keinginanya, Aku juga lah yang harus memarahinya, dan sialnya aku baru sadar akan hal itu setelah aku melakukan kesalahan itu terhadap Debby.
"Tapi kamu berubah Mas, kamu cinta ya sama Debby? Jawab mas?" Tanyanya penuh menyelidik.
"Linda, jangan tambah Maslah lagi saya sudah pusing! Aku salah karena membiarkan kamu berbuat salah.
"Apa Mas? Kamu bilang apa barusan? Aku hanya ingin melindungi Anakku agar selamat dan kamu bilang aku salah? Jawab aku Mas! Kamu cinta sama Debby kan?" Tanyanya lagi, yang membuatku semakin bingung harus menjawab bagaimana.
"Debby juga istriku, sudah kewajiban ku mencintainya."
Plakk... Tamparan Linda mendarat di pipiku.
"Lancang kamu Linda!" Jika aku hanya diam saat Debby menamparku, tapi tidak kali ini, Aku sudah menuruti semua keinginan Linda, bahkan walau aku tau itu salah, tapi, dia sama sekali tidak sadar. Aku tak mau kehilangan kendali, aku lebih memilih untuk pergi, bagaimanapun juga Linda sedang mengandung anakku, aku tak mau bertengkar denganya dan membuatnya stress.
"Mas, kamu mau kemana?" Teriak Linda mengejar ku hingga ke lantai bawah. Aku tetap berlalu, kubuka pintu rumah dan sungguh sangat mengejutkan. Papa dan Mama sudah berdiri di depan pintu.
"Surprise...." Kata Mama dengan mata berbinar.
"Assalamualaikum Doni." Sapa Mama seraya tersenyum padaku, aku terpaku melihat kedatagan mereka.
"nak, kenapa kok bengong?" Tanyanya
"Waalaikumsalam, Mama sama Papa Kenapa nggak ngabari kalau pulang? Kan bisa Doni jemput di bandara?" Tanyaku, ku kecup punggung tangan Mama dan Papa bergantian.
"Sengaja, mau bikin surprise buat kalian" Jawab Papa.
"Eh Linda kok bengong, sini sayang!" Kata Mama yang melihat Linda berdiri di belakangku namun tak segera menyambutnya seperti biasa, sepertinya Linda juga sama terkejutnya denganku. Linda pun segera menghampiri Mama dan papa, dan mengecup punggung tangannya takzim.
🥀🥀🥀
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kata🙏🏻😊
__ADS_1