
Aku bukan Rahim Cadangan
Part 157
"Tentu saja tidak Debby, ini pameran internasional, tentu saja semua berhak untuk hadir disini. Hanya saja mereka tidak ada yang berpenampilan sepertimu." Jelas Dokter Firman lagi.
"Dokter Firman bener Deb, lagipula siapa yang berani mengusirmu. Kamu datang dengan saya. Saya..."
"Saya kenapa?"
Ku hela napas panjang "Sebenarnya saya ketua panitianya di sini. Pameran ini sudah direncanakan sangat lama sekali. Kebetulan waktu itu saya sedang menaikkan pamor, jadi saya ambil saja tawaran untuk jadi ketua panitia di sini." Jelasku. Aku sangat pekerja keras saat aku menjadi dokter muda spesialis pertama kali, saat aku tidak pernah memikirkan dan mempunyai niat untuk kembali lagi ke Indonesia.
"Wah Dokter keren..." Kata Debby yang memberikan dua jempolnya pada ku.
"Teddy..." Teriak seseorang yang melambaikan tangannya padaku, wanita yang sangat ku kenal baik selama aku tinggal di negeri orang ini.
__ADS_1
"Teddy." Wanita itu, wanita yang bernama Laura, dia menghampiriku, memelukku tanpa permisi lalu mencium pipi kanan dan kiri. Kebiasaan yang sudah lama ku tinggalkan namun Laura melakukannya dengan begitu mudah. Aku termangu, hal itu memang biasa kami lakukan dulu saat lama tidak bertemu. Hanya saja sekarang benar- benar salah, aku sadar Debby disampingku sedang menatapku dengan tajam, begitu juga dokter Firman.
"Firman apa kabar?"
"Laura..."
"Aku merindukanmu." Ucapnya, sontak membuatku semakin terkejut.
"Kemarin aku ke Rumah sakit untuk menemuimu, mereka bilang kamu sudah mengundurkan diri. Apa kah itu benar? Kamu juga jadi ketua panitia pameran ini?"
"Ya,"
"Aku memang akan kembali, karena aku..."
"Ted, Saya lihat- lihat dulu ya, kesana." Pamit dokter Firman padaku.
__ADS_1
"Saya ikut" Sela Debby mendahului langkah dokter Firman.
"Bersiaplah untuk menaklukkan singa yang sedang mengamuk. Bersiaplah untuk tidur diluar." Bisik dokter Firman lalu pergi mengikuti Debby.
Ku hela napas panjang "Laura, saya tinggal dulu, saya ada urusan."
"Tapi Ted, ada yang harus kita bahas."
"Lain waktu saja ya." Tolakku.
Ku tinggalkan Laura lalu buru-buru mengejar Debby yang terlihat sangat marah padaku. Laura adalah teman satu tim saat kami kuliah, kebetulan dia mengambil jurusan yang berbeda denganku. Dulu kami sempat dekat. Ya mungkin karena kami sama- sama datang dari Indonesia jadi kami bisa nyambung kalau ngobrol. Namun karena kesibukanku menaikan karier spesialis ku, akhirnya membuat hubungan kami pun semakin renggang. Tak ku pungkiri, kami sempat hampir menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius di kala itu. Tapi gagal karena aku harus mengambil pekerjaan yang cukup jauh dari tempatnya bekerja dan juga tempat tinggalnya. Sudah lama sekali kami tak berjumpa, dan aku tak menyangka akan bertemu denganya di acara ini.
Dia tipe wanita yang sangat manja dan tidak suka menjalin hubungan jarak jauh. Tapi dibalik sisi manjanya, dia juga sama denganku, gila kerja dan ambisius.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..