
Aku bukan Rahim Cadangan
Part 171
Kami pun turun tepat di depan Cafe "Maaf Pak, kalau bapak berkenan, bisakah menunggu kami sebentar untuk sarapan? nanti saya bayar lebih. Barang saya banyak soalnya kalau harus ganti- ganti taksi."Katanya begitu sopan pada sopir sebelum kami masuk ke dalam Cafe.
"Siap Pak."
"Makasih Pak, Ayo Deb," Serunya, kami berjalan menuju Cafe, dengan tangannya yang menggandeng tanganku, hari ini pertama kalinya aku dan dia berjalan begitu ringan tanpa beban. Senyuman tak henti- hentinya tersungging di bibir kami. Sungguh, indahnya pagi ini.
Langkah kami terhenti setelah membuka pintu cafe yang terbuat dari kaca dan Vannia berdiri tepat di depan kami. Vabnia dengan penampilannya yang begitu cantik dan s*ksi berdiri di depanku.
POV Teddy
Setelah kepulangan Debby satu bulan yang lalu, hatiku mulai terasa sepi. Setiap hari aku memikirkan bagaimana agar secepatnya aku bisa segera bersama Debby. Ku putuskan untuk turut serta dalam mencari dokter pengganti ku. Menunggu pihak rumah sakit mencari penggantiku itu akan memakan waktu yang sangat lama. Ku hubungi semua rekan-rekan ku yang mungkin bisa membantu. Dan akhirnya usahaku berbuah manis, tak perlu menunggu terlalu lama kami pun mendapatkan dokter pengganti ku yang kebetulan adalah sahabat lamaku. Mungkin ini adalah jalan yang diberikan Tuhan padaku.
__ADS_1
Hari ini aku tiba di tanah air, bagaimana dengan perasaanku? Tentu saja aku sangat lega dan bahagia, tapi kebahagiaan itu sedikit terganggu saat kami harus bertemu dengan Vannia. Mengejutkan memang tapi masalah harus dihadapi bukan dihindari.
"Hai, Teddy." Sapanya begitu aku dan Debby masuk ke dalam Cafe.
"Hai." Sapaku, ku genggam erat tangan Debby yang berada disampingku, lalu meninggalkan Vannia.
"Pantaskah seorang perawat biasa masuk kedalam keluarga..."
"Yang lebih tidak pantas lagi adalah penjilat sepertimu." Potongku, sebelum Vannia membocorakan identitas ku lebih dulu pada Debby, aku tak mau Debby mendengar semua dari orang lain, akan lebih baik Debby mendengarnya langsung dariku.
"Apa?"
Aku berbalik ke arah Vannia dan Debby lebih memilih bersembunyi di belakangku. "Pelan- pelan, jangan sampai membuat masalah dengannya." Bisik Debby, aku tau dia takut pada Vannia, takut jika Atmajaya Hospital memecatnya kalau sampai mereka tau Debby mempunyai masalah dengan keluarga Atmajaya.
"Kalau Papa sama Mama tau..."
__ADS_1
"Silahkan, silahkan mengadu, aku menunggu tantanganmu."
"Jangan pernah sekali-kali kamu campuri urusan saya Vannia, jika kamu tidak mau hancur."
"Kamu mengancam ku?"
"Bukan Vannia, itu bukan ancaman tapi peringatan. Pergilah! Jangan perlihatkan wajahmu di hadapanku lagi!" Tegasku, lalu meninggalkannya.
"Ayo sayang, kita pergi." Kataku pada Debby.
Aku pun pergi meninggalkan Vannia yang tampak kesal. Aku memilih duduk di meja paling ujung, dan segera memesan makanan untuk kami berdua. Ku lihat Vannia sudah pergi dengan sopirnya. Mungkin sekarang dia sedang menuju kerumah dan mengadu pada Papa untuk menambah panas hubunganku dan Papa. Ku alihkan pandanganku pada Debby, ia tampak melamun, kuraih tangannya yang ia letakkan di atas meja.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..