
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 113
POV Debby
"Ish... Ish... Ish... Ujung- ujungnya obat dan kunjungan dokter. Mantap surantap sekalikan calon imam ku ini, nggak ada romantis-romantisnya. Beda banget sama yang di Instagram." Gerutuku setelah membaca balasan dari dokter Teddy. Dengan berbagai macam pertimbangan, akhirnya aku menerimanya. Bukan tanpa alasan, sekarang aku sudah harus lebih dewasa dan bisa mengambil keputusanyang tepat untuk masa depan ku. Apa yang Bunda sampaikan di penutup perbincangan kami semalam, mampu membuatku takut, takut akan kehilangan sosok seorang yang sudah banyak menunjukkan cintanya dengan semua pengorbanan dan perbuatannya itu untuku, ya walau dia agak sedikit kaku, tapi cukup bertanggung jawab lah. Lebih- lebih saat dia menyelamatkanku di rooftop kemarin. Tapi jangan salah, ini bukan lah balas Budi tapi murni dari hatiku sendiri. Karena kadang rasa nyaman itu lebih indah dari cinta.
Ku letakkan gawai di atas nakas, hari ini aku sudah bisa duduk sendiri walau masih harus banyak istirahat.
"Deb, besok akad nikah kamu mau pake kebaya apa gini aja?" Tanya Bunda yang terlihat sibuk menyiapkan keperluan ku untuk besok, termasuk semua surat dan perlengkapan ku.
__ADS_1
"Kebaya? Perut Debby masih sakit bun, nggak usah pake kebaya." Jawabku
"O... Besok akad nikahnya disini, kamu belum bisa keluar." Kata Bunda yang membuatku terkejut. Profesor Atmajaya sudah berbaik hati memberikan ruang kamar VVIP padaku, tentu saja aku akan malu kalau harus numpang nikah juga disini.
"Hah? Jangan, jangan disini. Malu, nikah dua kali harus di rumah sakit, dadakan lagi. Kalau bisa orang-orang Rumah sakit jangan sampe ada yang tau, malu." Jawabku, pengalaman ku di pernikahan sebelumnya yang serba dadakan dan terjadi juga di rumah sakit yang sama, membuatku enggan untuk mempublikasikannya, aku butuh waktu, bukankah menyedihkan jika seseorang menikah tapi saat itu juga harus dipisahkan oleh jarak yang begitu jauh? Aku menikah karena mengejar waktu dokter Teddy yang sudah tak lama lagi di ibu kota, pernikahan yang aneh dan rumit.
"Terus mau dimana?"
"Terserah, pokoknya jangan disini, di hotel dokter Teddy kek, atau dimana gitu." Jawabku.
"Nggak harus ikut kan Bun, yang penting kan Debby sudah ridho dunia akhirat. Lagian Debby mandi aja belum setelah operasi kemarin, gimana mau ketemu sama penghulu, terus nikah?" Jawabku beralasan, Bunda menghela napas panjang.
__ADS_1
"Ya, nanti Bunda bicarakan sama Nak Teddy."
Aku pun menghela napas lega.
"Bunda, dokter Tedsy pernah bilang bermasalah dengan kedua orang tuanya, kira- kira orang tuanya dikasih tau nggak ya Bun? merestui pernikahan kami nggak ya? Kenapa Debby jadi takut gini?" Tanyaku yang tiba- tiba teringat perbincangan kami di mobil sepulang pesta satu tahun yang lalu.
"Nggak usah khawatir Deb, dokter Teddy sudah tau kewajibannya. Dan Bunda juga sudah ketemu sama kedua orang tuanya. Dan mereka merestui kalian berdua."
"Bunda ketemu sama kedua orang tua dokter Teddy? Dimana? Kenapa nggak ngomong?" Tanyaku dengan antusias
"Sebelum menerima pinangan dari dokter Teddy, Bunda sudah bertemu dengan orang kedua orang tua dokter Teddy Deb. Bunda ndak mungkin menerima kalau kedua orang tua nya tidak menemui Bunda terlebih dahulu."
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π