
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 61
POV Debby
Perasaan takutku muncul saat beberapa orang beetubuh kekar berseragam polisi menghampiriku dan dokter Teddy, dokter Teddy mencoba menenangkan ku dengan mengatakan untuk tidak takut dan tetap tenang. Sampai akhirnya mereka menyampaikan bahwa akan menangkap dokter Teddy. Aku begitu terkejut mendengar penyampaian mereka. Tapi berbeda dengan dokter Teddy yang tetap tampak tenang dalam kondisi seperti ini. Entah terbuat dari apa orang yang ada di sebelahku saat ini, bahkan dalam kondisi seperti ini masih saja terlihat sangat santai. Melihat caranya menghadapi beberapa petugas polisi itu, sepertinya tak bisa mengandalkannya. Aku harus bertindak.
"Tunggu, dokter Teddy sudah menyelamatkan pasien kami. Tidak kah itu bisa dibuat sebagai bahan pertimbangan untuk tidak menangkapnya?" Kataku yang menahan mereka untuk berhenti mendekat ke arah kami.
"Maaf Mbak, kami hanya menjalankan tugas, untuk membawa dokter Teddy ke kantor, untuk keterangan lebih lanjut bisa dijelaskan di kantor polisi nanti." Yah, begitulah jawaban mereka nggak jauh beda dengan yang aku lihat di sinetron- sinetron. Kupegangi terus tangan dokter Teddy, tak akan ku biarkan mereka membawanya. Yang membuatku kesal adalah dokter Teddy tetap saja diam tak melawan.
"Mbak tolong minggir, kami harus segera membawa dokter Teddy ke kantor." Kata salah satu petugas padaku dan mencoba menarik tanganku dari lengan dokter Teddy.
"Jangan kasar sama perempuan." Kata dokter Teddy yang menjauhkan tangan petugas itu dari tanganku.
__ADS_1
"Kalau tidak ingin kami melakukan kekerasan, tolong lebih kooperatif." Kata petugas itu lagi.
"Deb, lepas ya... Saya nggak akan kenapa- kenapa kok. Kamu kembali ke apartemen. Masalah ini biar jadi urusan saya." Kata dokter Teddy dengan lembut padaku dan melepaskan tanganku perlahan darinya.
"Tapi dok, dokter nggak bisa diperlakukan seperti ini."
"Saya tau, percaya sama saya. Semua akan baik- baik saja." Kata dokter Teddy yang terlihat ingin menenangkan ku.
"Nggak dok, tetap saja ini nggak bener."
"Pak, kita ke kantor polisi sekarang." Katanya pada petugas. Mereka membawa dokter Teddy ke arah mobil polisi yang terparkir tak jauh dari tempat kami berdiri saat ini.
Aku tak bisa diam, ku kumpulkan seluruh keberanianku, Aku berlari dan menghadang mereka. Tepat di depan mereka.
"Jangan bawa dokter Teddy." Ku bentangkan tanganku.
__ADS_1
"Mbak, jangan sampai kami berbuat kasar sama mbak Ya!" Bentak polisi padaku.
"Saya bilang jangan kasar Pak!" Balas dokter Teddy pada polisi itu. Bentakan dibalas bentakan itulah yang terjadi di depan mataku saat ini. Tak jarang orang melihat ke arah kami bahkan mengambil gambar kami yang sedang bersitegang dengan para polisi.
"Saya minta waktu sebentar." Pinta dokter Teddy pada petugas tersebut.
"5 menit" jawabnya tegas. Mereka pun melepaskan tangan dokter Teddy dan agak menjauh dari dokter Teddy.
Dokter Teddy menghampiriku, dengan wajah yang lebih teduh dibanding saat dia menyuruhku pulang.
"Pulang ya Deb, saya mohon... Ini biar jadi urusan saya." Bujuknya lagi menatap ku lekat- lekat.
"Nggak mau dok, dokter sudah menyelamatkan rumah sakit kami. Bagaimana mungkin saya membiarkan dokter dibawa ke kantor polisi?" Jelasku padanya, lagi- lagi aku gagal menahan butiran bening untuk tidak keluar dari tempatnya.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π