
Aku Bukan Rahim Cadangan
PART 87
"Terserah kamu, yang pasti kalau sampai ketuker, uangnya harus kembali 5 kali lipat." Ancamku, ku ambil tiket bagianku lalu ku tinggalkan Alex yang masih diam mematung.
Aku sempat bertemu Debby di depan toilet saat aku hendak menuju restoran dekat bioskop untuk makan malam. Perutku sudah bisa merasakan lapar sekarang setelah sebelumnya aku tak bernafsu untuk makan saat jawaban dari Bunda belum aku dapatkan. Debby terlihat masih kesal dan menghindari diriku.
Ku lihat film sudah dimulai dan mereka sudah masuk saat aku kembali dari makan malam. Aku segera mengikuti mereka masuk ke dalam bioskop. Aku duduk tepat di sebelah Debby yang sepertinya belum menyadari kedatanganku. Akhirnya aku membuka suara yang berujung pada kemarahan Debby. Kemarahan Debby menimbulkan pengunjung lain terganggu dan akhirnya dia kembali duduk manis di sebelahku setelah salah seorang pengunjung memarahinya.
"Masih marah ya?" Bisikku.
"Kenapa nggak pergi waktu itu?" Sambungku seraya mendekatkan badanku ke arahnya.
"Jangan berisik!" Seru Debby, saat ini Debby lebih fokus dengan film Korea nya, film yang saat ini mempertontonkan adegan romantis.
__ADS_1
"Tutup mata Deb, nanti kepingin loh?" Kata suster LIdia yang sepertinya belum sadar ada aku di samping Debby.
"Apa sih mbak Lidia! Jangan mengada- Ngada." Jawab Debby. Aku tersenyum, dari dulu sampai sekarang, perbincangan kedua orang ini selalu bisa membuatku tersenyum.
Film akhirnya selesai dengan happy ending, lampu bioskop pun kembali dinyalakan.
"Dokter Teddy?" Panggil suster Desi setelah menyadari aku ada di sebelah Debby. Mereka semua menoleh ke arahku dan menyalamiku bergantian. Berbeda dengan Debbu yang sudah tau kedatanganku, dia lebih fokus dengan deretan kursi di depan kami. Tanpa ku sadari di sana berjejer pula dokter muda peserta seminar ku yang tadi siang meminta foto-foto bersamaku dan mereka juga sedang menatapku saat ini, sepertinya mereka mendengar saat suster Desi memanggil namaku.
"Dokter kok bisa ada di sini? Dan kebetulan sekali ada di sebelah debby?" Tanya Suster Lidia.
"Mbak nggak lihat tu di depan, anak asuh dokter Teddy yang berseragam? Ya jelas lah kesini sama mereka. Nih lihat kalau nggak percaya." Kata Debby seraya menunjukkan fotoku tadi siang di ponselnya.
"O... Iya" jawaban suster Lidia itu semakin membuatku tersudutkan.
"Ya udah dokter, kami permisi dulu ya!" Pamit Debby dengan nada dan gaya sindirannya lalu pergi bersama teman- temannya.
__ADS_1
"Astaga... cobaan apa lagi ini..." Lirihku.
"Da... da... dokter." Kata Sinta yang melambaikan tangannya, melihat itu Debby langsung saja menarik tangan Sinta dan membawanya pergi dari sana.
"Kami permisi dokter." Pamit suster Desi yang lebih lembut dari Debby, suster Desi memang usiannya paling dewasa diantara mereka semua.
Setelah Debby dan teman- temannya pergi, aku masih termangu di tempatku. Ku ambil jas yang ku letakkan di kursi karena aku harus segera pergi juga.
"Dokter... Tau gitu kita kesini bareng aja tadi." Kata salah satu dari peserta seminar ku yang masih tidak mau pergi. Ku hembuskan napas panjang lalu ku lempar senyum yang ku paksakan.
"Bukannya tadi yang sok kenal dan sok dekat sama dokter Teddy kemarin ya?" Tanya salah seorang dari mereka yang membuatku merasa harus mengklarifikasi tuduhan mereka.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1