
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 110
"Ada apa Bunda? Kenapa Bunda membuatku jadi takut?" Tanyaku.
"Bagaimana jika ada yang melamar mu dan Bunda sudah menerimanya?" Lagi- lagi Bunda membuat jantungku serasa dihantam bongkahan batu besar.
"A_pa maksud Bunda?" Tanyaku terbata dan mulai berkaca- kaca, aku memang mengatakan itu saat aku marah pada dokter Teddy, tapi aku tak menyangka Bunda akan menagihnya secepat ini.
"Orang baik itu sudah melamarmu?"
"Orang baik?" Tanyaku menyelidik.
__ADS_1
"Dia... Dokter Teddy melamarmu dan Bunda telah menerimanya." Deg... Dada ini rasanya berdegup kencang, tak percaya dengan apa yang telah di sampaikan Bunda. Dokter Teddy bahkan sempat tidak mau mengenalku waktu itu, bagaimana mungkin dia melamarku secepat ini? Apa dia itu punya sifat seperti bunglon? Yang suka berubah- ubah?
"Bubda,Bunda jangan bercanda gitu dong bun."
"Debby, Bunda ndak sedang bercanda. Dan Bunda sudah menetapkan tanggal pernikahan kalian sebelum dokter Teddy kembali ke USA." Tegas Bunda.
"Apa? Bunda ini bertanya padaku apa memaksaku?" Tanyaku dengan nada tinggi ku, bagaimanapun juga ini menyangkut masa depanku, aku harus tau.
"Lebih tepatnya memberikan yang terbaik untukmu Debby."
"Bunda, Debby sangat kecewa. Kenapa Bunda nggak bilang dulu. Apa Bunda mau atau tidak?"
"Tak perlu bertanya kamu mau atau tidak. Karena Bunda sudah tau siapa yang kamu tunggu selama ini. Siapa yang kamu cintai. Bunda tidak bodoh Debby, memberikan kamu pada orang yang tidak kamu cintai." Jelas Bunda. Lagi- lagi Bunda mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam. Aku hanya bisa menunduk pasrah atas apa yang bunda katakan.
__ADS_1
"Sejak kapan Bunda tau itu?" Lirihku.
"Sejak kamu menangis di pelukan Bunda karena kepergian dokter Teddy satu tahun yang lalu, dan kamu diam- diam menangis karenanya. Sejak itu pula Bunda tau, ada cinta yang tidak pernah kamu akui." Jawaban yang Bunda berikan begitu mantap, membuat aku tertampar dan membuat aku semakin malu.
"Waktumu hanya besok, setelahnya, kamu bisa melupakan dokter Teddy untuk selamanya kalau kamu tidak setuju dengan keputusan Bunda." Aku mendongak mendengar ancaman dari Bunda.
"Loh... Loh kok gitu Bunda?"
"Terserah kamu Debby, Bunda hanya menginginkan yang terbaik untuk masa depanmu." Ucap Bunda lalu kembali duduk di sofa dekat pintu.
POV Teddy.
Perdebatan antara aku, Bunda Mira dan keluargaku berlangsung cukup lama. Aku pikir memang keputusan untuk menikahkan aku dan Debby itu baik, tapi akan menjadi tidak baik jika harus diam- diam dan tanpa sepengetahuan Debby. Aku memutuskan untuk tetap menikahi Debby namun aku menginginkan keridhoan Debby. Pernikahan Debby yang sebelumnya dan tiba- tiba, cukup menjadi pelajaran bagi ku untuk tidak mengulanginya. Tidak akan ada bedanya antara aku dengan Doni jika itu sampai terjadi. Dan itu sama saja aku meng iyakan kata- kata Debby, bahwa orang kaya bertindak semaunya. Tidak, aku tidak akan sebodoh itu, membuat Debby lagi- lagi kecewa. Bagaimanapun juga, Debby mempunyai hak untuk menolak atau menerima, hidup Debby biarlah Debby yang menentukan.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π