
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 84
Terbukti, kedua orang tuanya bersedia untuk datang kepanti pagi ini.
"Assalamualaikum" suara salam terdengar dari balik pintu, kemungkinan besar itu adalah Pak Atmajaya dan Bu Widia yang sudah tiba.
"Waalaikumsalam." Jawabku membalas, ku buka pintu dan benar saja Bu Widia dan Pak Atmajaya sudah berdiri di depan pintu dengan pakaian yang sudah rapi. Aku tersenyum dan mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam.
"Silahkan masuk..." Seruku, mereka tersenyum balik dan mengikutiku masuk ke ruang tamu.
"Silahkan duduk Pak, Bu..." kataku mengulurkan tanganku mempersilahkan mereka untuk duduk. Kami pun duduk bersama di ruang tamu yang tak begitu besar.
"Mbok mar..." Panggilku, mbok mar segera datang.
"Iya Bunda..."
"Buatin teh untuk Bu Widia dan Pak Atmajaya. Mereka donatur panti kita." Jawabku.
"Baik Bunda." Mbok mar pun bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan teh dan beberapa sajian yang sebelumnya sudah ku siapkan.
__ADS_1
"Nggak usah repot- repot Bun." Kata Bu Widia.
"Ndak repot kok Bu."
Seorang laki- laki masuk dengan membawa begitu banyak tas belanjaan, Dari seragamnya, sepertinya itu adalah sopir Keluarga Atmajaya.
"Bun, ini untuk Anak- anak panti." Kata Bu Widia setelah sopir itu meletakkan semua barangnya di atas meja.
"Kenapa repot- repot Bu,"
"Nggak repot, mungkin saya tidak diperkenankan membawa sesuatu untuk Debby. Tapi bukan berarti tidak juga untuk Anak- anak kan?" Tanyanya dengan tersenyum
Hening...
"Debby belum pulang, mungkin sebentar lagi, karena dapat shift malam kemarin." Jawabku tersenyum.
"Bunda, mungkin Bunda Mira sudah tau maksud dari kedatangan kami kesini. Kami ingin..."
"Assalamualaikum" Sapa Debby yang baru saja pulang dari rumah sakit. Untung saja Bu Widia belum menyelesaikan kalimatnya.
"Waalaikumsalam" jawab kami bertiga bersamaan, Debby terlihat sungkan dengan adanya Bu Widia dan Pak Atmajaya. Ia hanya diam mematung di depan pintu.
__ADS_1
"Deb..." Panggilku.
"Eh iya Bun," jawabnya lalu masuk menghampiriku tak lupa juga Debby menyalami Bu Widia dan Pak Atmajaya setelah menyalamiku dan mengecup punggung tanganku.
"Deb... Kamu masuk dulu ya, Bunda masih ada yang mau dibahas sama pak Atmajaya dan Bu widia. Kamu istirahat saja dulu." Perintahku pada Debby, seperti yang menjadi kesepakatan ku dengan dokter Teddy, Debby tidak boleh tahu dulu tentang ini.
"Oh... Iya Bun, Om Tante, Debby masuk dulu." Pamit Debby, Bu Widia dan Pak Atmajaya membalasnya dengan senyuman dan Debby segera masuk meninggalkan kami.
"Debby lebih dewasa dan bertambah cantik ternyata." Kata Bu Widia setelah bertemu dengan Debby.
"Bertambah? Apa Bu Widia sudah pernah bertemu dengan Debby sebelumnya?"
"Pernah, waktu Debby tinggal di apartemen Teddy. Tapi dia tidak tau siapa saya." Jawab Bu Widia.
Setelah aku pastikan Debby masuk dan memastikan dia telah tidur lelap setelah begadang semalaman, Barulah kami kembali ke topik pembicaraan.
"Jadi, saya teruskan apa yang dikatakan oleh istri saya tadi. Kami kesini untuk melamar Debby, untuk anak kami Teddy Jika Bunda Mira berkenan." Kali ini giliran Pak Atmajaya yang bersuara untuk memperjelas lamarannya.
"Apa Bapak dan Ibu sudah tau? terutama mengenai status Debby? Dan kami bukan orang berada, Apa Bapak dan Ibu tidak akan terganggu dengan semua hal itu?" Tanyaku, aku harus memastikan semuanya, memastikan bahwa Debby tidak akan ada dalam masalah setelah ini.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π