
Aku bukan rahim cadangan
Part 180
Setelah serangkaian pemeriksaan untuk mas Doni sudah dilakukan dan infus sudah terpasang ditanganya, Alex membawa mereka ke kamar rawat.
"Bolehkan suster Debby sendiri yang mengantar?" Tanya Mas Doni. Aku pun terkejut, begitu juga dengan Alex.
"Ha? Debby?" Alex melirikku, mungkin dia bingung karena baru kali ini ada pasien yang meminta hal aneh. Alex sendiri memang tidak tahu kalau yang ada di depan kami adalah mantanku. Selama ini mereka memang jarang membahas atau bertanya soal mantanku, mereka sangat pandai dalam menjaga perasaanku.
"Saya akan meminta ijin pada bagian UGD kalau memang dibutuhkan." Sambung Mas Doni.
"Oh iya tentu saja boleh Pak, Nih Deb." putus Alex lalu memundurkan langkahnya menjauh dari Mas Doni.
"Kamu bercanda ya Lex? siapa juga yang dorong coba?" Bisikku, karena selama aku bekerja disini, hanya petugas laki- laki lah yang biasanya mengantar pasien sampai ke kamar rawat.
"Nggak usah pake brankar, pake kursi roda aja." Saran Alex.
__ADS_1
"Perutnya aja masih sakit buat gerak gimana mau duduk?" Alasanku, firasatku mengatakan bahwa mereka masih akan membahas hal pribadi setelah ini.
"Ingat Debby, motto Atmajaya Hospital, pelayanan nomor satu." Kata Alex mengingatkanku dengan suara rendah namun penuh penekanan.
"Saya kuat kok Deb pake kursi roda." Kata Mas Doni lagi.
"Biar saya saja yang dorong kursinya." Sambung papa mas doni, sepertinya mereka sudah benar- benar kompak.
"Ya udah lah Lex, sini kursinya, mana berkasnya!" Ku ambil berkas dari tangan Alex dan Alex membantu papa mas doni untuk meletakkan Mas Doni di kursi roda.
Aku pun mengalah, bagaimanapun juga pelayanan adalah nomor satu dan tidak boleh mencampurkan hal pribadi dalam pekerjaan. Mereka mengikuti langkahku menuju ruang rawat yang sudah ditentukan. Dalam perjalanan menuju kamar rawat Mas Doni, kami berlima tak banyak bicara, aku lebih memilih untuk berjalan di depan dan untuk menjaga jarak.
"Debby," panggil Mas Doni saat kami berada di dalam lift.
"Ya, apa ada keluhan?" Tanyaku, aku harus bersikap lebih profesional. Dia menggeleng, aku pun kembali mengalihkan pandanganku ke depan.
"Debby, kami ingin memohon pada kamu." Celetuk Mbak Linda.
__ADS_1
"Maaf, saya bukan Tuhan kenapa harus memohon." Jawabku tak menoleh.
Aku bersyukur Lift terbuka sebelum pembahasan semakin melebar. Kami pun segera keluar, ku bawa mereka ke ruangan VIP sesuai pesanan.
"Silahkan masuk, bisa dibaringkan!" Perintahku pada mereka, jika dengan pasien lain aku akan membantunya berbaring tapi tidak dengan Mas Doni karena menjaga jarak itu lebih baik.
"Saya harus menyerahkan data ini dulu, kalau butuh sesuatu langsung ke perawat yang bertugas." Kataku melangkah pergi.
"Debby." Panggil Mas Doni lagi.
"Maaf, saya masih banyak pekerjaan."
"Debby, setidaknya kemarilah saat pekerjaanmu selesai." Pinta mbak Linda lagi.
Aku menoleh, ku lihat mata mbak Linda sudah kembali seperti mbak Linda yang ku kenal sebelum dia memutuskan untuk menjadikan aku madunya, ketulusan, itulah yang ku lihat sekarang.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..