
Aku bukan rahim cadangan
To... Tok... Tok... Pintu diketuk, sepertinya Kevin sudah ada disana.
"Masuk!" Seruku.
Dia duduk di depanku, dengan wajah kesalnya. Mungkin karena aku sudah memarahi istri kesayangannya itu.
"Ada apa Pa?"
"Apa ini?!" Ku lempar berkas dari kantor ke arahnya.
"Apa Pa?"
"Jangan banyak bicara, baca!" Tegasku
Dengan malas dia membuka berkas yang masih tersegel dan membacanya.
"Ini cuma..."
"Jangan berkelit! Jangan mentang- mentang Papa jarang ke kantor lalu kamu seenak nya memporak porandakan keuangan kantor! Makan, minum, Papa yang tanggung. Kamu pake untuk apa uang sebanyak itu?!"
Sudah hampir satu bulan Kevin meninggalkan Kantor karena menemani Vannia, sehingga aku sendiri yang harus mengurusnya kembali. Darahku mendidih setelah ku lihat keuangan kantor terus menurun. Dana denga jumlah besar masuk ke rekening pribadi Kevin. Setelah aku cek pun, Dana di rekening Kevin sudah kosong, entah digunakan untuk apa uang sebanyak itu. Sedang aku sudah menggajinya lebih dari cukup.
"Investasi Pa, Kevin janji akan mengembalikannya berlipat- lipat." Jawabnya dengan santai.
__ADS_1
Brak...
Pyar...
Aku beranjak dari tempat duduk, ku gebrak meja yang menimbulkan secangkir kopi yang diberikan istriku sebelum ia pergi jatuh ke lantai dan pecah lalu ku angkat tanganku "Dasar Anak tidak tahu diuntung kamu!"
"Pukul Pa! Kenapa berhenti?" Tantangnya menyuguhkan pipinya di hadapanku.
Plak...
Bukan merasa bersalah tapi malah membuatku semakin marah kepadanya, ku tampar dan dia terdiam.
"Jangan kamu pikir kamu tidak ada pesaing. Mulai besok Papa sendiri yang akan urus perusahaan Papa! Kamu turun jabatan!"
"Ambil tawaran Papa, atau papa akan buang kamu ke kantor cabang di Bandung?!"
Dia hanya membuang napas panjang lalu bergegas meninggalkan ruang kerjaku, dan menutup pintu dengan kasar. Ya itulah Kevin, anak sulung ku yang tidak sedewasa Teddy, Anak bungsuku.
Ku hela napas panjang, "Maafkan Papa, Debby." Gumamku
Ku ambil ponselku, Ku hubungi Dokter Firman, aku harus memberitahunya agar kasus ini tidak bocor pada Teddy.
"Halo Pak." Terdengar suara dari seberang telepon, dokter Firman menyapaku.
"Halo dokter."
__ADS_1
"Ada apa ya Pak? Pagi- pagi menghubungi saya?"
"Dokter, saya bisa minta tolong."
"Tolong?"
"Tolong... Kasus penusukan Debby, jangan sampai terdengar oleh Teddy, dan tolong ditutup." Malu sekali rasanya meminta hal itu setelah sebelumnya aku begitu gigih untuk mengungkap kasus penusukan Debby.
"Apa? Maaf pak, itu tidak bisa, ini sudah kriminal namanya."
"Saya tau, saya benar- benar minta maaf atas tindakan Vannia." Ku rendahkan martabatku demi Vannia.
"Dokter, saya mohon, biarkan ini menjadi masalah keluarga saya. Biarlah saya yang menyelesaikan secara keluarga."
"Saya tau Vannia menantu Bapak, tapi bapak juga harus ingat, Debby adalah karyawan kami." Tegasnya, sepertinya kali ini dokter Firman mulai tersulut emosi.
πΈπΈπΈ
Tidak gampang meminta dokter Firman untuk tidak membawa kasus ini lebih jauh, apa lagi menyuruhnya untuk tidak mengatakan pada Teddy, sangat sulit. Mengingat dokter Firman termasuk orang yang jujur dan dia pun tidak tau status Debby, membuatku sulit untuk membujuknya. Setelah lama kami bernegosiasi akhirnya dia mengerti dan paham posisiku dan bersedia membantuku sebagai Ayah. Mengatakan pada Teddy sama saja menambah renggang hubungan kami, karena dokter Firman tau bahwa Teddy sangat peduli pada Debby.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..
__ADS_1