
"Dapet ni." Kata salah satu lelaki itu memegang ponsel Debby dan mencoba membukanya.
"Waduh pake kode, nggak bisa dibuka." Keluhnya.
"Yah...! terus gimana dong? mana pingsan, nggak bisa dibangunin lagi."
"Eh, tunggu bentar, kita hubungi aja kartu nama ini, tadi dia jatuhin kartu nama ini waktu beli kopi. Gue kesini tadi maksudnya mau balikin, tapi dia malah pingsan."
"Kenapa nggak bilang dari tadi oon, buruan telepon. Pokoknya kita harus bisa bikin dia pergi dari sini, gue nggak mau dipecat oleh bos, dan harus cari pekerjaan,susah tau!" Tegasnya.
"Tapi ini kayaknya kartu nama dokternya dia deh, tuh dokter Tedi Aska."
"Alah coba aja dulu siapa tau berhasil."
🥀🥀🥀
Aku segera memesan taxsi dan menuju tempat yang sudah dishare oleh karyawan cafe, Untung saja aku ingat kalau Mama paling benci sama yang namanya kecoa. Jadi, aku bisa segera pergi ke tempat keberadaan Debby.
Petir dan angin mengiringiku saat aku menuju ke tempat Debby, aku semakin khawatir padanya, Debby yang sedang diluar sana, sedangkan sebentar lagi akan turun hujan.
"Lebih cepat lagi ya Mas!" Perintahku pada supir taxsi yang tampaknya masih sebayaku, Ia pun dengan sigat menambah kecepatannya.
Setelah aku sampai di depan cafe, aku segera turun dan menemui dua laki- laki yang terlihat masih memakai seragam, sepertinya mereka adalah karyawan cafe disini.
"Mas" Sapaku, Mereka menatapku dari atas sampai kebawah. Dan ku lihat Debby masih terbaring di sana, lalu aku segera menghampirinya.
"Deb...Debby, bangun Deb." Ku tepuk pipi Debby pelan, namun ia tetap saja tidak mau membuka matanya, saat ku pegang tubuhnya sungguh sangat terasa dingin. Ku periksa denyut nadinya masih ada, Debby memang benar- benar sedang pingsan.
"Dasar, Tadi bilangnya belum punya istri, sekarang... Deb~Debby~ !" Kata salah satu laki-laki itu mengejekku, aku memilih tak menghiraukannya, saat ini aku hanya fokus pada Debby yang terlihat sangat pucat.
__ADS_1
"Debby beneran pingsan lagi, mana dingin banget cuacanya, mau hujan lagi. Nggak mungkin juga aku bawa ke rumah sakit di tengah malam begini, bisa dipikir macem- macem oleh para perawat disana nanti, aduh ribet bener Gumamku.
***
Kediaman keluarga Adijaya
"Mama dari mana saja? Kenapa larut malam gini baru pulang?" Tanya Adijaya pada istrinya yang baru saja pulang.
"biasa pa, Arisan!. sekalian Mama mampir beli sate di depan kantor kamu, katanya kemarin papa mau makan sate, nih ambil!"
"Sampai selarut inikah?"
"Iyakan antri pa tadi belinya." Jawab Bu Windi, istri Adijaya
"Papa makan aja, mama mau mandi dulu ya, udah gerah banget ni."
"Ya Nggak apa apa sih , sayangkan kalau nggak di makan mubazir," jawab Bu Windi sambil melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi.
Adijaya pun pergi ke bawah untuk mengambil piring, karena ia tau istrinya akan marah jika ia tak menuruti untuk tidak memakannya.
"Vannia, kamu tolong panasin sayurnya, papa mau makan." Kata Adijaya saat berpapasan dengan Vannia yang terlihat baru saja pulang dari aktifitasnya.
"Apa bibi nggak ada pa?" Tanya Vannia mencibikkan bibirnya.
"Bibi sudah tidur, kamu yang masih bangun." Jawanya, Adijaya memang tak begitu suka dengan Vannia, melihat Vannia yang meninggalkan Tedi hanya karena Tedi dikeluarkan dari keluarga Adijaya lalu menikahi Kevin, anak sulungnya, cukup membuat Adijaya tau bahwa Vannia wanita matrealistis.
"Vannia..."
"Kenapa? Kamu nggak bisa? Takut kuku- kuku mu itu patah dan kulit mu jadi kasar?"
__ADS_1
"Pa... Udah, biar Mama aja yang panasin, sayur nya ya? vannia, kamu baru pulang? Masuk lah dan istirahat." Sela Bu Windi yang baru saja turun dari tangga. Ia segera mengambil sate dan sayur dari tangan suaminya. Sedangkan Vannia naik ke atas menuju kamarnya.
"O ya pa, sate nya ini dari Tedi Lo Pa, dia ada di Jakarta sekarang, di rumah sakit Ayah" teriak Bu Windi dari dapur, membuat Vannia yang masih ada di tengah tangga menghentikan langkahnya "Tedi? Di Jakarta?" Gumam Vannia.
"Anak tak tau diri itu? Di Jakarta? Bahkan tidak mau menginjakkan kakinya lagi di rumah kita? Papa larang Mama menemuinya!" Kata Adijaya tegas.
"Pa... Tedi itu anak Mama, mama yang mengandungnya."
"Dia bahkan menghapus nama Adijaya dari nama belakangnya, Mama masih anggap dia anak Mama?" Tanya Adijaya dengan amarah.
"Udah Pa, makan, nggak usah bahas Tedi. Mau papa larang Mama kayak apa juga, mama akan tetap temui anak Mama, anak kesayangan Mama." Pungkas Bu Windi yang tak mau di bantah lagi.
Ada rasa yang bercampur di dalam batin Adijaya, merindukan Tedi putranya sudah pasti, namun rasa gengsinya jauh lebih mendominasinya. Mereka sama- sama keras kepala tak mudah untuk diluluhkan.
Di dalam kamar, Vannia terus terngiang akan kata- kata ibu mertuanya. Kevin yang pada saat itu sudah terlelap akhirnya terbangun karena kedatangan Vannia.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Kevin.
"Baru saja sampai Mas."
"Mau sampe kapan kamu seperti ini Vannia? Pergi pagi pulang hampir pagi lagi. Kalau seperti ini terus gimana kita mau punya momongan?" Keluh Kevin yang masih duduk di ranjang.
"Momongan lagi... momongan lagi, aku belum siap punya momongan, karier ku saat ini sedang naik- naiknya, kalau aku hamil badan ku nggak akan bisa bagus lagi." ungkap Vannia, kehidupan mereka memang tak seindah kelihatanya, Vannia yang lebih mementingkan karier model nya di banding memiliki anak, membuat mereka kerap berselisih paham.
Bu Windi dan Adijaya pun sudah sering kali mengingatkan mereka agar secepatnya melakukan program hamil, namun Vannia menolaknya, Vannia adalah seorang wanita yang memiliki ambisi untuk menjadi model sukses dan terkenal sejak masih remaja, pernikahannya dengan Kevin Adijaya pun hanyalah salah satu tujuannya adalah untuk menaikkan popularitas semata tak lebih.
🥀🥀🥀
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kata🙏🏻😊
__ADS_1