Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Aldo Ngambek


__ADS_3

Aku Buakn Rahim Cdangan


Part 74


"Debby, bantu Bunda jemur baju ndok."Kata Bnda tiba- tiba masuk ke kamarku.


"Oh iya bun" jawabku, ku lempar asal ponselku di atas ranjang, "Awas... Akan ku buat perhitungan denganmu?"gerutuku pada ponselku, bukan ponsel lebih tepatnya dokter Teddy.


🌸🌸🌸


POV Teddy


USA 10.00


"Good afternon!" ( Selamat siang!) Sapa perawat yang berpapasan denganku saat aku akan kembali ke ruanganku setelah kepala rumah sakit memanggilku.


"Good afternon!" ( Selamat Siang!) Balasku dengan sedikit tersenyum.

__ADS_1


Ku hempaskan tubuhku ke kursi, setelah aku mendapat kabar bahwa aku harus menjadi Nara sumber dalam seminar internasional yang diadakan oleh Indonesia tepatnya di jakarta. Agak mengejutkan, Memang aku biasa menjadi Nara sumber seminar yang berhubungan dengan kanker,tapi belum pernah keluar dari USA. Awalnya aku menolak tapi pihak rumah sakit tidak bisa membatalkan. Terpaksa aku menyetujuinya.


Berat rasanya harus kembali kesana setelah sakit hatiku pada seorang wanita disana. Satu Minggu mengenal Debby, tapi satu tahun aku tak mampu melupakan anak itu. Wajahnya, senyumnya, matanya, semua yang ada padanya aku menyukainya. Bahkan sikapnya yang berubah- ubah dan konyol pun membuatku merasa bahagia. Tak terasa kedua ujung bibirku tertarik dan senyuman terukir disana saat aku mengingat Debby, "Astaghfirullah... lupakan Debby Teddy" gumamku. Ku buka IG ku, untuk mengalihkan pikiranku dari Debby. Aku lihat ada sebuah komentar dari @lidia di sebuah unggahan yang kubuat tadi pagi. Unggahan tentang Tanah Airku.


@lilia [Apa kabar dokter... Ini suster Lidia]


"Suster Lidia? Bukannya dia teman Debby. "


@Atmajayasmil [Alhamdulilah saya baik-baik] balasku, rasanya tak sopan kalau harus mengabaikannya.


@atmajayasmile [oh..selamat ya suster Lidia.. Akan saya usahakan nanti.]


🌸🌸🌸


POV Debby


Setelah selesai menjemur pakaian, aku menjalankan misiku, ada rasa berdebar sebelum aku menjalankannya. Ku tulis di kolom komentar unggahan dokter Teddy. Aku harus mendapatkan informasi walau hanya sedikit. Tak peduli jika harus di kolom komentar dan bisa saja dilihat orang yang ku kenal. Tapi sayang Dokter Teddy lagi- lagi tak menjanjikan waktu kapan akan kembali ke Jakarta. Sepertinya aku harus lebih kerja keras lagi.

__ADS_1


"haduuuh..." Ku putuskan untuk berangkat lebih pagi karena aku harus mampir ke Minimarket membeli sesuatu untuk aldo, akhir- akhir ini Aldo terlihat lebih murung dari biasanya, satu tahun dia menunggu dokter Teddy dan ingin bermain bola bersama dengannya, susah payah dia berlatih tapi belum juga kesampaian untuk bermain bersama dokter Teddy, mungkin dia sudah lelah menunggu lama jadi lebih sering terlihat murung dan ngambek beberapa hari ini.


Setibanya aku di parkiran Rumah sakit.


"Debby..." Panggil seorang wanita di belakangku. Aku menoleh, ternyata ia adalah salah satu dari beberapa orang yang tak ingin aku temui. Mamanya Mas Doni.


"oh iya Tante?"


"Sayang..." Katanya menghampiriku dan memelukku, yang ada di pikiranku saat ini adalah kenapa dia bersikap seolah tak ada apa-apa. Perlahan ku lepas pelukannya dariku.


"Sayang, kapan kamu pulang ke rumah?" Deg... Aku benar- benar bingung, apa mungkin mas Doni belum berkata jujur pada mereka?


"Maaf ya Deb, Mama baru pulang dari Bandung sekarabg baru bisa menemuimu." Sambungnya, aku hanya bisa memberikan senyum terpaksa.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2