Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Harus Sampai Kapan


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


"Coba lagi dong Lex." Printahku Aliex pun mengikutinya.


Setelah beberapa kemudian.


"Di angkat nih pak." bisik Alex


"Ih... Kamu kemana aja sih Deb?" tanya Alex beralasan.


"Oh... Beli sesuatu." kata Alex yang sepertinya itu adalah jawaban Debby. Kini aku bisa sedikit lega mendengar ke adaanya.


"Ini ada pak Di..." ku letakan jari ku dibibir agar Alex dapat menghentikan bicaranya. Ku ambil handpon dari tangan Alex dan agak sedikit menjauh dari Alex agar pembicaraan ku dengan Debby tidak terdengar olehnya.


"Debby, ini saya."


"Loh, ini kamu mas? Kenapa pake handpone Alex?"


"Kamu nggak angkat telepon dari saya, kemana aja?" tanya ku


"Oh maaf mas, aku baru dari supermaket depan beli sesuatu, handponenya aku tinggal di apartemen tadi." jawabnya


"Ya udah, nggak papa. saya cuma mau bilang siapkan baju kamu dan beberapa baju saya, mulai malai mini kita akan menginap di rumah mama dan papa sampai acara resepsi kita, saya akan segera ambil cuti dan segera menemani mu supaya Vannya nggak berani ganggu kamu." Jelas ku kemudian.


"Oh, iya tadi mama suda telepon dan memberi tau ku."


"Ya udah, lain kali kalau kemana-mana jngan lupa di bawa handponenya. Assalamualaikum." tutup ku


🌸🌸🌸

__ADS_1


waktu sudah menunjukan pukul enam lewat tiga puluh malam, hari ini pekerjaan ku cukup padat. Ada banyak hal yang harus aku urus sebelum aku melakukan cuti untuk beberapa hari kedepan.


Ku lajukan kendaraan ku dengan kecepatan tinggi menuju apartemen. Tak lupa aku mampir ke rumah makan untuk membeli makan untuk makan malam ku dengan Debby.


Sesampainya aku di apartemen, ku buka pintu , ku lihat keadaan di dalam sangat legang, aku mulai merasakan cemas karena tak biasanya suasana legang di jam seperti ini. Setidaknya debby saat ini biasanya sedang menyaksikan acara kesukaanya drakor.


"Debby...sayang..." seru ku memanggilnya, namun tak ada juga jawaban darinya, rasa khawatirku pun semakin meningkat.


Ku coba membuka kamar, namun ternyata kosong, ruangan lain pun terlihat kosong "kemana" gumamku cemas.


Kembali lagi ku buka kamar dan ku buka lemari ternyata masih ada, aku menoleh ke arah sofa yang ku letakan ke arah jendela besar di kamar kami, ku lihat koper ada di sana. Ku sunggingkan senyum ku saat melihat Debby yang sedang terlelap di sofa besar itu, dengan baju yang sudah rapi, sepertinya dia sudah lama menunggu ku.


Ku ambil selimut lalu duduk di tepi sofa, bukan untuk mengusiknya namun untuk melihat keadaanya. Ku tutupi tubuhnya dengan selimut yang ku bawa. Ku pandangi wajahnya yangbterlihat sendu dan pucat "sebesar ini kah luka mu Debby?" lirihku.


Debby mengerjap saat aku mencoba untuk menghapus air mata yang masih tersisa di sudut mata.


"Mau kemana?" tanya ku


"Ke rumah mama, kata kamu kita akan menginap beberapa hari kan, ya udah keburu malam." jelasnya.


Ke belai wajahnya, kalau capek kita berangkat besok pagi aja." lembut ku.


"Aku nggak capek, ya udah yuk, nggak enak pasti mama dan papa udah nunggu." katanya seraya meraih tanganku.


"Mau sampai kapan?"


"apa?"


"Mau sampai kapan seperti ini?" tanya ku yang sudah tidak tahan dengan sikap Debby, bahkan seharusnya dia marah karena aku telah membuatnya menunggu lama dan pulang terlambat. Sikapnya yang seperti tak memiliki gairah dan terlalu pasrah membuat ku semakin tersiksa.

__ADS_1


"Seperti apa?"


Ku ambil nafas panjang lalu membuangnya perlahan.


"Saya sudah tau semuanya, kenapa harus menangis di belakang saya? Apakah rasa nyaman sudah hilang dari dirimu saat bersama dengan suami mu?"


"Maksud kamu apa sih mas?" tanyanya seraya tersenyum, senyum yang semakin membuat ku sesak.


"Debby sudah cukup, lenapa kamu nggak pernah jujur masalah tante merri? Masalah surat kabar yang sudah kamu baca? Kenapa bersikap seolah kamu tak terusik, walau sebenarnya kamu terusik. Sampai kapan kamu akan bungkam seperti ini? Jawab Debby?" tanyaku dengan nada sedikit tinggi.


Hening


Suara isak tangs itu akhirnya ku dengar, ku pejamkan mataku yang saat ini berdiri membelakangi Debby. Sepertinya aku sudah salah bersikap dan terlalu keras padanya.


"Ya karena tante meri itu bener mas, apa yang terjadi itu emang bener apa adanya. Apa yang harus aku bantah?" jelasnya, ku acak-acak rambut ku frustasi lalu berbalik mendekatinya. Tak tau lagi harus menghadapi Debby dengan cara seperti apa.


"Bawa kopermu, kita pergi."


Ku tutup perdebatan ku dengan Debby yang aku yakini tak akan ada habisnya jika di teruskan. Percuma membahas masalah dalam kondisi Debby yang masih tak enak hati, dan akan semakin memoerkeruh suasana jika tak segera mengakhirinya.


"Sini kopernya, biar saya yang bawa." ucap ku mengambil alih koper dari tangan Debby saat kami hendak turun.


"Udah, nggak usah nangis lagi, nggak enak kalau sampai mama dan papa lihat nanti." dan ku bntu Debby untuk menghapus air matanya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2