Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Khawatir


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


"Debby lebih memilih untuk diam, dan menyimpan sakit hatinya sendiri pa, Teddy meminta Debby untuk tidak membahas soal status lagi sebelumnya. Mungkin itu sebabnya Debby bungkam. Teddy juga sih yang salah." jelas ku.


"Kasihan sekali Debby, sekuat apapun kita membela Debby tetap saja sebagai manusia dia akan terluka jika terus saja di hina." kata mama kemudian, perkataan mama barusan membuat ku semakin bingung.


"kita membela? Kapan mama membela status Debby?" tanya papa, sama dengan apa yang di benak ku saat ini. Papa juga kurang paham dengan perkataan mama.


"Ema pa, teman arisan mama kemarin sempat menanyakan prihal soal status Debby waktu kita lagi fitting gaun pengantinya di tempat di butiknya marlina dan mama yakin Debby telah mendengarnya juga. Apa Debby ada cerita ada mu Ted?"


Aku mulai mengingat sikap Debby yang murung saat di butik tante marlina kemarin, dan sempat ingin mengutarakan sesuatu saat selesai fiting dia juga sempat mengatakan tidak suka berada di tempat itu. Jadi ini lah jawabanya, namun karena berbenturan dengan masalah Aldo, masalah tante meri jadwal terabaikan. Dan malah bertambah masalah sekarang, tak bisa ku bayangkan betapa sakitnya Debby saat ini.


"Debby nggak pernah cerita apa-apa ma, mungkin dia sungkan." jawabku singkat.


Papa menghela nafas panjang lalu bertanya pada ku "Apa yang sudah kamu lakukan untuk menyelesaikan semua masalah ini?"


"Ya tadi aku sudah tanya sama pihak Restonya, mungkin aku akan minta rekaman CCTV nanti.". Jawabku


"Udah gitu aja?" tanya papa


"Sementara ini itu aja yang bisa aku lakukan."


"Teddy...Teddy... Pintar dalam bidang akademik ternyata belum mampu pandai juga untuk menghadapi paparazi/ seseorang yang telah menyudutkan istrimu." sindir papa seraya tersenyum.


Ku tundukan kepala ku karena malu, sebab sebagai seorang suami aku belum mampu melindungi dan menjaga perasaan hati wanita ku.


"Acara resepsi kalian akan di gelar lusa bukan? Bawa Debby untuk menginap dirumah mulai malam ini karena acara akan di adakan di rumah kita, dan mulai besok kalian berdua tidak usah bekerja, masalah berita yang beredar itu serahkan pada papa biar papa yang urus semuanya, mereka sudah membuat Debby menantu kesayangan ku Diam dan tersakiti, kini sudah saatnya giliran papa yang akan membuat mereka semua bungkam dan merasakan akibatnya karena sudah berani bermain-main dengan keluarga Atmajaya! Ayo ma kita pergi.'' ancam papa, akhirnya papa tau juga apa yang di maksudku, seperti yang pernah dokter Firman katakan saat penangkapan di bandara waktu itu, bahwa berurusan dengan media bukanlah ke ahlian kami, kami membutuhkan papa untuk menyelesaikanya.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Usai kepergian papa dan mama, aku berusaha untuk menghubungi Debby, bermaksud untuk memberi tahukan prihal keinginan papa, awalnya aku menolak untuk menginap, tapi mama dan papa tetap bersih keras, karena itu sudah menjadi keputusan mereka. Dan Aku pun menuruti keinginan mereka.


Beberapa kali aku mencoba menghubunginya, namun Debby tak juga menjawab, aku beralih untuk menghubungi apartemen lagi-lagi tak ada juga jawaban. "Kemana Debby?" Rasa cemas itu yang ku rasakan saat ini.


Ku putuskan untuk pergi ke UGD, sebelum rapat koordinasi sarana rumah sakit akan segera di mulai.


Dengan langkah panjang aku memasuki ruang UGD yang terlihat sangat sibuk, mereka pun terdiam dan terperangah saat melihat kedatangan ku. "Lanjutkan saja pekerjaan kalian, saya cari Alex, apakah ada?"


"Saya pak" jawab Alex yang baru saja datang dari belakang.


"Sini kamu!" seru ku.


"Yang lain lanjutkan lah pekerjaanya, selamat bekerja." pesan ku sebelum meninggalkan ruangan itu.


"Alex."


"Iya pak." jawabnya dengan menunduk


"Saya bisa minta tolong?"


"Tentu saja boleh pak"


"kamu minta tukar shift sama Debby, terserah kamu apa alasanya. Yang penting hari ini Debby tidak bisa shift malam." pinta ku, aku tak bisa melakukan dan memintak hal diluar batas untuk masalah pribadi ku walau pun aku adalah pemimpin mereka. Bertukar shift agar aku bisa pulang bersama-sama dan menginap nanti malam merupakan hal yang wajar yang biasa terjadi diantara para petugas


Medis saat keadaan darurat.

__ADS_1


"Bukanya Debby mau mempersiapkan acara resepsinya pak ya?" tanyanya balik


"Maksudmu apa?"


"Debby tiba-tiba mengajukan surat untuk cuti, hari ini sampai hari resepsinya pak."


"Apa, terus siapa yang memberikan acc?"


"Pak Lukas."


Aku hanya bisa bertanya dalam hatiku "apa lagi yang akan Debby lakukan, tindakanya diluar dugaan ku. Mempersiapka acara bukankah mama yang telah melakukan itu semua sepenuhnya. Pikiran ku pun mulai tak tenang, dari sambungan telepony yang tidak di jawab dan sekarang kenyataanya cuti yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya.


"Oh ya, coba kamu telepon debby gih." pinta ku pada Alex.


"Saya pak?" Tanya alex curiga dan tak percaya.


"handpone ku low bet." sambung ku beralasan mungkin sebagian besar dari mereka sudah tau mengenai berita surat kabar yang beredar sehingga mereka pasti juga sudah tau bahwa hubungan ku dan Debby saat ini sedang tidak baik-baik saja. Berusaha untuk menutupi adalah tugas ku.


"Oh...i__iya pak, saya coba hubungi deh." nampak Alex segera mengeluarkan handpone dari sakunya lalu menghubungi Debby seperti yang aku perintahkan.


"Nggak ada jawaban pak." kekhawatiran pun semakin menyelimuti ku saat Alex mengatakan jika Debby tidak mengangkat telepon darinya. Tadinya aku kira dia marah padaku sehingga tak mau mengangkat telepon dari ku, tapi nyatanya telepon dari Alex pun tak di angkat olehnya. Sedang apa dan terjadi sesuatu atau tidak denganya saat ini, pikiran itulah yang saat ini menguasai ku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2