
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 39
POV Teddy
Hari ini merupakan hari terakhirku berada di rumah sakit ini. Alhamdulillah tak ada kendala yang berarti saat aku berada di sini. Aku temui dokter Firman dan Kakek yang kebetulan sedang ada di ruang kerjanya. Aku menunggu mereka di depan ruang kerja kakek, menunggu hingga diskusi mereka selesai. Sebenarnya mereka mengajak serta aku untuk ikut diskusi tadi pagi, namun aku sedikit terlambat karena harus mengurusi keperluan dan sarapan Debby juga tadi sebelum berangkat.
Setelah ku lihat semua peserta yang ikut berdiskusi diruangan kakek, yang terdiri dari staf rumah sakit dan beberapa dokter keluar dari ruang kerja kakek, aku segera beranjak dari duduk ku. Ku hampiri dokter Firman dan Kakek yang keluar paling belakang.
"Teddy, baru datang kamu?" Tanya kakek yang di dampingi dokter Firman tentunya.
"Iya"
"Tumben telat? Biasanya paling disiplin?" Sambung dokter Firman.
"Iya, ada sedikit urusan tadi." Jawabku.
"Akhir- akhir ini kamu banyak urusan ya Tet?" Sindir dokter Firman, ya kemarin aku juga sudah ijin datang terlambat krena harus menunggu Debby bangun dulu.
"Anak muda!" Jawabku asal.
"Saya mau pamit, besok penerbangan saya jam 9 pagi." Kataku tanpa anjang lebar.
__ADS_1
"Teddy, kakek mengadakan acara ulang tahun kakek nanti malam. Kakek harap kamu bisa menghadirinya!" Kata kakek tiba- tiba lalu meninggalkanku.
Dokter Firman menepuk pundak ku pelan lalu mengikuti langkah kakek. Aku tau dia paham dengan apa yang aku rasakan saat ini.
Saat aku terpaku melihat nanar kakek dan dokter Firman yang semakin menjau dan menghilan tiba-tiba ponselku berbunyi, pesan dari nomor yang tak ku kenal masuk. Ku buka dan ku baca.
436767Xxx [ Teddy, aku mau ketemu di cafe yang ada di dekat rumah sakit ~ Vannia ~]
"Vannia?" Gumamku aku tak membalasnya, bertemu Vannia sama saja menambah masalahku. Tapi lagi- lagi Vannnia mengirim pesan untuk yang kedua kalinya.
436767Xxx [ jika kamu nggak dateng, aku samperin kamu nanti, mereka tau siapa aku dan kamu tau akan seperti apa ]
"Astaga... Lagi-lagi masalah datang." Ku hembuskan napas kasar. Hari terakhir bukan berarti tanpa masalah, memutuskan datang ke Jakarta berarti menerima segala resiko yang harus aku hadapi. Aku bergegas menuju cafe yang dimaksud oleh Vannia. Ku lihat hanya ada beberapa orang disana. Ya, memang jam istirahat belum dimulai jadi tempat itu lumayan sepi.
Ku hampiri wanita dengan topi hitam, masker dan kacamata itu. Aku tau dia sedang menghindari paparazi dengan mengenakan semua itu. Maklum, model papan atas memang biasanya seperti itu kan. Sekarang aku duduk di depan Vannia.
"Apa? Apa yang kamu mau Vannia?" Kataku tanpa basa- basi, ku lepaskan kacamataku dan ku letakkan di meja.
"Sekarang kamu pake kacamata Teddy?" Tanyanya yang ku rasa sama sekali tidak penting dan tidak berbobot bagiku.
"Ada yang perlu dibahas selain kacamata ini? Hal yang lebih penting? Kalau nggak ada saya harus pergi, saya sedang sibuk!" Kataku yang segera beranjak dari dudukku.
"Tunggu Teddy, jangan pergi dulu. Aku mau minta maaf sama kamu! Duduklah!" Katanya, walau wajahnya tak terlihat namun dari matanya ia terlihat begitu serius. Aku pun kembali duduk di tempatku.
__ADS_1
"Maaf? Maaf untuk apa?"
"Maaf karena sudah meninggalkanmu." Jawabnya cepat.
"Hahaha... Saya bahkan sudah nggak inget kalau saya pernah punya hubungan denganmu." Jawabku.
"Teddy, nggak usah munafik, kamu masih belum bisa move on kan dariku? Aku sudah nggak butuh Kevin lagi, aku sudah bisa hidup mandiri sekarang. Kita bisa memulainya dari awal lagi, kalau perlu aku akan ikut kamu ke Jerman, kita berdua dan kita bisa berkarier disana!" Jelasnya tanpa rasa sedikit malu.
"Vannia... vannia... Ternyata kamu yang nggak bisa move on dari saya, saya sangat bersyukur karena Tuhan telah memisahkan saya dari wanita seperti kamu. Belajarlah menjadi istri yang lebih baik untuk Kevin Vannia, sebelum dia akan membuatmu menyesal!" Kataku yang tau persis sifat Kevin seperti apa.
"Bohong kamu Ted, buktinya setelah sekian lama kamu berpisah dengan ku, kamu nggak pernah punya hubungan dengan wanita-wanita lain." Tuduhnya, aku memang tak pernah memikirkan dunia percintaan tapi bukan berarti aku masih mencintai Vannia.
"Vannia! Lebih baik kamu pulang, nggak baik model terkenal seperti kamu diam- diam menemui laki- laki lain di luar!" Kataku, rasanya aku sudah tidak ingin lagi berdebat dengan Vannia, membahas hal yang bahkan sudah sangat membosankan bagiku. Ya, dulu aku sempat patah hati karenanya tapi hanya sebentar.
"Teddy, Aku akan pastikan semua orang melihat kita kalau kamu beranjak dari tempat dudukmu. Dan kamu tau sendiri akibatnya kalau itu sampai terjadi. Aku bisa saja hancur, tapi keluarga Wijaya akan jauh lebih terpuruk." Ancamnya, ku hembuskan napas kasarku dan kembali duduk di tempatku.
"Lalu kamu mau apa lagi Vannia?" Tanyaku lembut, berhadapan dengan wanita seperti Vannia tidak bisa dengan cara yang kasar, harus lebih pintar.
"Ya seperti tadi Ted, aku dan kamu ke Jerman!" Tuturnya.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1