Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Mencari Debby


__ADS_3

part 66


"Aku nggak mau Mas, di madu bukanlah pilihanku. Tapi mbak Linda, kita menikah juga karenanya. Sekarang mbak Linda tidak menginginkannya. Jadi lupakan tentang keinginanmu itu."


"Nggak akan Deb, kamu harus tetap bersamaku."


"Jangan G*la, lebih baik sekarang kamu bebaskan dokter Teddy."


"Nggak, apa yang dilakukan oleh nya memang salah, melanggar hukum! Bertugas tanpa SIP di negara orang pula."


"Dia sudah menyelamatkan rumah sakit kami, bagimu mungkin salah tapi bagi kami semua itu mulia." Jawabku mantap.


"Oke Debby. Aku hanya akan membebaskannya selama kamu mau menikah lagi dengan ku dan kita melakukan semuanya selayaknya suami istri"


Plaakkk... Lagi- lagi aku harus mengangkat tanganku untuk menyadarkan mas Doni dari ketidak tahu maluannya itu.

__ADS_1


"Jangan Mimpi kamu mas, mbak Linda lebih membutuhkanmu dari pada aku."


"Lupakan Linda, laki- laki bahkan bisa menikah lagi tanpa sepengetahuan istri pertama. Kamu cukup katakan iya dan kita bersama lagi, tunggu sampai Linda melahirkan baru kita memberi tahunya tentang pernikahan kita." Jelasnya yang begitu ringan dan tanpa beban, membuatku semakin muak dan kehilangan kesabaran.


"Egois kamu Mas!"


Di tengah perdebatanku dengan Mas Doni, ponselku bergetar, ku lihat dan ku baca nama dokter Teddy yang tertera di sana. Segera ku geser tombol hijau untuk mengangkatnya, sebelum aku mengucapkan sesuatu pada dokter Teddy, Mas Doni terlebih dulu mengambil ponsel dari tanganku.


"Jangan Ganggu kami!" Jawabnya lalu mematikan daya ponselku dan memasukkan ponsel itu ke dalam sakunya, Membuatku semakin sangat marah.


***


Aku sedang di periksa oleh pihak penyidik, dokter Firman terlihat datang dan menemui penyidik juga, tapi aku tak melihat kehadiran Debby bersamanya. "Kemana anak itu?" Batinku bertanya- tanya.


Saat ini, Aku dengan dibantu oleh dokter Firman menyelesaikan masalahku. Ya, sebelumnya aku dan dokter Firman memang sempat membahas masalah SIP sebelum aku terbang ke Indonesia. Dan dia bilang semua sudah diatur oleh Adijaya Hospital. Maka dari itu aku tak pernah merasa takut ataupun khawatir saat polisi menangkap ku.

__ADS_1


Beberapa jam kami menyelesaikan urusan kami dan akhirnya polisi membebaskan ku. Setelah kami menandatangani beberapa berkas, kami pun diperbolehkan untuk pulang.


"Maaf Pak, kalau boleh tau siapa yang melaporkan masalah ini?" Tanya dokter Firman pada petugas yang menangani kasusku.


"Maaf Pak, kalau masalah itu kami tidak bisa memberitahu, lagi pula pelapor tidak mau kalau identitasnya diketahui." Jelasnya. Dari sini timbul berbagai pertanyaan dalam diriku. Kenapa harus merahasiakan kalau tidak ada maksud tertentu? Kecurigaan kini hanya tertuju pada Papa, Kevin atau Vannia saja saat ini.


"Maaf Pak, kalau masalah itu kami tidak bisa memberitahu, lagi pula pelapor tidak mau kalau identitasnya diketahui." Jelasnya. Dari sini timbul berbagai pertanyaan dalam diriku. Kenapa harus merahasiakan kalau tidak ada maksud tertentu? Kecurigaan kini hanya tertuju pada Papa, Kevin atau Vannia saja saat ini.


Dokter Firman mengangkat bahunya dan mencebikkan bibirnya melihat ke arahku.


"Ya sudah lah dok toh saya nggak jadi di tahan." Kataku padanya yang terlihat tidak puas dengan jawaban petugas itu.


Setelah semuanya selesai, Aku dan dokter Firman segera keluar dari ruangan penyidik.


Aku masih penasaran dengan keberadaan Debby saat ini.

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2