
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 42
"Oh ya...beneran ni mbak? Tapi mbak aku..."
"Udah buruan! Anak- anak udah pada nungguin. Mau foto bersama ni! Cepetan!" Tutupnya. Ku hirup dan ku hembuskan napas panjang, dengan berat hati aku melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam gedung demi bertemu dan bisa mendapatkan tanda tangan Vannia.
Saat kaki ku memasuki gedung untuk pertama kalinya. Benar saja semua mata tertuju padaku, tak terkecuali mas Doni dan Mbak Linda yang saat ini berdiri tepat di seberangku. Aku tau, aku datang paling akhir saat acara sudah mau dimulai. Ku tahan rasa maluku, aku tak tau seperti apa wajahku sekarang. Datang terlambat, seorangdiri dan tanpa pasangan. Mata ku berkelana mencari sosok mbak Lidia. Ku sunggingkan senyumku untuk mengurangi rasa malu dan tegang. Hingga tiba- tiba sebuah tangan meraih tanganku dan aku menoleh ke arahnya, dokter Teddy dengan blazzer coklat tanpa kacamata menggandengku. Pandangannya lurus ke depan tak menoleh padaku tapi dengan percaya dirinya dia berjalan bersisian denganku dengan menggenggam erat tanganku. Semua mata tertuju pada kami terlebih saat ini dokter Teddy terlihat berbeda dan sangat mempesona.
"Apa- apaan ini dokter?" Bisikku mencoba melepaskan tangan ku dari genggamannya.
"Udah nurut aja. Kamu mau ditertawain gara- gara nggak punya pasangan?" Tanyanya sambil sesekali menyunggingkan senyum pada tamu yang melihat ke arah kami.
"Hah? Maksudnya? Simbiosis mutualisme?" Jawabku pelan.
"Hemmm... Terserah. Mending sekarang pegang tangan saya!" Perintahnya.
Ku turuti perintahnya, ku pegang erat lengan dokter Teddy. Aku tak ingin terlihat lemah Dimata Mas Doni dan mbak Linda terutama. Dan dokter Teddy? Aku tak tau, siapa sebenarnya yang ingin dia patahkan. Karena setau ku dia punya pacar.
Kami tersenyum pada setiap tamu yang kami lewati. Tak terkecuali pada Mas Doni yang terlihat tak seperti biasanya, dan mbak Linda yang terlihat tersenyum Sinin padaku. Dokter Teddy membawaku ke tempat Mbak Lidia dan teman- temanku berdiri.
"Saya ambilin kamu minum dulu." Pamitnya dan meninggalkan ku bersama mbak Lidia dan yang lainnya. Aku tau mereka pasti bertanya- tanya dan bingung. Tapi aku tak akan menjelaskannya sekarang.
"Deb? Kamu sama dokter Teddy...?" Tanya mbak Lidia.
"Apa? Bukan, anggap aja sama- sama nggak punya pasangan. Mbak juga lihat sendiri. Kalau mas Doni sama mbak Linda udah dateng bersamaan tu." Jawabku, aku memang belum menceritakan tentang perceraian ku padanya.
"Hemmm..."
__ADS_1
"Hey... mbak bilang ada Vannia adijaya, dimana?" Tanyaku.
"Tu, dari tadi juga dia lihat kamu sama dokter Teddy yang sangat begitu sweet banget."
POv Teddy
Setelah obrolanku dengan dokter Firman, akhirnya ku putuskan untuk pergi ke pesta ulang tahun kakek. Selain aku khawatir akan Debby, aku juga harus meninggalkan Jakarta tanpa mengecewakan kakekku. Segera ku pergi ke butik dan ku ambil satu jas blazzer yang warnanya senada dengan Debby, agar Vannia lebih percaya bahwa aku dan Debby memang pasangan.
"Untung aja dokter Firman tadi menunjukan foto Debby sama yang lain, jadi gampang pilih bajunya." Gumamku setelah mendapat blazzer yang ku kira sangat pas untuk menjalankan misiku.
Aku bergegas menuju tempat acara yang sudah diberitahukan oleh dokter Firman sebelumnya. Ku lihat arlojiku, waktu sudah sangat mepet. Aku turun dari taksi dan kebetulan sekali Debby sedang berjalan menuju gedung dengan langkah ragu-ragu. Dengan sigap ku raih tangannya dan ku bawa ia masuk bersamaku. Dia tampak terkejut dan heran, tapi aku harus terlihat santai. Dengan sedikit muslihat ku, akhirnya Debby menuruti permintaanku untuk bersikap mesra padaku dan menggandeng tanganku.
Disana, ku lihat Vannia yang sedang berdiri bersama keluarga Atmajaya begitu kesalnya melihatku dan semua memandangku dengan wajahnya yang binggung tak terkecuali Kakek, dokter Firman, Mama dan pegawai rumah sakit yang lain. Mungkin kalau untuk Papa dan Kevin bukan suatu hal yang aneh karena secara umum Debby memang terlihat begitu cantik hari ini dan mereka tidak tau siapa Debby.
Ku tinggalkan Debby dengan suster Lidia dan yang lain, saat aku mengambil minuman untuk Debby. Tiba- tiba Mama menemui ku.
"Iya, Ma..."
"Sini kamu! Mama mau bicara." Kata Mama menarik tanganku kasar.
Mama membawaku ke privat room dan mengunci pintunya dari dalam.
"Teddy! Bukanya perempuan tadi adalah perempuan yang malam itu?" Tanya Mama, ku anggukkan kepalaku pelan.
Plakk... Tamparan mendarat di pipiku, aku tak marah, aku tau apa maksud Mama.
"Sekalipun kamu memutuskan untuk pergi dari keluarga Adijaya, tapi kamu tetaplah anak Mama, dan mama tidak pernah mengajarimu menjadi perusak rumah tangga orang kan?" Ucap Mama padaku, begitu marahnya dia padaku, hingga tak mau melihatku dan bicara dengan memunggungi ku.
"Nggak Ma, Mama percaya deh sama Teddy, Teddy nggak mungkin kayak gitu."
__ADS_1
"Terus kamu kenapa mesra- mesra sama istri orang, di depan orang banyak? Mama nggak mau kamu di cap sebagai laki- laki perusak rumah tangga orang." Tanya Mama lebih lembut lagi.
"Mama nggak usah khawatir, percaya sama Teddy, Teddy nggak seperti itu." Jawabku, sulit bagiku jika harus mengatakan yang sejujurnya. Mengatakan status Debby disaat Debby sendiri masih menutupinya sama saja lancang. Dan mengatakan yang sebenarnya tentang tujuan kemesraan ku dengan Debby, sama saja membongkar rahasiaku pada Vannia.
"Udah Ma, kita keluar. Nggak enak, sepertinya acara juga sudah dimulai."
"Awas kalau kamu bohong!" Ancam Mama.
"Iya ma... Mama tenang aja!"
Kami kembali ke tempat acara. Mama kembali bersama keluarga Atmajaya dan aku kembali pada Debby. Begitu mengejutkan bagiku, saat ku lihat Debby sedang berbincang dengan Vannia.
"Kecolongan lagi!" Gumamku lalu segera ku hampiri Debby.
Saat ku langkahkan kaki menuju tempat Debby dan Vannia, tiba- tiba seorang laki- laki tampan menghentikan langkahku dengan berdiri tepat di depanku.
"Maaf, saya mau lewat!" Kataku yang ingin menghindari laki- laki tampan itu, mencoba mencari jalan.
"Saya mau bicara!" Katanya.
"Saya? Maaf sepertinya anda salah orang, saya nggak kenal anda." Jawabku terus menghindarinya, Saat ini bagiku yang penting adalah membawa Debby pergi dari Vannia sebelum semua berantakan.
"Berurusan dengan Debby berarti berurusan dengan saya!" Katanya yang membuatku menghentikan langkahku.
"Debby?"
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1