
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 51
POV Teddy
Ku hempaskan tubuhku ke sofa setelah ku pastikan Debby tidak meninggalkan apartemen malam ini. Ku hela napas panjang ada rasa lega karena telah mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya pada Debby. Namun ada juga rasa takut, takut akan jawaban yang akan diberikan Debby padaku nantinya.
Aku memang tak pandai dalam hal percintaan. Namun hanya Debby satu- satunya wanita yang membuat hidupku terasa lebih berguna untuk orang lain tentunya orang lain dalam bidang non medis.
Sejak dokter Firman mematahkan harapanku dengan mengatakan bahwa Debby sudah memiliki suami, ku putuskan untuk menguburkan dalam- dalam perasaanku untuk memiliki Debby. Tapi rasa itu akhir- akhir ini muncul kembali tanpa aku sadari dan tanpa ku undang. Terbesit ingatanku tentang perkataan Debby pagi tadi, Apakah ini yang dinamakan cinta tak mengenal logika?
Ke rebahkan tubuhku ke sofa, rasa kantuk kian menyiksa tapi pikiran ku terus berkelana memikirkan tentang perasaanku terhadap Debby. Ku dengar Debby membuka pintu. Aku memilih untuk pura- pura tidur dan pura- pura tidak tau, toh semua pintu sudah ku kunci dan kunci sudah ku simpan ditempat yang tidak diketahui Debby tentunya, jadi sudah aman. Debby tidak mungkin bisa keluar dari apartemen ini.
__ADS_1
Ku buka sedikit mataku, terlihat Debby sedang mengendap- endap untuk pergi ke dapur. Tak lama setelah Debby pergi ke dapur, ku dengar suara gemericik air dari dapur.
"Mau ngapain malem- malem gini Debby?" Batinku. Aku mulai khawatir. " Astaga aku melupakan sesuatu tadi kan nggak sempet makan malam di pesta." Gumamku, Aku lupa kalau di pesta tadi kita pulang sebelum acara selesai dan sebelum makan malam dimulai.
"Mau ngapain coba?" Ku hampiri Debby yang sedang di dapur, aku ingat Debby tak pandai memasak, dan aku juga lupa belum membeli Mie instan atau pun makanan ringan untuknya.
"Laper Deb?" Tanyaku mendekati Debby.
"Dokter! Ngagetin aja."
"Kuncinyakan dokter yang pegang gimana mau buka pintu kalau kurir datang nanti?"
"Astaga saya lupa, saya kan masih belum tidur. Kalau cuma buka pintu aja kan bisa." Jawabku, ku lihat Debby lagi- lagi mengambil telur dari dalam kulkas dan mencampurnya dengan daun bawang dan sayuran. Tebakanku dia pasti akan memasak omlet sayur seperti yang ku masak kemarin.
__ADS_1
"Tadi saya lihat udah merem! Nih, beli telur sama sayur dan lain- lainnya." Jawabnya menjulurkan tanganya dan memberi uang padaku, kusipitkan mataku melihat tingkahnya kali ini.
"Apaan sih Debby! Saya bukan ibu-ibu kos yang jahat." Ku tepis tangan dan uang yang Debby pegang.
"Jangan makan telur terus, nanti bisa timbul alergi." Bujukku, kuambil telur yang sudah dicampur debby dengan sayuran dari tangan Debby dan ku buang ke tempat sampah.
"Loh loh loh dok, kok dibuang? Saya sudah susah payah bikin itu dok, susah payah saya mengingat cara-cara bikinnya." Kata Debby mengomel.
"Saya buatkan yang lebih enak dari pada omlet, mending kamu duduk aja, anteng dari pada gangguin saya masak." Perintahku. Gara- gara omlet sayur tadi pagi. Debby jadi teringat dengan mantan suaminya dan aku tentu tak mau hal itu terulang kembali.
"kamu mau bakar- bakar Deb? Kebetulan tadi saya beli ayam,ikan beserta daging slice."
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π